Coretan #1

Sabtu, 5 Februari 2012, di salah satu gedung resepsi…

“Ta….” Adel menyikutku sambil mengarahkan dagunya ke arah seorang lelaki.

Aku mengarahkan pandangan mengikuti arah dagunya. Terkesiap, aku berbalik kembali menatap Adel sambil melotot. Mataku seolah bicara, “Him? Are you sure?!

Adel mengangguk sambil menghela nafas.

Yang aku lihat saat mengikuti pandangan Adel adalah seorang laki-laki. Mengenakan kemeja hitam polos lengan panjang, celana jins, dan sepatu pantofel. Sederhana, tapi rapi dan gagah. Laki-laki itu adalah Narendra. Pacar Adel enam bulan yang lalu dan sekarang berstatus mantan.

Di tengah hiruk pikuk orang-orang berpakaian batik dan gaun, Narendra tetap menonjol. Tak hanya karena pakaiannya yang sederhana, tetapi juga tingginya yang menjulang melebihi rata-rata orang di ruangan ini.

Aku masih memerhatikannya dari atas sampai bawah. Plus, memerhatikan sekelilingnya. Yang pertama aku cari adalah, perempuan mana yang digandengnya saat ini? Dan perhatianku menghasilkan nol jawaban. Narendra tidak menggandeng perempuan manapun. Perempuan-perempuan di sekelilingnya merupakan teman-teman kantornya. Sama dengan mempelai wanita di pelaminan ruangan ini.

“Dia ngga gandeng cewe, Del. Belom move on?” tanyaku.

Adel hanya menjawab dengan bahu yang diangkat dan kemudian melipir ke meja hidangan. Aku mengikutinya sambil masih terheran-heran. Masa iya sih, seorang Narendra, yang (setahuku) “cassanova”, hobi tebar pesona pada perempuan, belum punya pacar lagi?

“Gue udah ngga pernah kontak apa-apa sama dia. Jangan tanya gue lah kenapa dia ngga gandeng cewe. Cewenya lagi sakit kali makanya ngga bisa ikut. Mungkin. Siapa yang tau kan? Lo kepo? Sana tanya langsung aja, samperin. Kali aja lo dapet kenalan temen cowonya kan. Banyak yang kece noh,” kata Adel sambil memegang piring puding.

Yaampun kebiasaan nih, Miss Nyerocos, pikirku. “Yakin? Yaudah gue samperin. Kangen juga gue ditraktir kopi sm tiramisu sama dia.”

“Iya, partner-in-crime lo kan,” kata Adel sambil menyuap puding ke mulutnya.

“Jangan jealous gitu kaliii,” tanggapku sambil menowelnya.

Aku berjalan ke arah Narendra yang sedang membelakangiku. Aku mencolek punggungnya dan dia berbalik dengan wajah heran. Aku tersenyum sambil melambaikan tangan, “Halo.”

“Eh, Dirta! Ya ampun ngapain lo di sini? Sama siapa?” tanyanya sumringah.

Aku tertawa kecil, “Excited banget lo ngeliat gue? Kangen? Hahaha. Gue sama Adel noh. Adel kan temen SMPnya mempelai cowo. Lupa gue namanya. Haha. Apa kabar lo? Moved on already?

“Yaelaaaah masih aja bahasannya. Hahaha. Baik, baik. Move on? I’m moving on! Kalo gue ga move on gue ga akan di sini,” jawabnya sambil menyeringai.

“Duh gue ngga paham. Tapi yasudahlah yaa. Hahaha. I’m glad to see you! Cewe lo mana? Kenalin dong,” pintaku sambil mengedipkan sebelah mata.

“Ngga ada, Ta. Belom mikirlah,” jawabnya sambil tersenyum.

“Oh oke baiklah. Kapan kita ngopi lagi? Kangen nih ditraktir lo.”

“Oh jadi lo nyamperin gue cuma buat minta traktir ngopi? Pertemanan kita cuma sekedar traktiran kopi? Okeee!”

“Ndra, itu lebay.”

Aku dan Narendra tergelak bersama.

