Catatan Diri Sendiri: 2019

Aku bersyukur atas kamu dan masih menganggap kamu sebagai pencapaian terbesarku tahun ini.

Segala keterpurukan cinta-cintaan yg mampir di hidupku, ketidakstabilan emosi, tersesat soal jati diri, semua pahit-pahit perjalanan 5 tahunku membawaku ke tahun ini. Kepadamu.

Versi tidak puitis:

Hahaha. Capek ih nulis dipuitis-puitisin gitu. Belom biasa lagi.

Anyway, meskipun terdengar menggelikan, tapi gue bisa buka hati dan siap berjalan di “jalur” pacaran dg orang lain yg penuh dg ketidakpastian dan ketidaktahuan medan adalah achievement buat gue. Bolak-balik ke psikolog, punya anxiety, sampe ‘didiagnosis’ dependency issue sama 2 profesional berbeda bikin gue banyak berpikir dan belajar lagi, terutama mengenal diri sendiri.

Gue, si anak rantau circa 2011, punya dependency issue?? Gimana ceritanya sedangkan gue menjalani hidup gue 8 tahun terakhir hampir full sendirian. Sakit ya berobat sendiri, keliyengan beli makan sendiri. Jatuh engkel ya ke tukang urut sendiri, kamar banjir ya beberes sendiri, di mana dependency-nya?? Butuh waktu lumayan lama buat gue berpikir dan mengevaluasi diri sampai akhirnya gue sadar dan tiba pada kesimpulan bahwa dependency issue gue ada pada hal “sesederhana” clingy ke gebetan, tentu bukan pacar karena ku tak punya pacar hingga November lalu. HAHAHA.

Tepat setahun lalu, gue dibantu seorang kawan dan bukunya (yg sampai sekarang belum selesai gue baca padahal tinggal 40-an halaman lagi) tentang bagaimana untuk bisa jatuh cinta, being in a romantic relationship, tapi tanpa kehilangan diri sendiri dan tidak clingy. Sebuah buku yg ku rasa akhirnya jadi kitab dan harus segera ku selesaikan baca utk segera ku kembalikan kepada pemiliknya yg sah. Hahaha.

Perjalanan gue setahun 2019 ini lumayan unik, menarik, penuh intrik. Mulai dari awal tahun yg ku sambut dengan senang dan pundi-pundi cenderung penuh dan sisa-sisa kebijaksanaan pengaturan uang, berakhir dengan…emm, tetep senang sih, tapi pundi-pundi dan kebijaksanaan pengaturan uangnya menguap bersama musim kemarau panjang tahun ini. Lel. Semoga tahun depan kembali dan membaik.

To sum up my events this year:

1. Pertama kali ke luar negeri. Terdengar menyedihkan dan norak, memang. Tapi buat gue yg datang dari keluarga tidak hobi berlibur, bisa ke Singapura sendiri dengan uang sendiri, adalah sebuah achievement. Yha, Ibuk masih jadi donatur sih sebagian, tapi selebihnya pakai uang sendiri. Menyenangkan. Semoga tahun depan bisa ke negara lain.

2. Januari-Juli ku masih sering hadir dan bertandang ke gigs musik dan karaoke. Duck Down Karaoke Night, Emo Night, ADP Night, dll dsb you name it. Makin ke sini makin berkurang karena…entah memang guenya yg makin jompo atau memang event-nya yg semakin overrated sehingga semakin ramai dan tidak nyaman untukku yg menua dan lebih ingin menikmati waktu mimik-mimik khidmat tanpa party hard.

3. Menahan diri untuk tidak merayakan ulang tahun. Entah, saat itu gue pengen ngerayain 25 tahun gue dengan tenang aja gitu. Mungkin di satu sisi, khawatir nggak bakal ada yg inget juga, idk. Satu-satunya yg gue rindukan dan merasa kehilangan dari “perayaan” ulang tahun yg tenang adalah ucapan dan doa-doa baik dari teman-teman yg banyak. The more the merrier, right? Bahkan dalam konteks didoakan.

4. Pindah jalur karir. Nggak pindah perusahaan sih tahun ini, tapi pindah divisi. Setelah Januari lalu pindah (atau pecah?) departemen, pertengahan tahun ini, tepat setelah lebaran, gue pindah divisi.

