Oktobeerfeast 2018 : Saturday Night Well Spent!

Sebagai peminum yang tidak suka mabuk, gue seneng nyobain datang ke gigs atau acara-acara berbau alkohol. Dengan kesiapan mental, batin, jiwa, dan raga tentunya. Kenapa? Nanti kamu akan mengerti. #halah

Beruntung (atau tidak?), kantor baru yang-nggak-baru-baru-banget ini memiliki banyak orang-orang yang juga suka minum. Well, sebagai medium melepas penat dan mingle aja sih. Bukan minum yang hardcore banget sampe muntah di tempat dan nggak bisa pulang. See? Ini makanya kenapa gue bilang butuh kesiapan mental, batin, jiwa, dan raga.

Beruntungnya lagi (atau masih tidak?), akhir pekan kemarin ada Oktobeerfeast. “Jakarta’s Annual Beer, Food, and Music Festival” tagline-nya. Gue tau tahun lalu ada acara ini juga tapi nggak datang. Karenaaa…tidak ada temannya.

Kebetulan juga Oktobeerfeast tahun ini ada band kesayangan yang manggung. Ya sudah, sekalian. Tanya-tanya di kantor siapa yang bersedia menemani bersenang-senang dengan free flow beer, dapetlah dua orang cewe-cewe yang asik diajak minum dan ke gigs. Baik, jadi kita bertiga ke sana.

Bertempat di Piazza, Gandaria City, selama 2 hari yaitu 28-29 Oktober 2018, acara yang diselenggarain oleh Pizza e Birra milik Ismaya ini cerdik banget memonetisasi acaranya. Mereka ngga sedia 2-Day-Pass Ticket! Karena band kesayangan manggung di hari kedua, yaudah belilah buat hari kedua. Untung rekan-rekan ini baik hati dan tidak protes walaupun line up hari pertama nampak lebih menggoda.

Gue datang “agak pagi”-an, jam 16:45 gue udah sampe Piazza. ANJIR AING NGAPAIN COBA JAM SEGITU KE ACARA MABU?! Hahaha. Ketemu si teman-teman band, ngobrol, tentu tidak ambil gelas dulu. Udah ada band yg main nih jam segini, namanya Jun-5. Lalu dilanjut oleh Eleventwelfth dan kemudian break magrib. Tentu Jun-5 dan Eleventwelfth yang nonton cuma berdelapan, atau ber-berapa gitulah gue lupa. Hahaha. Tapi tetep seru kok.

Setelah magrib baru mulai lagi acaranya. Ada games-games gitu gue lupa apa aja, lalu Bam Mastro. Karena sudah lewat magrib, mari ambil gelas. Teman-teman gue juga udah pada datang jadi bisa pada main games yang disediain, sampe gue dapet voucher Rp100k coba! Hahaha.

Beres Bam Mastro, harusnya Polka Wars. Ya emang Polka Wars sih, namun ku dan kengkawan memutuskan untuk makan dulu di luar Piazza. Balik ke Piazza, masih dapet Polka Wars sekitar 4 lagulah. Lumayan. Kelar Polka Wars, kami yang mulai jompo ini memutuskan untuk cari duduk sambil nungguin Ramengvrl.

instagram.com/theadamsband

Antara Ramengvrl dan The Adams diisi games-games nih. Karena gue berniat nonton The Adams di depan, akhirnya gue sepik-sepik nonton yang games karena mereka di deket panggung. Hahaha. Bisaan si Anns. Pas The Adams mulai, KU BAHAGIYA! Seneng banget karena udah lama nggak nonton mereka, nostalgia lagu-lagu lama mereka meskipun sembari kecipratan tumpahan bir orang dan numpahin bir di kaos orang.

Apakah setelah The Adams lalu pulang? Tunggu dulu. Masih ada Videostarr di dalem Pizza e Birra. Keseruan pun berpindah dari area Piazza. Seru nggak? SERU BANGET! Joget sambil karaoke nyanyi-nyanyi lagu yang diputerin mas-mbak Videostarr. Mingle oper-operan mikrofon buat nyanyi. Untung asik semua yang diajak joget dan nyanyi, nggak ada yang rese.

Pulang-pulang bawa apa? Bawa suara abis, sis, dan bahagiya yang bertahan (hanya) sampai ketika gue goleran di kosan baca NKCTHI. Yha~ Kalo tahun depan ada Oktobeerfeast lagi, kita ketemu di sana ya!

Advertisements

7 Coffee Shop Cantik di Jakarta Selatan untuk Hang Out sambil Foto-Foto

~Jadi, daripada tulisan ini berdebu di dalam folder draft, lebih baik daqu post saja di sini. Semoga bermanfaat!~

Terlepas dari fenomena “Anak Jaksel” yang katanya kalau ngomong campur-campur Bahasa Inggris exactly like what you’re reading right now, well, nggak bisa bohong kalo Jaksel punya pilihan tempat ngopi paling banyak. Kamu cukup datang ke satu area aja, minimal bisa nyobain kopi di tiga coffee shop berbeda. Buat kamu yang lagi cari referensi tempat hang out sambil ngopi sambil kerja atau sambil OOTD, I have some suggestions that might fit for you!