Aku kembali ke Adel dan melaporkan semua obrolanku dengan Narendra. Termasuk rencana janjian kami untuk bertemu lagi di salah satu coffeeshop. “Join us?” tawarku.

Adel menolak dengan macam-macam alasan. Alasan utamanya yang bisa aku tangkap adalah dia masih belum bisa melupakan insiden putusnya mereka.

***

Rabu malam, di salah satu coffeeshop

Aku dan Narendra bertemu dan bercerita banyak hal. Cukup lama tidak bertemu membuat banyak sekali bahasan yang keluar dari mulut kami. Gelak tawa dan ledekan mengisi hampir keseluruhan percakapan kami.

Sedikit banyak, aku merindukan saat-saat bersama Narendra. Kalau Adel bilang aku dan Narendra adalah partner-in-crime, bisa jadi. Karena kami memang sering sekali membuat kekonyolan bersama. Salah satu yang masih sangat aku ingat adalah ketika kami masih SMA. Kami menyebar gosip bahwa kami berpacaran. Bersikap pura-pura mesra di depan teman sekelas. Dan pulang bersama. Padahal sampai di mobil kami tertawa sambil membahas ekspresi anak-anak kelas yang heran dan akhirnya yakin bahwa kami berpacaran.

Miss the old times, huh?” tanya Narendra.

Aku mengangguk sambil mengelap air mata yang turun karena terlalu banyak tertawa.

***

Selasa pagi, 8 bulan kemudian…

“Ta! Lo harus jelasin maksud dari undangan yang nyampe di rumah gue tadi pagi! Apaan nih? Lo ngga pernah cerita apa-apa sama gue dan tiba-tiba lo mau nikah? Hari Minggu ini? Sama Narendra pula!” Adel bicara padaku di telepon dengan nada tinggi.

Sepertinya dia murka.

“Lo marah ya? Duh maaf ya, Del. Lo inget ga pas kita ketemu Narendra di nikahan? Habis itu kan gue ngopi bareng dia, dan setelah itu selalu ada ngopi-ngopi yang lain. Ngga sadar kita jadi tambah deket terus…”

Belum selesai aku bicara, Adel memotong, “Kapan pacarannya? Udah berapa lama sampe hari ini?”

Aku terkesiap. Astaga, ngomongnya dingin gitu. Kayanya Adel marah banget. Mati gue, pikirku.

“Kita ngga pernah pacaran, Del. Ngalir gitu aja. Gue pikir gue sama Narendra deket cuma sebagai sahabat. Tapi di satu titik, sebulan yang lalu, dia ngajak gue ngomong serius dan dia bilang kalo dia suka sama gue. Gue bilang gue juga kayanya suka sama dia. Saat itu gue belom yakin, Del. Gue ngga yakin gue suka dia apa engga. Tapi dia ngomong gitu ngga sambil nembak, Del. Dia langsung ngelamar gue. Gue speechless waktu itu. Tapi gue liat dia ngelakuinnya dengan yakin. Sorot mata, gesture, dan nada bicaranya mantap waktu ngelamar gue,” jawabku.

“Terus lo terima?”

“Gue ngomong dulu ke orang tua gue. Dan mereka bilang terima aja. Orang tua gue dan orang tua dia juga udah saling kenal, soalnya mereka rekan bisnis. Gue ngga tau kalo orang tua kita rekanan bisnis. Setelah gue pertimbangin, gue jujur ke diri gue sendiri, ternyata emang gue suka sama Narendra. Bahkan dari SMA, Del. Maaf gue ngga jujur dan ngga cerita sama lo. Setelah gue sadar, ternyata selama ini gue selalu nyangkal ke diri sendiri kalo gue suka sama Narendra. Tapi momen ngopi abis nikahan temen lo kemaren itu jadi kaya titik balik.”

Aku mendengar Adel menghela nafas di telepon dan mulai berbicara dengan nada lembut, “Jadi waktu gue jadian sama Narendra dulu, sebenenya lo terluka?”