5. Yang mana membawa gue kepada kejatuhan mental :”) Nggak sampai gila atau disorder sih, tapi sungguh ku tidak bahagia di awal perjalanan. Mungkin masih beradaptasi, atau simply menolak dalam hati tapi nggak punya pilihan lain. Yang jelas, awal perjalanan gue di divisi ini diisi dengan banyak sambat dan derai air mata serta meragukan dan mempertanyakan kapabilitas serta career goal diri sendiri (yang mana sebenernya masih terjadi saat ini sih, kadang-kadang).

6. “Ke Bali” yang ternyata malah cuma lelah fisik dan batin di jalan. Waktunya sungguh cuma habis buat commute dan dapet kamar yang…meh-di-Jakarta-juga-banyak.

7. Bergabung dengan sebuah tim “digital agency” kecil sebagai freelancer selama sebulan lalu tidak dibayar tapi buah pikirku untuk bagian copywriting poster dipakai dan di-publish. Alasannya: gue gak menyelesaikan tanggung jawab sampai brief ter-deliver. YA KALO GITU JANGAN PAKE WORDING BRIEF YANG GUE BIKIN DONG. Hvft. Semoga jadi tabungan pahala dan karma baik buat gue.

8. Synchronize Festival. Event Synchro pertama gue yang penuh drama yang bisa dibaca di sini. Meskipun begitu, event ini sungguh menyenangkan dan membekas di hati gue nggak sabar datang lagi di tahun depan.

9. Pertama kali nonton Sal Priadi secara khusyuk dan sudah menjelma menjadi penikmatnya. Tahun lalu gue nonton sih di Lokatara 2018, tapi saat itu nama Sal Priadi belum sebesar sekarang dan bahkan belio masih ‘diimpor’ dari Malang. Sekarang? Namanya semakin besar, menetap di Jakarta, bahkan sudah menikah. Waktu setahun ternyata lebih dari cukup untuk mengantarkan orang sampai ke tujuan baru yg bahkan sangat jauh.

10. Punya pacar. HAHAHA. Sebenernya ini rada aneh sih, tapi gue menganggap hal ini adalah salah satu achievement terbesar gue tahun ini. Bukan soal orangnya (baik dia maupun gue), tapi gue merasa, keberanian gue untuk akhirnya memutuskan pacaran dan membuka serta memberikan hati (hampir) sepenuhnya kepada satu orang adalah hasil dari kerja keras gue atas diri sendiri selama bertahun-tahun ini. Bagaimana gue berhasil dan terus belajar untuk “melepaskan diri” dari dependency issue, bagaimana gue berhasil merasa aman dan nyaman dg diri sendiri sampai akhirnya berani untuk mencoba aman dan nyaman dg orang lain, bagaimana gue berhasil berbahagia untuk diri sendiri dan tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, bagaimana gue bisa punya visi utk ngejalanin hubungan yg berorientasi pada bahagia dan berkembang bersama, bukan lagi hanya pada “ni orang harus bisa jadi “tempat sampah” gue”.

Bertemu orang ini bikin gue juga jadi acknowledge isu-isu kecil tapi penting dari diri gue. Dari dia gue belajar kalo gue masih punya trauma kalau dibentak atau kalau gue lihat dia marah/nggak nyaman akan faktor eksternal yg bukan gue. Dari dia juga gue belajar kalo ternyata gue punya refleks menghindar ketika gue lihat gestur-gestur “menyerang”, padahal niatnya bukan untuk mukul atau kekerasan. Dari dia juga gue belajar untuk menyampaikan apapun ketidaknyamanan gue, kekesalan gue, ngambeknya gue, ataupun apresiasi atas hal baik yg dia kasih/lakukan ke gue. Harapan gue, semoga perjalanan kami dewasa dan bisa mendewasakan. Amin!

Well, beberapa harapan gue buat tahun depan udah gue sampein tersebar di paragraf-paragraf atas ya. Selebihnya, yha masih nggak jauh-jauh dari peningkatan karir dan gaji, cita-cita gue untuk (masih) jadi copy/UX writer, dan yg paling penting: aman secara finansial dan melepaskan diri dari utang. Amin!

Semoga yang dicita-citakan tercapai. Semoga segala hal yg baik bisa sampai.

