Month: May 2013

#CeritaHujan #1

Di tengah hujan lebat, aku berhenti.
Menikmati setiap tetesan keras air yang turun dari langit dan jatuh di sekujur tubuh.
Sakit.
Dihujam jutaan tetes air yang menyerang tanpa toleransi.
Tapi tak seberapa.
Nyeri hatiku lebih sakit daripada ini.
Kamu meninggalkanku semudah tetesan air hujan menyerah pada gravitasi.

Advertisements

Paket Cinta

Kata orang, cinta itu ngga harus memiliki.
Kata orang, cinta itu ngga memaksakan.
Kata orang, cinta itu bukan gimana bisa dapetin dia.
Kata orang, cinta itu tentang bagaimana melihat dan membuatnya bahagia.
Kata orang, cinta itu tentang merelakan dia dengan orang lain yang lebih mampu membuatnya bahagia.

Dari perspektifku yang seorang gadis berusia 19 tahun nan labil, kata-kata orang di atas itu kok kayaknya hanya sekedar teori ya? Maksudnya, orang mana yang bisa benar-benar rela melepas orang yang dia cinta? Orang mana yang bisa benar-benar rela tidak memiliki orang yang dia cinta? Orang mana yang bisa benar-benar tidak memikirkan bagaimana caranya mendapatkan orang yang dia cinta?

Seringkali, cinta dan obsesi itu beda tipis. Rasa benar-benar cinta dan benar-benar ingin memiliki itu beda tipis. Kalo kamu terobsesi dengan seseorang (udah kayak lagu Rocket Rockers aja, Terobsesi :D), bisa jadi kamu belum tentu cinta. Tapi kalo kamu cinta dengan seseorang, aku yakin sedikit-banyak, kamu akan berpikir bagaimana cara agar bisa terus bersamanya, mendapatkannya, menjadikannya milikmu. Akan selalu ada keinginan memiliki ketika kamu mencintai seseorang. Se-sedikitbanyak apapun.

Ketika kamu mencintai seseorang, selalu ada perasaan yang aneh di dadamu dan perutmu. Ya, butterflies are there.

Ketika kamu, salah, aku mencintai seseorang, selalu ada perasaan yang aneh. Aku menginginkanmu bahagia. Tapi aku lebih menginginkan kamu bahagia denganku, aku yang bisa membahagiakanmu. Aku menginginkanmu nyaman. Tapi aku lebih menginginkan kamu nyaman denganku, aku yang bisa menyamankanmu. Aku menginginkanmu.

Mencintai, menginginkan, dan membutuhkan adalah satu paket lengkap yang diberikan Tuhan ketika kamu benar-benar mencintai seseorang. Bohong rasanya jika ada yang benar-benar menyatakan bahwa dia HANYA mencintai seseorang dan tidak menginginkan pun membutuhkannya. Seperti kata JKT48 dalam Heavy Rotation kan? “I want you, I need you, I love you”. Ketiganya merupakan paket lengkap yang tidak bisa kamu uraikan dan dapatkan terpisah.

Ketika aku mencintaimu dalam diam, bukan berarti aku tidak menginginkan dan tidak membutuhkanmu. Aku SELALU menginginkan dan membutuhkanmu. Hanya saja, lidah dan jari-jariku tak cukup mampu untuk menyampaikannya padamu. Tidak lisan ataupun tulisan. Di balik perasaanku, di balik aku yang mencintaimu, menginginkan, dan membutuhkanmu, ada aku yang tidak ingin mengganggu dan menyakitimu. Ada aku yang berharap bahagia untukmu. Ada aku yang berharap aku yang bisa membahagiakanmu. Ada aku yang berpikir bagaimana caranya bisa menyampaikan dan menunjukkan cinta, ingin, dan butuhku padamu tanpa mengganggu kenyamananmu. Ada aku yang terlalu tak sanggup melihatmu akrab dengan wanita lain. Ada aku yang merindukanmu.