“Ngga sampe terluka sih, Del. Cuma jealous sedikit. Mikir kenapa lo dan kenapa bukan gue? Haha. Tapi serius sebatas itu. Lo marah ya, Del? Duh, maaf ya. Maaf banget gue ngga ngomong. Gue bingung mau ngomong dan ceritanya gimana. Soalnya selama ini emang gue sm Narendra ngga pernah ada apa-apa dan ngga pernah ada yang gue sembunyiin kan dari lo. Lo juga selalu tau kalo pas gue ngopi atau ketemu sama dia. Maaf, Del.”

Aku mengungkapkan permintaan maaf dan rasa bersalahku. Setelahnya, aku pasrah. Aku tak tahu bagaimana sikap Adel setelah ini.

Keheningan terjadi cukup lama di telepon. Waktu menunjukkan pukul 6:48 dan aku mulai gelisah. Aku harus ke kantor. Tidakkah Adel juga harus ke kantor?

“Yaudah! Gue ngga marah kok sama lo. Lagian gue juga udah putus lama sama Narendra. Yah, anggep aja ini momen gue baikan sama dia. Ngga mungkin kan gue musuhan sama suami sahabat gue? Hehe. Happy married ya, Dirtaku sayaaaang. Selamat menikah. Sakinah, mawaddah, warrahmah. Muah muah! Pokoknya malem ini lo harus bikin something to celebrate your end of ‘singleness’. Hahaha,” Adel berbicara santai dan kemudian tertawa jahat dengan keras.

“Apaan coba ‘singleness’? Haha. Puas banget ya ketawa lo, bilang aja mau gue traktir. Oke, nanti malem pajamas party deh di rumah gue. Nanti pulang kantor gue beli pizza, snack, dan lain-lain! Hahaha.”

“Nggak! Lo mau nikah ga boleh makan aneh-aneh, ntar gendut tauk. Kita ngemil oats cookies aja. Oke?”

“Dasar, otak diet. Tapi bolehlah. Biar gue tampil kece ya pas nikah? Hihi. I love you, Del. Sorry not to tell you anything before and then surprise you. Hehe.”

I love you too, Dirtaaaaa. Sekarang, markicus kantor! Ketemu nanti malem ya. Muah!”

Telepon ditutup dan aku tersenyum lega. Adel, perempuan centil, kekanakan, dan manja, yang adalah sahabatku. Ah, betapa bahagia aku memiliki sahabat sepertinya dan calon suami seperti Narendra. Syukurku tak pernah habis atas kehadiran mereka dan orang-orang lain di hidupku.

***

Minggu, 14 Oktober 2012, di salah satu gedung resepsi…

RESEPSI PERNIKAHAN DIRTA & NARENDRA MINGGU, 14 OKTOBER 2012.

Papan bunga bertuliskan kalimat itu yang aku lihat di depan gedung resepsi, sesaat setelah aku turun dari mobil bersama Yoga, pacarku yang juga calon suamiku. Ah, aku tidak menyangka bahwa sahabatku, Dirta, yang sudah lama menjomblo, akhirnya malah menyalipku dan duluan menikah. Dengan mantanku pula. Alur hidup memang tidak pernah ada yang tahu. Tuhan selalu menjadikannya rahasia yang indah.

Begitupun padaku. Rahasia Tuhan tentangku sudah terbuka satu. Yoga melamarku tadi pagi, tepat sebelum kami berangkat ke sini, ke pernikahan Dirta dan Narendra. Bahagiaku berlipat ganda hari ini. Dua orang yang aku sayang, yah yang satu mungkin lebih tepat dengan ‘yang pernah aku sayang’, bersatu dalam pernikahan hari ini. Dan satu orang yang sangat aku sayangi, melamarku pagi ini.

“Dirta, Narendra, tunggu ya. Ngga lama gue bakal nyusul kalian!” ujarku sumringah saat menyalami mereka.

Mereka saling tatap dan mengernyitkan dahi. Aku segera menarik Yoga ke hadapan mereka dan mengangkat tangan kiriku, memamerkan cincin yang melingkar indah di jari manisku. “Yoga, calon suami gue.”

***

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s