May 2020 be filled with more fun and joy and happiness and cuan and ofc wisdom,

Annska

Synchronize Fest 2019, Yang Pertama Yang “Kok Gini?”

Been a month!…

…since Synchronize Fest 2019. Hahaha.

Kalau sejak post terakhir-ku, udah lama biyanget lah aku aja lupa. Hvft.

Anyway, judul post ini bukan tentang komplain soal event ini tapi lebih ke sedih karena ku datang dengan kondisi fisik tidak fit alias sakit :””)

Gue mau cerita aja tentang Synchronize Fest pertama gue karena tahun lalu terpaksa harus direlakan demi outing kantor yg “siapa tahu taun depan ga bisa ikut lagi” yg ternyata jadi kenyataan karena gue pindah departemen :’) So saadd. Sebenernya tetep ada outing lagi sih, bersama departemen baru, tapi tidak se-berkesan outing tahun lalu. Ugh, kalo inget rasanya ingin sekali turn back time.

Menyambut Synchronize tahun ini tuh gue lumayan excited. Excited banget malah! Alhamdulillah dapet tiket early bird dari Maret 2019, yg pada saat itu bahkan line up-nya belum keluar. Pokoknya yaqin aja dulu. Hantam! Meskipun along the way ada beberapa kejadian nggak mengenakkan menjelang hari H, tapi Tuhan Mahabaik Pemilik Semesta dan Seisinya, dibayar lunas tuntas saat hari H tiga hari berturut-turut.

Hari pertama gue tetep ke kantor dulu karena masih hari Jumat. Bisa aja sih kalo mau cuti tapi ngapain ah, lagipula line up siang-sore nggak ada yg menarik buat gue. Sampe kantor, demam dong akika :”) Tapi kan sayang ya, udah beli tiketnya aja perjuangan, jadi ya hantam tros! Sampailah di venue dengan badan greges-greges, jajan makanan dulu lalu nonton Kunto Aji dari jauh. Pindah ke stage Ardhito Pramono, makin ndak shanggop berdiri. Akhirnya kita duduk di meja deket food truck sambil menikmati alunan sayup-sayup. Beres Ardhito, pindah ke Glenn Fredly, tentu saja masih cari tempat duduk. Niatnya mau bertahan sampai Didi Kempot tapi apa daya boyok tak mendukung. Pulanglah ke hotel lalu streaming di youtube demajors aja. Sebenernya kalo inget, hari itu gue patah hati. Ada dua laki-laki yg pernah mengisi hari (tentu bukan sebagai pacar. HAHAHA) yg sebenernya datang juga tapi mereka bersama pasangan baru masing-masing :”) Sungguh drama.

Hari kedua gue awali dengan bangun tidur langsung minum susu beruang dan madu dan suplemen penambah imun karena hari itu gue beneran pengen sehat. Soalnya jam 8 malem ada Alone at Last yg pengen banget gue tonton. Tentu gue nggak mau nonton sambil demam dong ya. Alhamdulillah sore hari badan gue lumayan membaik, nggak se-demam hari Jumat, tapi badan gue tetep linu kena angin malem. Sampai venue setelah isya, gue gabung sama grup temen gue lalu beli makan yg kemudian gue tinggal karena Alone at Last keburu naik panggung. Hahaha. Beres Alone at Last, gue ngantri beli minum yang astaga-naga-antrinya-bikin-keringetan sembari nungguin temen gue yg lain datang. Beres itu, cuma nonton Tulus selewat, Iwan Fals sekilas, sembari nungguin Oomleo Berkaraoke yg gue kira bahkan nggak jadi main. Dengan segitu banyak artis yg collab sama Oomleo, gue cuma sanggup nonton sampe Setia Band secuil lalu pulang karena badan gue udah mulai dingin minta istirahat :’)