Percayalah, buatku, berpindah hati bukan hal yang mudah.

U-turn

Di satu masa, kita pernah jalan bareng-bareng. Menumpang kendaraan yg sama berdua. Menuju dan berjalan ke arah yg sama. Sampai di satu pertigaan, kamu berhenti dan kita turun dari kendaraan itu, kendaraan kita, yg kamu tinggalkan begitu saja sedangkan kemudian kamu berpindah kendaraan dan berbelok. Meninggalkanku sendirian dengan tangisku.
Kemudian setelah tangisku reda, aku memutuskan membawa kendaraan itu, kendaraan kita, yg kamu tinggalkan. Aku mengendarainya lurus, ke arah tujuan awal kita, untuk beberapa waktu.
Sambil terus mengendarai kendaraan itu, sesekali aku melirik spion, dan bahkan menengok ke belakang. Berharap kamu ada di belakang, mengejarku, dan akhirnya kita kembali berjalan bersama ke tujuan awal kita. Beberapa waktu, sampai aku tiba di sebuah U-turn, aku berhenti. Menengok ke belakang, dan kosong. Tidak ada kamu, kendaraanmu. Aku sadar kita berjalan di jalan yg berbeda saat ini. Entah mungkin dengan tujuan yg sama, entah tidak.
Haruskah aku menggunakan U-turn yg ada di depanku saat ini? Berputar balik, kembali ke masa lalu, berusaha mengejarmu yg telah berbeda jalan denganku saat ini. Atau tetap di jalanku saat ini, lurus ke depan menuju tujuan, sambil menanti seseorang yg lain yg akan menemaniku berkendara.
Let’s see…

Nomaden

Saya, gadis berusia 19 tahun, yang sudah mencicipi banyak kota. Seumur hidup saya, sampai hari ini, saya tidur di banyak tempat, dengan berbagai orang dengan karakternya masing-masing.

Saya lahir di Bogor, sebuah kota di Jawa Barat. Kota Hujan kata mereka. Kota ini merupakan kampung ibu saya, beliau hidup dan besar di sini walaupun lahir di Purwakarta. Saya tidak ingat seperti apa rasanya tinggal di kota ini. Saya menghabiskan hidup saya di kota ini ketika saya belum mampu merekam memori.
Bendungan Hilir, alias Benhil. Suatu daerah di entah-Jakarta-mana saya tak hafal. Saya juga tidak ingat seperti apa rasanya jadi ‘anak Jakarta’. Lagi-lagi karena saya belum mampu merekam memori kala itu.
Kota ketiga saya adalah Bekasi. Perumnas III Bekasi Timur tepatnya. Di daerah ini ayah saya membeli rumah pertamanya. Saya mulai mampu merekam memori kala ini. Saya mulai bersekolah di sebuah TK Islam bernama Bahrul Ulum. 2 tahun yg menyenangkan belajar di sana. Saya juga mengikuti TPA yg ada di TK dan mengikuti les menari di dekat rumah. Hingga saya masuk ke SD Nusantara alias SDN Aren Jaya XVII. Sayang, tak banyak yg bisa saya ceritakan. Karena begitu naik kelas 2 SD, saya hengkang dari sini.
2001. Medan, Sumatera Utara. Kota saya yg ke-4. Saya menjalani 6 tahun di sini. Kelas 2 sampai kelas 8. Bisa dibilang, saya mengalami awal puber di kota ini. Mulai naksir-naksiran, kenal cowo, pacaran, main ke mal sm temen. Hahaha. Rasanya oon banget kalo diinget-inget lagi.
2007. Makassar, Sulawesi Selatan. It was a hard time. Kelas 9 adalah masa sekolah yg bisa dibilang paling saya benci. Bersamaan dengan tahun pertama saya di kota ini. Kota ini, adalah tempat yg paling sulit saya ‘taklukkan’. Tahun pertama, kelas 9, usaha adaptasi saya mendapat penolakan sana-sini. Usaha membaurkan diri tanpa diledek dan di-bully rasanya hampir-hampir menghasilkan nol. Entah berapa banyak air mata dan amarah tersimpan selama tahun itu. Masuk SMA, things were better, but not greater. Bahkan saya berkonflik dengan senior. 2 tahun di kota ini rasanya benar-benar penuh masalah. Haha. Tapi kota ini menguatkan saya. Memberikan saya banyak pelajaran. Sekaligus mengubah karakter saya. Haha.
2009. Semarang, Jawa Tengah. So far, it’s the best city I’ve ever lived in. Tahun pertama saya di sini jauuuuuuuuhh lebih mudah dan ringan dibandingkan tahun pertama di kota sebelumnya. Yah walaupun adegan <
dibully masih ada, tapi paling tidak, tak banyak air mata yg saya buang karena amarah. Tahun kedua adalah yg terbaik! Di kelas 12 ini saya baru benar-benar membuktikan dan merasakan apa yg kata mereka ‘SMA itu masa paling indah’. Hanya satu tahun. Tapi membekas dalam. Penuh kenangan.
2011. Selesai sudah masa pendidikan ‘berseragam’ saya. Waktunya memasuki dunia pendidikan baru ‘tanpa seragam’, kuliah. Saya berkeras ingin kuliah di luar Semarang. Pilihan jatuh di tanah Sunda. IPB, dan Unpad. Akhirnya saya diterima di Unpad yg, sayangnya, ternyata agak meleset dari ekspektasi awal saya. Ada beberapa mimpi & cita-cita saya yg tertunda karena ini. Semoga, setelah saya lulus, saya bisa mengejar dan meraihnya kembali, dengan lebih baik. Amin.