1. 1/15th Coffee – Kemang

instagram.com/115coffee

Berlokasi tepat di sebelah sebuah lembaga pendidikan, bangunan 1/15th Coffee ini memang sedikit nyempil dan mungkin akan kamu lewatkan begitu saja. Namun begitu kamu masuk ke dalam, kamu akan langsung disambut wangi kopi dan wangi makanan tumis yang enak banget. Tempat ini punya pilihan kopi yang bervariasi dan kamu harus coba Ice Mocha karena mereka pakai dark chocolate parut, bukan cokelat bubuk. Selain itu varian menu brunch di sini juga banyak, porsinya mengenyangkan, dan sehat.

2. Dia.Lo.Gue

Salah satu tempat wajib kunjung ketika kamu di Jakarta Selatan, terutama Kemang, adalah Dia.Lo.Gue. Tempat yg namanya terdengar seperti kata ganti orang pertama dan ketiga ini menyediakan berbagai pilihan menu untuk menemani waktu hang out kamu. Beberapa menu andalan di sini adalah Dialogue Pizza dan tentu saja berbagai pilihan kopi baik panas maupun dingin. Di sini juga sering ada pameran lho. Jadi jangan sampai terlewat ya!

3. Ruang Seduh

instagram.com/ruangseduh

Berlokasi di gedung yang sama dengan beberapa tenant lain, kamu bisa minum kopi enak di Ruang Seduh sambil melihat koleksi buku-buku atau bahkan sambil menunggu cucian roll film kameramu selesai. Di Ruang Seduh kamu bisa menikmati kopi dari berbagai pilihan biji kopi. Mulai dari Sweet Geulis Java Sunda Ciwidey hingga Uraga Ethiopia. Selain menikmati kopi hitam, kamu juga bisa menikmati berbagai pastry yang disediakan di sini. Tempat ini tepat buat kamu yang ingin mencoba variasi kopi murni.

4. Dikolom Coffee

Dikolom Coffee bisa jadi salah satu alternatif buat kamu yang ingin foto-foto lucu ala rooftop sambil minum kopi enak dan murah meriah. Berlokasi di Dikolom Coworking Space, Dikolom Coffee hadir di rooftop gedung ini. Signature drink di sini adalah Kopi Susu Jatuh Hati. Namun jika kamu lebih suka kopi hitam, kamu bisa coba Kopi Hitam Pakai Hati. Selain kopi, tersedia juga berbagai pilihan kue untuk menemani kamu. Untuk kamu yang tidak suka kopi, di sini juga ada varian minuman non kopi.

5. Work Coffee

instagram.com/workcoffeeindonesia

Salah satu kedai kopi yang jadi favorit untuk hang out sekaligus seru untuk dijadikan tempat foto-foto adalah Work Coffee di bilangan Antasari. Selain itu, Work Coffee juga enak untuk dijadikan tempat bekerja jika kamu sedang bosan di kantor. Salah satu menu kopi yang harus kamu coba ketika berkunjung di sini adalah varian Javanese Latte dan Salted Caramel. Tempat ini juga menyediakan main course andalan yaitu Nasi Goreng Sambal Ijo. Jika kamu hanya ingin nyemil, Garlic French Fries bisa jadi pilihan.

6. Kolo Kopi Lokal

Kedai kopi yang berlokasi di daerah Dharmawangsa ini bisa jadi pilihan untuk kamu yang ingin hang out sambil mengambil foto-foto dengan background atau tema minimalis namun manis, Ko.Lo Kopi Lokal bisa jadi tempat yang tepat. Dengan menu kopi andalannya yaitu Es Kopi Nadia, kamu sudah bisa menikmati ambience menenangkan sambil menyeruput kopi. Menu lain yang harus kamu coba di Ko.Lo Kopi Lokal adalah Es Susu Tjampolay. Selain varian kopi, di sini kamu bisa juga menikmati pilihan makanan ringan seperti Pisang Goreng Karamel.

7. Mayhaps

instagram.com/mayhaps.id

Tempat dengan nuansa putih namun tetap terkesan fancy ini punya varian kopi yang cukup banyak mulai dari latte, cappuccino, hingga Es Kopi Mayhaps. Selain menikmati kopi, kamu juga bisa menikmati berbagai macam makanan yang disuguhkan di sini. Beberapa pilihan makanan yang bisa kamu nikmati di sini antara lain berbagai pasta dan berbagai donat. Selain kopi dan makanan, untuk kamu yang menyukai dessert, Mayhaps juga menyediakan gelato dengan berbagai pilihan rasa.

Per-Tinder-an

2018 siapa yg nggak tau Tinder? Kamu? Berarti kamu kurang mengeksplorasi Google Play dan App Store, mz-mba. Hahaha.

Gue kenalan sama Tinder taun 2014, habis putus. Karena putusnya ngga enak, seorang kawan yg peduli sama gue menyarankan gue buat install Tinder. Nggak tau sih tujuan sebenarnya dia apa, tapi mungkin supaya gue teralihkan aja dan nggak  kelamaan sedih soal mantan gue.