Di hari ketiga, gue berniat sepenuh hati pokoknya hari ini harus all out! Berhubung ini adalah hari terakhir dan kemarin-kemarin gue sungguh sangat setengah-setengah, hari ketiga ini harus jadi hari yg berkesan buat gue. Liat-liat rundown, kok agak males juga ya kalo dateng dari siang. Akhirnya gue dateng sore sekitar jam 4 atau 5 sore buat nonton Coldiac, itu juga karena ini band dari Malang dan lumayan jarang main di Jakarta jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja. Yang gue bersyukur, hari terakhir ini gue ditemani seorang kawan yg nggak pengen nonton apa-apa jadi dia emang cuma nemenin gue aja dan anaknya nggak ngeluh gue ajak pindah-pindah stage. Si baik! Sempat dilanda kegalauan memilih stage yg ingin didatangi, akhirnya gue nontonin Syarikat Idola Remaja, Nasida Ria, NTRL, Clubeighties, Rocket Rockers, .feast, lalu Killing Me Inside Reunion. Dengan kondisi masih radang tenggorokan, panggung .feast tetap terlalu menarik untuk dilewatkan tanpa ikut sing along. Jadilah suaraku hilang dan makin sakit tenggorokan kalau dipake ngomong. Hahaha. Nggak apa-apa, sesekali berkorban demi memenuhi kepuasan batin.

Walaupun Killing Me Inside Reunion adalah performance terakhir di Forest Stage, beberapa stage lain masih ada yg belum selesai. Sembari mencari seorang teman yg-katanya-datang-tapi-terlalu-mabuk, gue dan kawan pindah ke Lake Stage yg masih ada The Adams manggung dan crowd-nya super rame! The Adams ini emang band klasik yg akan selalu disayang semua orang nampaknya. Selesai penampilan The Adams yg ditutup dengan ledakan confetti, gue pindah lagi cari stage yg masih ada penampil. Menuju District Stage yg menampilkan Diskopantera sebagai penampil paling terakhir di rangkaian Synchronize Fest 2019, gue ngelewatin XYZ Stage yang ternyata masih ada penampilan geng emo night. Mampirlah sebentar, menonton keriuhan penonton yg ku yakin pasti sebagian besar sudah terlalu mabuk, tetep dari belakang aja, beb. Takut kesenggol. Hahaha.

Beres emo night, gue lanjut menuju Diskopantera. Saat itu gue cuma berdua sama temen gue, terus liat-liatan bingung karena…PENUH BANGET, WEY! Temen gue nawarin utk buka jalan kalo emang mau ke tengah, ya udah karena kita cuma berdua, mari kita coba. Sampai di cukup tengah, sumpah gue bingung dan kayak orang bloon aja gitu, ngeliatin kiri-kanan isinya orang-orang joget setengah mabuk-sampai mabuk, yang bersama pacar udah peluk-pelukan dan cium-ciuman, yang sama temen sambil ketawa-tawa lepas, yang “cari mangsa” bisa juga sampe dapet nomor handphone. Semua hal yg terjadi di depan mata gue saat ini cuma gue ketawain sambil istigfar sambil liat-liatan sama temen gue sambil tetep dijogetin aja, shay~

Selesai Diskopantera, kaki gue rasanya mau copot, mulut gue udah nggak keluar suara. Hasil dari kecapekan plus masih sakit plus terlalu bersemangat sing along sepanjang malam. Kalau Synchronize tahun ini bisa diulang, gue pengen bisa datang dengan sangat sehat sih. Dan dengan temen yg lebih banyak dan lebih seru. Semoga tahun depan bisa terwujud. Amin!

Menunggu Synchronize Fest 2020 dengan excited,

Annska

Si Tukang Ngadu dan Si Tinggi Hati

What’s the point of being one of them or worse, both?

Si Tukang Ngadu, cenderung nggak bisa dicurhatin. Kamu curhat tentang A ke Si Tukang Ngadu? Yakin, ngga akan sampe seminggu kemudian si A akan tau apa yang kamu curhatin ke Si Tukang Ngadu. What brings good to them by doing this, tho?

Gue dulu termasuk tipe Si Tukang Ngadu. Inget banget dulu jaman SMP gue ‘ngebocorin’ rencana seorang teman untuk mutusin pacarnya. Kepada siapa gue ngebocorin? Yep. KE PACARNYA. Apa yg gue dapet? Gue dimusuhin si teman dan geng-nya. For the whole fuckin’ year. Bahkan mungkin sampe lulus kalau aja gue nggak pindah kota di akhir tingkat karena pekerjaan ayah. Gila. Pelajaran berharga yang harus ditelen seorang abege usia 13 tahun.