Kehidupan seperti ini sama seperti semua hal lain yg mempunyai dua sisi. Baik dan buruk.
Baiknya adalah, saya bisa jalan-jalan. Mengenal banyak karakter lain. Membangun pertemanan yg luas. Dan di satu sisi hal ini menjadikan saya lebih kuat dan rendah hati. Latihan beradaptasi. Karena orang ‘baru’ yg tinggi hati tidak akan diterima. Paling tidak, sulit diterima.
Buruknya, saya agak sulit melakukan positioning diri sendiri. Ketika saya mulai membangun relasi dan positioning di satu kota, hampir mantap, ternyata kenyataan dan takdir membawa dan mengharuskan saya pindah ke kota lain yg otomatis, membuat saya harus mengulang dan memulai dari nol lagi.

Ya, beginilah anak nomaden.

Pada Dasarnya, Semua Manusia Itu Menunggu

Si alim bilang menunggu mati.
Si istri bilang menunggu uang bulanan dari suami.
Si suami bilang menunggu gajian.
Si LDR bilang menunggu waktu bertemu pacar.
Si wanita pemacar bilang menunggu dilamar.
Si pria pemacar bilang menunggu mapan untuk melamar.
Si jomblo bilang menunggu dipertemukan dengan jodohnya.
Si PHP bilang menunggu ada chemistry.
Si ibu hamil bilang menunggu kelahiran anaknya.
Si pencari kerja bilang menunggu dipanggil interview.
Si pengusaha bilang menunggu adanya tender.
Si karyawan bilang menunggu dipromosikan.
Si buruh bilang menunggu dinaikkan upahnya.
Si siswa bilang menunggu pembagian rapor.
Si mahasiswa bilang menunggu IPK keluar.
Si aktivis bilang menunggu pemerintah mau berdialog.
Si rakyat bilang menunggu keadilan.
Si pemerintah bilang menunggu mendapat kekuasaan.
Si penulis bilang menunggu inspirasi.
Si gemum bilang menunggu mood berolahraga.
Si anak kecil menunggu dibelikan mainan.
Si perempuan jalang bilang menunggu dipermainkan.
Si penjahat bilang menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.
Si polisi bilang menunggu ada pelanggar untuk diperas.
Si hakim bilang menunggu sogokan.
Si tersangka bilang menunggu vonis.
Si pelaku bilang menunggu ada yang bisa dikambinghitamkan.
Si penguasa bilang menunggu ada kasus baru sehingga kasusnya akan dilupakan.