Pertama kali gue main Tinder tuh di Bogor deh kalo nggak salah. Ya karena aplikasi ini emang bikin kita lebih duluan menilai orang lain lewat muke, ya yg mukanya rada nggak oke atau kualitas fotonya VGA Nokia ya mari kita swipe left saja ya kan. Tapi kadang kalo rajin gue suka liat sih bio-nya orang-orang sebelum memutuskan swipe. Kalo bio-nya unik, ya swipe right aja, bisa buat bahan ngobrol nanti. Hehe.

Sejujurnya gue waktu main Tinder pertama kali habis putus dan mendapatkan cukup banyak match, menyenangkan sih. Mungkin karena posisi gue saat itu habis putus, dapet banyak match bikin jadi gue ngerasa, “Oh gue nggak buruk-buruk banget kok, masih ada orang yg tertarik walaupun cuma liat foto gue aja.”

Sejak saat itu, gue pernah ketemu sama beberapa yg match di Tinder, dan masih berteman sampe sekarang. Karena waktu gue kuliah anaknya rada bolang, jadi ya teman-teman Tinder gue ada yg di Jogja, Semarang, Bogor, Depok, Jakarta. Apakah dengan gue ketemu berarti gue “ngapa-ngapain”? Ya enggak juga.

Ada stigma kuat bahwa orang main Tinder tuh cuma buat cari “temen bobok”. Well, gue nggak memungkiri sih ada aja (banyak!) yg tujuannya itu. Gue pernah juga beberapa kali match terus chatnya langsung ngomentarin badan gue di foto, atau something nastier like, “do you like sex?”. Biasanya yg begini-begini langsung gue unmatch sih. Soalnya tujuan gue bukan ituuu! Serem ugha kalo ngeladenin yg begini-begini.

Buat gue, Tinder adalah cara paling gampang buat dapet kenalan baru yg lawan jenis apalagi di kondisi gue yg kerja dan 80% hidup gue dihabiskan di kantor. Tinder adalah media paling mudah yg bisa gue pake buat dapet kenalan baru di luar circle kantor. Karena tidak sekantor, tentu saja bahan obrolannya lebih banyak. Gue punya temen Tinder yg satu selera musik, tapi anak gunung. Ada juga yg punya band, suka ke pantai. Ada juga yg fotografer profesional yg circle-nya artis-artis. Ada juga yg suka banget Persija sampe nyeritain semua tentang Jakmania ke gue. Ada juga yg lulusan S2 Singapur tapi sekarang karyawan kontrak di pemerintahan. Ada juga yg dokter. Ada juga yg arsitek, udah punya pacar, dan malah jadi rekan curhat yg baik buat masing-masing. Macem-macem lah, dengan berbagai macam latar belakang dan profesi masing-masing.

Jadi gue agak nggak setuju kalo Tinder dianggap cuma buat cari sex gratis. Balik lagi, Tinder cuma media yg gue yakin tujuannya emang buat connect new people aja walaupuunnn…ya tidak terkurasi dengan baik. Apakah gue pernah dapet pacar dari Tinder? Tentu saja…..tidak. Hahaha. Ya mungkin emang jodohnya saat ini bukan lewat situ jalannya, tapi bukan nggak mungkin. Setau gue ada kok yg ketemu di Tinder lalu pacaran bahkan sampe nikah.

Balik lagi, Tinder hanya sebuah media. Sama aja kayak pisau dan semua hal lain di dunia ini, fungsinya jadi buat apa, tergantung tujuan si pemakainya kan.

Hidup Tinder!

(((walaupun gue nggak ngerti kenapa sekarang Tinder isinya kebanyakan mas-mas tidak menarik untuk preferensi gue)))

#ReviewAlaAla : Ocean’s 8

Udah pada nonton Ocean’s 8? Jangan ketuker sama Ocean’s 11 karena tar ketauan umurnya, mz-mb. Hahaha. Ocean’s 8 yg dibintangi oleh Sandra Bullock, Cate Blanchett, Anne Hathaway, sampe Rihanna dan James Corden (ikr?) ini punya poster yg menurut gue keren. Yha pandangan gue sebagai rakyat jelata tak mengerti desain aja sih.

14-oceans-8-nocrop-w710-h2147483647

Awalnya gue nggak ngerti gitu ni film tentang apaan. Nggak nonton trailernya juga. Karena banyak yg bilang bagus, and it’s Anne Hathaway anyway, gue rasa gue harus coba nonton. Dadakan ditarik seorang kawan, akhirnya nontonlah kita di Senayan City.

Well, ternyata ceritanya tentang geng cewek kriminal yg diketuai Sandra Bullock sebagai Debbie Ocean. Ceritanya si mbak ini baru bebas bersyarat dari penjara gitu terus ada abangnya namanya Danny Ocean udah meninggal dan dia langsung ke makamnya(?) kayak dinding nisan gitu. Gue agak ngga ngerti sih ini korelasinya gimana. Terus ada 1 karakter namanya Reuben yg gue ngga ngerti dia siapa. Ocean’s butler? Messenger? Ngasih tau Debbie bahwa rencananya ngga akan berhasil. Yha. Bayk. Rencana apa gue belom mudeng.