Sejauh yang bisa gue inget, gue jadi cenderung nggak peduli. Apatis aja. Bahkan gosip-gosip angkatan di kuliah gue nggak akan tau kalo nggak ada yg cerita ke gue. Nggak akan nanya dan nggak akan nyari tau. Buat apa juga nggak akan bikin IP gue semester itu jadi 4,00.

Si Tinggi Hati, cenderung nggak mau ngedeketin / nyapa orang duluan. Or worse, minta maaf. Padahal udah tau dia, mereka, yang salah. Mungkin kita emang nggak dibiasain untuk ngomong “maaf” di rumah, oleh orang tua. Apalagi kayak gue yg berasal dari keluarga Jawa sangat patriarki dan cukup konvensional. Menyampaikan pendapat aja bisa dianggap membantah. Tapi gue selalu yakin bahwa ilmu dan karakter seseorang selalu bisa dibentuk dan dipengaruhi oleh banyak faktor selain lingkungan rumah dan keluarga. Jadi, tinggal kita mau belajar dan menyerap yang baik-baik atau engga aja.

Biasanya tipe ini cenderung memandang orang lain rendah. Kompetitif, tapi dalam konteks destruktif. Gue bukan anak psikologi, I’m speaking only based on my personal experience. Nggak mau kalah sama orang lain, tapi nggak mau mengangkat dirinya sendiri. Gimana, mz mb? Mungkin emang nggak semua orang dikasih keberanian lebih untuk nyapa orang asing dan kemudian membangun percakapan, tapi mengelola hubungan dengan orang yg memang sudah teman atau “acquaintance” won’t hurt, right?

Gue rasa Tuhan menciptakan ego bukan untuk jadi destruktif ke orang lain dan bahkan diri sendiri. Kalo salah, ya akuin dan minta maaf. Apalagi kalo udah ketauan ngadu domba orang. People tell you their stories because they trust you. Even the simplest thing of keeping secret is something you cannot do, then what you can do? Menyalahkan orang lain terus-terusan won’t give us any good and bring us further in life bukan? #notetomyself

Avhath’s New EP: The Avhath Rites

Udah sebulan lebih dari pertama kali EP ini rilis di platform digital. Masih worth it dibahas ngga ya?

Masih lah!

For you who don’t know them yet. Please meet: Avhath.

Sesungguhnya gue pribadi sendiri awalnya ngga tau Avhath itu band apa? Siapa mereka? Kok bisa sampe ada yg pake kaos merchandise mereka di Semarang?

Mereka berbaik hati untuk kirim press release tentang rilisan EP terbaru mereka. Gue nggak tau mereka masuknya kategori band dari genre apa karena gue emang nggak jago mengidentifikasi genre-genrean. Tapi kalo dilihat dari artwork dan pilihan font yg mereka pake, metal-metal gitu ngga sih? Tolong kasih gue pencerahan! Gue bahkan nggak bisa bedain R&B sama Lo-fi! 😅

Jadi ceritanya, setelah 2 tahun, mereka baru ngeluarin single lagi judulnya The Annual Horrors dan ternyata respon dari khalayak pendengar cukup bagus nih. Ngga nyangkalah si Avhath teh ternyata lagunya bisa diterima dengan baik. Lalu mereka berencana untuk rilis EP mereka yang berjudul The Avhath Rites dengan didahului dengan rilis single kedua berjudul Serpentine.

Kata mereka, lagu ini dimulai dengan tekstur string yg “atmospheric” (i assume it refers to guitar sound), lebih blak-blakan dibanding single sebelumnya, dan mampu menelan siapapun yg mendengarnya. Wah, ini lagu apa supermassive black hole? Yah jadi Muse kan. Hmmm…

Gue sendiri udah coba dengerin EP ini, yang sekarang sudah tersedia di berbagai platform digital, di Spotify. Buat gue yg nggak ngerti genre ini dan jarang banget dengerin musik sejenis Avhath, The Avhath Rites masih bisa diterima dengan baik di kuping gue. Meskipun biasanya gue baru approve band setelah nonton live mereka, tapi kali ini kayaknya kebalik. Bisa jadi gue malah ngga kuat kalo dengerin mereka live karena terlalu “berisik” buat telinga gue. Tapi siapa yg tau ya kan. Mari kita coba nonton kalau mereka ada panggung lagi di Jakarta Selatan. Maaf, kalau di luar Jakarta Selatan gue udah terlalu nggak shanggop buat nyamperinnya :’)

Menurut gue, The Avhath Rites bisa jadi alternatif buat yang bosan sama genre yg udah terlalu sering didengar. Siapa tau kamu masih naro lagu Akad di playlist, coba dengerin The Annual Horrors dan Serpentine bisa jadi challenge baru. Belok tajam sesekali mah nggak apa-apa mereun. Kalo hidup lurus terus kan ngga asique.