Terus Debbie ini ketemu sama temen lamanya, si Lou, si Cate Blanchett, dan cerita soal rencana dia mau nyuri kalung berlian bekas milik Liz Taylor yg disimpen di bunker-nya Cartier. Oke. Along the way, mereka ngumpulin tim nih. Gue ngga hapal nama-namanya ya kalian tonton / googling sendiri aja boleh ya. Haha. Mulai dari fashion designer, jeweler, pickpocket, hacker, sampe penadah (atau penyelundup?).

Mulailah mereka nyusun rencana dengan make si fashion designer sebagai garda paling depan. Ngakal-ngakalin Daphne Kluger (yass! Anne Hathaway!) buat make jasanya bikinin baju buat Met Gala dikombinasiin sama si kalung ini. Kalungnya namanya Toussaint btw. Sampe punya 3D printer buat bikin tiruan Toussaint berdasarkan hasil scanned design pake kacamata. Canggih abis.

Selain ngakal-ngakalin Daphne Kluger yg ego artisnya gede banget, mereka juga ngakalin CCTV venue Met Gala, sampe ada yg nyamar buat jadi panitia Met Gala. Prepared banget pokoknya. Nonton film ini agak meng-encourage gue buat mikir, “anjir apa gue jadi maling keren gini aja ya?”. Nope. Not even in my dream. Hahahaha.

Jadi mereka mau nyuri si Toussaint itu di Met Gala, pas dipake sama Daphne Kluger, trs dituker sama si tiruannya. Seru banget pas scene di Met Gala, bikin gue deg-degan dan geregetan. Selain nyuri Toussaint, agenda si Debbie yg lain adalah balas dendam ke mantannya, Claude Becker, yg ngejebak sampe Debbie masuk penjara. Si Claude Becker ini di-set up jadi kencannya Daphne Kluger selama Met Gala.

Udah nih beres kan aksi curi-mencuri yg dilakukan 7 wanita ini dengan perannya masing-masing, gue yg emang nggak bakat jadi kriminal ini mikir, “Lah kalo si Toussaint-nya dijual berarti ketauan dong, bisa kelacak.” Ternyata, ngejualnya dipecah batu per batu, sodara-sodara! Terus ditempelin ke perhiasan lain gitu (cmiiw). Jenius! Nggak sih, gue aja yg ngga bakat jual barang curian. Hahaha.

Sampe beres aksi curi-curian ini, gue masih mikir, masa sih si Anne Hathaway cuma dapet peran begitu? Bukannya dia bagian dari geng kriminal ini ya? Ternyata…dia muncul di akhir dong. Sebagai apa dan kenapa? Tonton aja deh ya biar gue ngga spoiler semua. Hehe.

Overall, gue suka sih film ini. Seru kok. Bikin 2 jam di dalem bioskop ngga berasa. Feminis? Hmm…women empowerment sih kali ya, versi jalan tidak benar. Hahaha. Kecuali si Cate Blanchett, yg karakter Lou-nya emang kaya tomboy. Ngga tomboy sih, kalo ke Met Gala pake sequin suit itu kategorinya gimana ya? Ya gitulah pokoknya. Hahaha.

Apakah agenda bales dendam Debbie Ocean ke Claude Becker berhasil? Lalu berperan sebagai siapakah James Corden si presenter talkshow?

Mumpung masih ada di bioskop, cus buruan! Sebelum digeser Ant-Man semua. :))

Tergesa-gesa

Yo wasap! Gue pake opening line yutuber masa kini di wordpress. Biariiiinnn! Hahaha.

Anyway, selamat berpuasa! Semoga Ramadhan kali ini jadi berkah buat kita semua dan terutama diriku sendiri karena gue ngga ngerti kenapa Ramadhan taun ini gue lemah banget. Dikit-dikit sakit, sebentar-bentar lemes. Hvft.

Berhubung masih hari ke-17 puasa yg mana lebaran masih sekitar 12-13 hari lagi dan yg mana THR pun belum turun (eh ngga tau deng kalo PNS, katanya udah. Enak ya, THR cepet turun, pulang jam 14:00, PNS mah bebaaaasss!), gue mau ngobrol (walaupun satu arah, punten *salim*) soal agama.

Tenang, gue ngga akan ngajak kalian bergabung kubu kiri ataupun kanan karena apalah arti berbelok-belok, memihak, dan menyamping jika yg diridhoi Allah adalah jalan yg lurus, sobat. Pfft.

Jadi gue lagi suntuk banget, slightly sedih juga karena satu hal, jadi daripada gue kebawa sedih berlarut-larut lalu kemudian merasa diri ini tak berharga, mari kita buka twitter saja. Scroll scroll scroll, ada satu tweet bunyinya begini.

ss

Engga, gue ngga follow akun ini tapi ada following gue yg retweet. Sebelum share, gue udah kroscek kok di google, ini beneran H.R. Muslim 4918 apa bukan, hasil googling menunjukkan bahwa insyaAllah benar dan insyaAllah shahih. Amin! Karena gue ngga mau nyebar hoax atau hadits palsu, jadi kalau ini palsu atau dhoif, mohon dikoreksi ya!

Intinya gue tersentil soal ketergesa-gesaan ini. Di zaman sinting yg semua harus-kudu-wajib serba cepat ini, kadang kita emang susah banget buat sabar, buat pelan-pelan, buat berproses, yg akhirnya bikin kita jadi lebih cepet ragu, lebih cepet ngga yakin, lebih cepet ngerasa ‘ini kayanya ngga bener deh, kayanya emang bukan buat gue’, padahal mah SOKAP LAU bisa menentukan apa-apa sendiri dan buru-buru seolah-olah ngga ada kekuatan lebih besar yg bisa ngatur dan ngubah semuanya dalam sekali kedip dan sekali ucapan “Kun Fa-yakuun”.

It makes me reflect to myself sih, kayak…men, udah hampir 10 taun ini gue dikasih jalan yg nggak segampang orang-orang lain. Mulai dari milih jurusan SMA (yes, ai mau IPS tapi babeh memaksa IPA), milih jurusan kuliah, pekerjaan, sampe pacar. Ya Allah, kadang rasanya mau mati aja. Tapi apakah mati menyelesaikan masalah? Tentu tidak, sodara-sodara. Cara terbaik? Telen aja. Mau pait, mau manis, mau asem, mau getir, telen aja pokoknya. Sambil usaha yg lain dan tentu saja sambil berdoa.

Gue punya rumus yg selalu gue yakini dari jaman gue SMA :

Niat + Usaha + Doa + PMA

Masalahnyaaaa…..istiqomah teh syulid, gengs. Asli. Bukan ngga bisa, bisa, tapi sulit dan berat. Berat banget. Dari 4 hal ini aja, kalo awalnya udah ngga bener, dijamin ke belakang dan seterusnya ngga akan bener dan ngga akan dikasih bener. Niatnya kudu lurus, apapun. Contoh: lu mau macarin orang tapi karena kaya / ganteng / good in bed doang, yha siap-siap patah hati aja kalo di perjalanan pacarannya tiba-tiba mendadak jatuh cinta. Apakah ngga bisa diubah di tengah? Bisa. Bisa banget. Da Allah mah Maha Pemberi Kesempatan Kedua.

Nah kalo niatnya udah lurus, usahanya dikencengin tanpa menghalalkan cara yg haram. Lakuin segala cara boleh, asal halal dan pake basmalah. Tentu saja harus diikuti doa, kawan. Mana bisa kau kaya kalo kerja pagi pulang pagi tapi kau tak berdoa dan meminta ridho Illahi. Kayak ngegenjot sepeda tapi rodanya ngga napak, ngga akan maju.

Udah nih 3, yg terakhir lebih sulit lagi. Silakan googling soal Positive Mental Attitude ini, ada banyak banget artikel yg bisa dibaca. Intinya mah disuruh selalu berpikir positif dan yakin bahwa apapun yg sedang diikhtiarkan akan tercapai dan bisa didapetin.

MASALAHNYAAAAA….sanggup engga?

Kadang baru yakin 3 hari, terus terlintas mikir, “eh tapi masa sih? Yakin nih gue pantes dapetin ini? Kalo ternyata gue ngga dapet gimana?” Yaaaa gimana ya. Boleh sih realistis, kalau pikiran ini memang kemudian diikuti dengan usaha membuat rencana cadangan. Kalo cuma mikir gini terus terus terus sampe akhirnya lupa usaha lupa berdoa, bahkan niat awalnya aja lupa, ya gimana.

Keadaan ini diperparah sama kebiasaan manusia ngebanding-bandingin diri sama orang lain. Sepertinya ini kebiasaan manusia sini (paling tidak lingkungan sekitar gue) yg ya dari kecil teh udah terjadi, jadi sadar ngga sadar pas kita udah gede jadi kebawa. Inget gimana dulu guru atau mamah-papah ngomong, “Masa nilai matematika kamu cuma 68, si Komar aja bisa 100”, padahal ternyata anaknya teh kalo pas jam olahraga larinya kayak The Flash. *rolling eyes* Jadi mari kita memutus lingkaran setan ini, wahai calon-calon orang tua baru!

Apakah hal ini baik? Baik, KALAU si subjek terbanding bisa ngejadiin itu sebagai bahan bakar & motivasi buat improve diri. Kalau yg terjadi malah sebaliknya? Bikin depresi iya. Hvf.

My very own story, gue masuk ke jurusan yg sama sekali gue nggak pengen. Kalo ditanya kenapa masuk situ, “Soalnya studinya banyak IPS tapi tesnya nggak perlu IPC karena SMA saya dulu IPA.” As shallow as that. 4 taun berlalu, gue lulus Dengan Pujian dengan IPK nyerempet dikit dari batas bawah gelar ini. Hahaha. Cita-cita sarjana baru mah pasti langsung bisa kerja keren dong. Tapi dunia emang jahat, men. Dari sekian ribu sarjana yg wisuda bareng sama gue, paling berapa sih yg bisa langsung dapet kerja kurang dari 6 bulan ke depan dan langsung dapet jabatan mentereng? Perbandingannya kaya gede upil sama gede hidung.