Selamat mendengarkan!

#TibaTibaSuddenlyRekaman Efek Rumah Kaca in a Glimpse

DOR!

Sudah lama sekali dari terakhir gue menumpahkan apa yg ada di hati dan pikiran gue di sini ya? Haha. Maafkan!

Sebagai post pertama di 2019, padahal udah Februari, gue ngga mau bahas resolusi. Basi ah bahas resolusi. Lagian kalo cuma semangat di 1-3 bulan awal tahun, buat apa? Ternyata berkomitmen memang sesulit itu. Hvft.

Bahas apa ya? Apa dong? Cerita tentang minggu lalu gue di Singapur aja gitu? Atau bahas band kesayanganku yg baru si Murphy Radio? Atau cerita tentang penemuanku yg bosan sama band triple-1-lalu-2 terus ketemu Indigo Moire dan Skandal di Spotify? Atau cerita tentang #TibaTibaSuddenlyRekaman Efek Rumah Kaca beberapa minggu lalu?

Banyak yha bahannya, tapi nggak pernah ditulis. Dasar Annska pemalas! Hvft.

Bahas #TibaTibaSuddenlyRekaman Efek Rumah Kaca dulu aja kali ya.

Jadi acara ini tuh milik RURU Radio dan dibantu sama Siasat Partikelir, Kuningan City, RURU Shop, dan Kios Ojo Keos. Tiketnya awalnya dijual presale di RURU Shop di Jagakarsa dan Kios Ojo Keos di Lebak Bulus, meskipun pada akhirnya dibuka tiket on-the-spot. Acaranya berlangsung tanggal 29 Januari 2019 lalu di Kuningan City Ballroom. Tempat ini emang udah sering banget dipake acara musik sih sebenernya, kapasitasnya juga banyak.

Kebetean pertama dimulai saat mau masuk ballroom dan ternyata yg udah di dalem duluan pada lesehan. Well, secara matematis, kapaasitas ruangan ketika dipake lesehan dan berdiri tentu beda dong. Gue udah khawatir bahwa acaranya beneran lesehan, tapi kayaknya ngga mungkin karena pasti ngga cukup, tapi panggungnya pendek. Kekhawatiran gue terjawab saat acara mau mulai dan semua orang berdiri.

Acara dibuka dengan narator(? karena ada suaranya doang) muterin lagu Bohemian Rhapsody dengan lirik segede gambreng di depan kita sebagai backdrop panggung. Karena konsepnya sesungguhnya adalah karaoke berjamaah yang direkam tapi sambil mengedukasi tentang hak cipta, ya semua orang pasti nyanyi.

Beres itu, gue lupa ada siapa gitu, dari BEKRAF kalo ngga salah, cerita sebentar tentang hak cipta. Lalu dimulailah ERK mainin lagu-lagu mereka ditemani teman-teman mereka yg lain sebagai dirijen. Sebut aja Kunto Aji, Danilla, Endah n Rhesa, Polka Wars, dst. Karena seluruh acara live ini direkam dan emang balik lagi konsepnya adalah karaokean, ya semua orang pasti nyanyi dipandu lirik di backdrop panggung.

Baru beberapa lagu pertama, belakang gue udah super-annoying. Pada teriak-teriak minta duduk lagi. Yang ngeselin, yang teriak pada cowok! Well, I don’t mean to be sexist cause I know that man can be tired too. Tapi kan secara umum, Tuhan kasih stamina lebih buat laki-laki. Kalo yg perempuan aja bisa kuat dan nggak pada komplain, why should they? Semua di ballroom itu juga capek, mz. Nggak kamu dan geng kamu doang. Kzl. Untungnya Cholil langsung merespon dengan meminta maaf dan menegaskan bahwa menyaksikan mereka di situ sambil duduk lesehan nggak memungkinkan karena kapasitas ruangan emang dipasin buat standing audience. Baru pada diem.