Gue lulus di bulan Juli, wisuda di bulan Agustus, ijazah keluar di bulan September 2015, dan dapet kerja dengan gaji Rp2 juta/bulan di Januari 2016 di perusahaan kecil Bogor. Temen-temen gue? Ada yg udah kerja di bank swasta, BUMN, masuk management trainee perusahaan multinasional, dll dsb yg keren-keren. Sebulan kemudian gue pindah ke Jakarta, masuk salah satu bank swasta dengan status kekaryawanan pihak ketiga dengan gaji UMR Jakarta dikepret dikit. Jalan sekitar 3-6 bulan gue di kantor ini, temen-temen gue yg pas mulai dari awal aja udah keren udah pada sampe mana? YA UDAH PADA PROMOSILAH! Pada naik gaji, dapet benefit lain ina-inu. Gue? Ya nonton aja sambil mangkel. Hahaha. Lama-lama galau, nggak rela kalah dong dari mereka. Akhirnya gue usaha, berdoa, menjaga keyakinan dan kewarasan walaupun gue lebih sering kalah selama 2 tahun. Sering nangis, nyalahin keadaan, ngerasa diri ini emang bego dan nggak pantes, you name it I’ve been there. Berenti usaha dan berdoa ngga gue? Enggak. Paused, yes, but never stopped.

Sampe akhirnya gue ada di titik hari ini. Di mana gue sudah menolak dan tidak ingin lagi membanding-bandingkan diri dengan orang lain dalam konteks iri (ya walaupun karena udah kebiasaan kadang jadi auto-nyinyir dan auto-jealous, tapi gue yakin bisa diubah!), di mana gue sudah tidak ingin membiarkan hal-hal yg bikin gue sedih menguasai gue dan bikin gue merasa jadi orang paling merana dan paling tidak berharga di dunia.

Hey, gue punya Tuhan bukan? Punya Allah kan? Berdoa! Dan jangan tergesa-gesa! Kalau gue sendiri aja ngga yakin, gimana Tuhan bisa yakin kalau gue udah siap menanggung kewajiban & tanggung jawab yg lebih besar. Ya kan?

Terus sekarang berusaha dan berdoanya berenti ngga, Anns? Ya enggaklah! Jangan! Berusaha dan berdoa akan berhenti dengan sendirinya kok pas jatah hidup di dunia udah selesai. Sebelum saat itu datang, harus dimanfaatin semaksimal mungkin dong. Apalagi sedang Bulan Ramadhan gini kan.

Eh btw, monmaap ini ternyata jadi panjang banget. Wkwk. Ya kalo cape bacanya nggak apa-apa, dicicil aja. Kekeke. Semoga bermanfaat dan bisa jadi kebaikan ya. Pokoknya nggak boleh capek buat selalu yakin dan berdoa! Psst, sejam lagi maghrib!

Faithfully,

annskaa

Bandung, 28-29 April 2018

Setelah terakhir kali gue ke Bandung pas natal 2017, akhirnya gue ke Bandung lagi dengan keadaan yg sangat berbeda. Gue udah berubah status pekerjaan tapi status perjombloan ya masih gitu-gitu aja. Pfft. Eh tapi yg berbeda lagi adalah status sahabat gue, Gita, yg sekarang sudah berbadan dua. Hahaha. Sehat selalu ya, Gits!

Anyway, gue ke Bandung bukan dalam rangka jalan-jalan dan sekedar main melepas penat melainkan buat datang ke Kampoeng Jazz. Gue mau datang karena apa? Karena ada Diskoria. Se-ce-tek i-tu. Gue diajakin siapa? Tentu saja teman se-per-gigs-an dari jaman cupu, Bapak Seno. Kenapa dia mau ke Kampoeng Jazz? Karena ada Maliq & d’essentials. Wahahaha. Sobat cetek, dasar. Padahal dua-duanya sama-sama sering manggung di Jakarta.

Kita ngerencanain ini dari Desember 2017. Padahal pada saat itu gue belom tau apakah Aprl 2018 ini gue masih kerja di Jakarta apa engga. Pokoknya mah hajar niat dulu aja. Pertimbangan yg bikin gue setuju ke Kampoeng Jazz adalah acaranya di UNPAD DU, jadi sembari reminiscing good old memories aja meskipun ngga se-komplit pake ngerasain naik Damri Nangor-DU yg sekarang sudah delapan ribu rupiah. Hahaha.

Gue sampe Bandung hari Sabtu jam 14:30, ngaret sejam dari yg seharusnya karena keretanya ngga tau kenapa melambat banget mulai dari Stasiun Cikadongdong yg mana masih jauh sebelum Padalarang. Yg harusnya Cikadongdong-Bandung sejam, jadi dua jam. I didn’t know why and I didn’t care. Kesel sih, tapi ya gimana, mending ay tinggal tidur. Untung pesen kelas eksekutif dan sepi jadi bisa brutal ngelurusin kaki. Wkwk.