Acara dimulai sekitar jam 20 dan masih belom beres sampe jam 23:30. E&, Cholil! Gue jam 22:30an aja udah nyerah dan keluar ballroom buat bisa lesehan sambil nunggu temen gue masih di dalem. Akhirnya gue cabut pulang sekitar jam 24 lalu hujan deras di jalan :”)

So far, acaranya menyenangkan. Seru! Pelajarannya: JANGAN BAWEL KALO MAU NONTON KONSER MAPULUHREBU. KALO MAU DUDUK, NONTON KONSER 2 JUTA AJA, MZ.

Makasih.

Rekap Akhir Tahun Ala-Ala

Desember 2018

BERASA NGGA SIH UDAH MAU TAUN BARU LAGIIII??

Terus karena semua orang bikin recap, gue jadi ikutan mau bikin recap. Pfft.

2018 ngasih apa ya? Atau apa yg gue kasih selama 2018? Coba gue inget-inget dulu *mikir

Yang jelas, 2018 ngebuka pintu karir baru dengan gue pindah kerja dan pindah bidang yg jauh bgt dari kerjaan gue sebelumnya dan latar belakang keilmuan gue selama kuliah. Happy nggak? Happy dong! Alhamdulillah. Banyak ruang belajar, ruang improvement, ruang berpikir, dst. Semoga tahun 2019 bisa ngasih ruang lebih banyak lagi buat ini. Amin!

Terus…apa lagi ya? ROI Radio kesayanganque hidup lagi! Hahaha. All hail Bapak Pandu Arjasa! Walaupun gue udah nggak bisa terlalu involved, tapi gue masih mau contribute sesekali, meskipun bahasannya nggak bisa Bandung banget karena saat ini domisili gue di Jakarta. Gue masih ada utang satu janji sama salah satu band yg hari Minggu besok manggung di Jakarta! Ok, gue harus belajar dan siap-siap dulu.

Lalu…sebenernya kalo diinget-inget, tahun ini ngasih gue banyak ruang belajar tentang kehilangan, penerimaan, dan adaptasi. Gue nggak inget sih kalo tahun-tahun sebelumnya, tapi tahun ini gue jauh lebih emosional dan “terganggu”. Dikit-dikit nggak tenang, dikit-dikit gelisah, dikit-dikit khawatir. Punya gesekan sama temen kantor, even sahabat sendiri karena berasa “ditinggal” habis dia nikah. Balik lagi, ternyata gue masih harus belajar lebih keras tentang penerimaan dan adaptasi. Pun tentang berdamai sama diri sendiri, menurunkan ego untuk mampu minta maaf duluan tanpa mempermasalahkan siapa yg salah dan siapa yg benar. SUSAH BANGET, YA SALAM! Tapi bisa kok, walaupun it took months to gather the courage :”)

Gue juga akhirnya memberanikan diri minta pendapat ke profesional soal “gue kenapa?”. Bukan secara fisik, melainkan secara psikologis. Yes, gue ke psikiater dan ke psikolog karena ternyata sama psikiater gue kurang cocok karena secara biologis & anatomi gue nggak kenapa-napa. Jadi, otak gue tuh nggak punya gangguan medis tapi gue merasa “tersesat”. Akhirnya gue coba lagi ke psikolog. ASLE GUE KELUAR DARI RUANGAN PSIKOLOG BERASA ENTENG BANGET PUNDAK! Bukan karena lalu masalah gue mendadak “poof!” lenyap gitu aja, tapi paling nggak gue tau ‘ada di mana’ dan ‘harus ngapain selanjutnya’. Kalau kata temen gue, “jadi punya kompas”. Kebayang kan kalo tersesat di hutan atau laut terus nggak punya kompas? Hehe.

Soal cinta-cintaan? Hmm…people come and go, still. No one’s stay. Ya emang karena simply nggak cocok sih. Kalo kata beberapa orang gue bm soal cowok, yha, woy, kita cari kerja, rumah, kost, apapun aja bm kan, kalo soal pasangan bm ya wajar banget ngga sih? Apalagi di fase sekarang yg inginnya pacarannya udah nggak terlalu asal-asalan, walaupun ya belom tentu nikah bulan depan juga. Lagipula ada hal-hal yg dari diri gue sendiri jg masih perlu di-improve. Jadi sembari menanti, mari kita bikin improvements!

Apa lagi ya? Kayaknya selebihnya masih mengalir apa adanya deh. Catatan penting dan cukup berkesan buat gue di tahun ini adalah tentang melepaskan. Paling nggak, rela aja dulu. Seiring waktu, semoga bisa naik jadi ikhlas.

Menurut gue pada akhirnya hidup tuh ya kayak Game of Thrones. Politik irl. Berubah allies, ganti enemies, dan bisa terjadi dalam waktu singkat. Satu lagi yg gue selalu yakin bahwa “yang patah tumbuh, yang hilang berganti.”

Semoga semakin banyak kebaikan dan sedikit drama di 2019 yang juga tahun pilpres. God bless us!

Deadline “Nikah 2018”

24 years old. Just 5 months away to being a-quarter-of-century years old. Quarter life crisis? Think i’ve “been there, done that”. But idk if there’ll be more to come.

Dari November awal, setiap weekend, instagram stories following gue isinya buanyak banget kondangan. Yang menikah pun nampaknya dari era umur beda-beda. Millennials, tentu saja. Tapi dari yg “baru” berusia 20 taun sampe udah 30++ kayanya ada semua di instagram stories orang-orang yg gue follow. Senang? Tentu saja! Iri? Hmm…ya mungkin karena udah lama sendiri kali ya, terus wondering aja, GIMANA CARANYA MEREKA BISA BERTEMU, MENEMUKAN, DAN DITEMUKAN SATU SAMA LAIN?? Hahaha.

Tapi lebih daripada itu, gue selalu merasa, “Wah gila, berani banget ya udah ngambil keputusan utk menikah.”

Menghabiskan hidup bersama dan dengan satu orang, untuk puluhan tahun ke depan, buat gue itu keputusan besar yang harus dipertimbangkan mateng-mateng, dan menyiapkan diri seutuhnya. Harus buka hati dan pikiran lebar-lebar, bersiap ngasih simpati, empati, tanggung jawab, dan kewajiban sepenuhnya. Harus bersedia berkompromi seluasnya, toleransi sebesarnya. Gue sih masih ngeri ngebayanginnya. Makanya masih single dan berbahagia dengan diri sendiri dulu aja.

Tapi asli, gue salut, SALUT BANGET, sama mereka, kalian, yg memutuskan menikah “muda”. Angkatan gue yg kelahiran 1992-1994 mungkin “emang udah waktunya aja” sesuai standar yg ditetapkan masyarakat. Tapi kalo gue pribadi, sampai tulisan ini dibuat, belum kebayang dan bisa ngeliat diri gue ada di posisi sebagai istri orang dan ibu dari seorang manusia baru. Gue masih merasa kalau gue menikah sekarang, atau dalam 3-5 bulan ke depan, gue melihat diri gue seolah masuk ke “kandang”. Padahal kan harusnya ngga gitu ya. Fixed gue belom siap. Hahaha.

Gue tergelitik ngobrolin ini karena tempo hari baca sekilas di twitter ada yg bilang kalau sejak November, tiap weekend jadi banyak banget yang nikah. Apakah pada kejar deadline “Nikah 2018”? Hahaha. Harusnya sih engga ya. Cukuplah kerjaan aja yg punya tight deadline. Soal kehidupan pribadi mah ngapain ngerepotin diri sendiri dengan pasang deadline.

Harapan tentu saja ada. Lagipula siapa sih yg hidup tanpa rencana. Se-mengalirnya hidup, gue rasa punya timeline dan titik milestone tetep harus sih. Siapa tau, teman-teman yg baru menikah emang udah waktunya ada di timeline dan milestone mereka masing-masing. Gue? Hmm…berusaha dan berdoanya lebih digiatkan dulu kali ya. Biar semua cita-cita, impian, dan harapannya segera achieved, terus bisa maju ke milestone gue berikutnya. Amin!

Anyhow, untuk yang sudah menikah, selamat berumah tangga! Semoga selalu dalam lindungan Tuhan dan berjodoh dunia-akhirat 🙂