Sampe hotel gue langsung rebahan ngelurusin punggung. Gue nginep di Dbest Hotel Sofia Dago, deket banget sama UNPAD DU, bisa jalan kaki. Sengaja nyari yg deket biar ga rivet. Begitu Seno datang, gue langsung dandan dan cus ke Nasi Goreng Mafia DU. Ini comfort food banget sih, walaupun kalo rame kudu sabar dari ujung kaki sampe ubun-ubun karena akan lama sekaleee. Lagipula nggak tau kenapa Nasgor Mafia mah paling enak emang cuma di DU…dan paling murah. Mungkin karena pusatnya ya. Yakuza pake telor ceplok setengah mateng udah terbaik sih! Nggak usah pesen level kelewat pedes agar supaya masih bisa dimakan dan nggak sakit perut di Kampoeng Jazz.

Mau masuk Kampoeng Jazz, antrinya udah kek dulu ngantri BLT kalo ada yg masih inget BLT. Hahaha. Tapi alhamdulillah tertib. Terima kasih panitia yg tak bosan-bosan teriak-teriak sepanjang antrian buat ngingetin bahwa barisan cowok dan cewek dipisah. Gue sama Seno otomatis kepisah dan dia masuk duluan karena entah kenapa antrian ceweknya emang panjang banget. Apakah ini membuktikan bahwa perempuan di dunia memang lebih banyak daripada laki-laki? Untungnya sepanjang ngantri gue punya hiburan sih, mengamati yg pada pacaran terpisah barisan. WAHAHAHAHA. Emang dasar ekeu jomblo jahat. Tapi gue juga gemes sih, soalnya cowok-cowoknya pada berat gitu kepisah sama ceweknya. Well, mari berasumsi bahwa setidaknya masih ada cowok bertanggung jawab yg khawatir sama pasangannya. Uuu~ Semoga ku segera dipertemukan dengan milikku yg seperti itu kelak. Amin!

Baru bisa masuk ke dalem saat petang, langit mulai menggelap, dan panggung-panggung istirahat maghrib. Yha, bayk. Akhirnya gue memutuskan utk keliling dan nyangkut di tenda Niion karena ketemu kawan lama seperjuangan di sebuah webzine zaman dahulu kala. Hahaha. Selesai maghriban, gue ke main stage untuk nonton Mbak Raisa. Ya gimana ya, gue bukan die hard fan belio tapi kalo ada ya ditonton aja dinikmati. Toh lagu-lagunya familiar dan mbaknya cakep ngetz!

Kelar Raisa, gue pindah ke second stage buat nungguin Diskoria. Nonton Diskoria tuh selalu kaya pelepas dahaga. Rasanya kaya minum mijon habis keliling panas-panas buat citywalk. Walaupun hanya dapet sebentar dan beberapa lagu, yaudah jogetin aja, shay! Gue mah cuek ya, namanya nonton “disko” masa anteng. Ternyata oh ternyata, ke-tidak bisa diam-an gue dimanfaatkan oleh segerombolan geng di belakang yg kayanya ngejadiin gue bahan jogetan. Jadi ada satu cowo dari gerombolan itu yg jogetnya dipepetin ke bokong dan punggung gue. Terus temen-temennya, yg ada ceweknya juga nih monmaap, malah ketawa-tawa. Pas gue ngeh, eh pas lagunya abis. Padahal nih ya, kalo dia begitu lagi, mau gue gep-in terus gue tantang aja balik badan. Berani ga doi jogetin mepet ke muka dan dada gue? Hvft.

Nggak sampe kelar Diskoria, gue nemenin Seno balik lagi ke main stage buat nonton D’essentials of Groove. Tandem Maliq & d’essentials dan The Groove ceritanya. Cuma karena The Groove kelamaan vakum nih kemaren-kemaren, crowd-nya jadi ngga begitu asik pas mereka main. Maaf ya! Kami lebih familiar dengan Angga dan Indah! Pas Maliq main, baru deh rame.

Nah tapi ada yg gue bete di sini. Bisa nggak sih, teruntuk khalayak yg udah bayar tiket mahal-mahal buat nonton konser/pensi/gigs, ITU HEMPON DISIMPEN DULU??! Yha boleh kalo mau stories, boleh kalo mau chat sama orang buat janjian misal, tapi tolong pertimbangkan orang-orang lain yg ada di crowd. Pertama, pandangan ke arah panggung kealingan hempon lo. Kedua, ni monmaap orang kalo nonton konser pengennya joget ya kan, nanti kalo nyenggol situ terus hempon situ jatoh kite yg salah nih? Kalo lu mau chattingan mah mending minggir dah jangan di tengah-tengah crowd yg mau pada nonton band.

Beres Kampoeng Jazz, badan remek tapi teteup menyempatkan (memaksakan?) diri buat nemuin bapak mantan Editor in Chief ROI Radio yg sekarang jadi petani. Laaahhh, saya yg Sarjana Pertanian dia yg bertani. Hahaha. Seru banget catch up segala hal setelah…2 taun? 3 taun? Mayan ye, lama.

Balik ke hotel jam 2:30 pagi, baru bisa tidur sejam kemudian, dan disambut radang tenggorokan pas kebangun jam 7:30 pagi. Bhayykkk. Terima kasih semesta, telah mengingatkanku betapa bahayanya berlebihan merokok dan berlebihan memforsir diri. Seharian lemes sampe buka tutup botol minum baru yg masih segel aja ndak shanggop, tapi tetap menjalani perjalanan jalan kaki sepanjang Dago dan Pasir Kaliki-Stasiun Bandung karena nggak ada opsi lain yg lebih baik selain jalan kaki. Lalu menyesal kenapa nggak beli tiket kereta eksekutif buat balik Jakarta padahal selisih Rp20.000,- doang. Yha mana gue tau kalo gue bakal sakit yha.

Sebenernya jalan-jalan ke Bandung ngga akan pernah puas sih. Perasaannya ngga akan pernah bisa sama kaya waktu dulu gue masih kuliah yg bisa mengarungi Bandung sana-sini pake motor sendiri dengan waktu yg longgar dan budget yg lebih minim. Paling enggak, perjalanan kali ini bikin gue sedikit melepas rindu dan mengenang masa-masa kuliah dulu. Dipati Ukur nggak banyak berubah, Nasi Goreng Mafia masih di situ, Graha Sanusi juga masih jadi tempat wisuda adik-adik angkatan gue di UNPAD. Yang berubah cuma walikota dan gubernurnya bentar lagi ganti.

13 Mei 2018

Di sela-sela insomnia,

annskaa

Songs That Constantly Make Me Feel Like Gold and Trash

Samlekum!

Annskaa strikes back!

Halah.

Well, gue baru menjalani hidup baru yg alhamdulillah sangat gue syukuri. Semoga langgeng… ((kek nikah yha)) Hidup gue sekarang makin nggak bisa jauh dari musik karena kantor gue open office dan nggak terlalu kaku dan pekerjaan gue individual banget yg ya the best way to get it done adalah dikerjain sambil dengerin lagu pake earphone.

Sebenernya ini udah gue rasain dari lama sih, tapi kali ini aja direkap. Lumayan lho, buat referensi kalian yg baca juga kalo bosen sama playlist Top 50-nya Spotify yg lama banget gantinya. Btw, list di bawah ini kalian harus baca dan meresapi liriknya sih. I won’t provide it cause I know y’all can use Google.

Cus, langsung!

Songs That Constantly Make Me Feel Like In Love

#1 : The Dangerous Summer – Where I Want To Be

Ini gong banget sih! Lagu lama tapi warming my heart everytime this song plays.

#2 : eleventwelfth – your head as my favorite bookstore

Lokal punya nih! Katanya sih sebenernya lagu ini soal petuah orang tua ke anaknya. But still, this song warms my heart.

#3 : Clean Bandit ft Jess Glyne – Rather Be

Ini theme song gue pas putus 4 taun lalu! Hahaha. Nggak papa kan, biar semangat dan optimis bahwa kelak akan ada orang yg when I am with you there’s no place I’d rather be.

#4 : S.A.L – The Best Part of Writing A Song is To Name It

Wah ini lagu dari jaman gue SMA kelas 10-11an sih. S.A.L emang paling terbaik bikin lagu yg judulnya nggak nyambung sama liriknya. But still, they’re my favorite December.

#5 : S.A.L – Pandora’s Eyes

Well, let’s sail into infinity! Cause you’re always living in my heart and I will carve it underneath. Btw, this is their latest version from their latest album.

 

#6 : Paramore – Misery Business

Ini agak nyerempet-nyerempet sih, agak nggak nyambung tapi seru aja. Lebih ke triumph kali ya perasaannya.

Eh tapi namanya hidup kan Yin and Yang nih, nggak bisa putih terus. Jadi here I present you songs that sad enough but won’t make you feel like you want to cut your vein off. Instead, you have to move on and continue life.

Songs That Constantly Make Me Feel Like In A Brokenhearted and Have to Move On State

#1 : Like Pacific – Distant

Lagu ini sedih sih, tapi marah. Gimana ya? Dengerin aja deh. Hahaha.

#2 : Transit – The Only One

INI LAGU SEDIH BANGET! Siapa yg suka menerima kenyataan that I’m not the only one? Jangan dibayangin kaya lagu Sam Smith tapiii.

#3 : S.A.L – Tower of Light

Nah kalo ini lagu yg menjaga mood dan harapan gue waktu gue lagi hancur-hancurnya habis putus sama mantan. Iya, gue dulu se-brokenhearted itu. Tapi ya, let it become history like it was all written to be another lesson.

#4 : S.A.L – Delorean Case

Lagu ini nemenin gue dari umur 18 tauuuuunnnn! Dan masih bisa jadi theme song sampe sekarang.

I’m not promoting S.A.L ya karena lagu-lagu mereka banyak yg masuk di sini. Tapi beneran deh, lagu-lagu mereka tuh lengkap banget mulai dari mood jatuh cinta, romantis, sedih, pengen move on, sampe marah.

Btw, itu ada yg gue upload di soundcloud karena…bok, kaga ada di youtube. Huhuu. Kalo mau beli albumnya cus boleh langsung tanya ke sini.

Selamat mendengarkan!