Katakan, siapa yang tidak menunggu apa-apa?

No Matter

Ada cinta yang selalu tercurah untuk kamu.
No matter where I am.
No matter how far we are.
No matter how hard we fight.
No matter how deep we hurt each other.
No matter how you ignore me.
No matter how you’ve never thought about me.
No matter where you are.
No matter what.
Cinta ini ada. Selalu.

Coretan #3

           From: Vira

           Aku pulang Jumat besok.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Fahri.

          Reply to: Vira

          Aku jemput ya. Besok sms lg aja gimana2nya 🙂

Aku menghela nafas membaca balasan dari Fahri. Entah untuk apa aku masih mengiriminya pesan singkat dan memberitahu bahwa aku akan pulang Jumat besok. Dan entah untuk apa dia masih membalasnya dan menawari jemputan. Dan entah kenapa juga aku tidak sanggup menolak tawarannya.

***

Stasiun, 4 Juli 2009…

Aku bolak-balik melihat jam tanganku dengan gelisah. Sudah pukul 6:20 dan Fahri masih belum saja muncul.

Dasar, gondrong kaga jelas! Bikin kesel aje sih katanya mau jemput udah ditungguin nyaris sejam ngga muncul-muncul, batinku kesal.

Ponselku bergetar, sebuah pesan singkat masuk.

From: fahrii

Maaf aku gabisa jemput. Mndadak Rania mnt dianterin ke kampus.

D**n!” umpatku cukup keras sampai beberapa orang di sekitarku menoleh ke arahku heran. “Tau gini kan dari tadi gue naik taksi ngga usah nungguin dia sampe kelaperan!”

Aku menarik koperku dan berjalan keluar stasiun, ke arah antrian taksi yang sedang mangkal.

Setelah memasukkan koper ke bagasi taksi, aku masuk ke dalam taksi. Memberitahu alamat rumahku kepada supir dan kemudian mengeluarkan ponsel. Membalas pesan dari Fahri? Cih, untuk apa? Paling juga tidak akan ada balasan lagi. Pun ada, paling hanya alasan-alasan tidak bermutunya. Seperti biasa.

***

Sesampainya di depan rumah, aku membayar ongkos taksi dan membuka pagar rumah sambil memberikan salam, “Assalamualaikum…!”

“Waalaikumsalam,” jawab ibu sambil membuka pintu dan keluar dari dalam.

Aku tersenyum melihat beliau dan kemudian mencium tangan serta pipi kanan-kiri beliau.

“Katanya dijemput Fahri? Kok naik taksi?” tanya ibu.

“Rania mendadak minta anter ke kampus. Biasalah, Bu. Seduluan apa pun dia bikin janji sama aku, kalo Rania udah minta pasti aku dinomerduain. Kebaaaaal!” jawabku sedikit emosi. “Jangan bahas dia deh. Ibu udah masak? Ada sarapan apa? Aku laper nih di-PHP-in Fahri di stasiun.”

Ibu tertawa sambil mengajakku masuk dan membawakan koperku. Belum aku ganti baju, bahkan mencopot ranselku pun belum, aku sudah menghampiri meja makan dan membuka tudung saji. Asik ada spageti! batinku tambah keroncongan.

“Mandi dulu kek. Semaleman di kereta juga,” ujar ibu lembut.

Aku nyengir dan kemudian bergegas ke kamar. Meletakkan ransel, mengambil handuk dan mandi.

Selesai mandi, aku bergegas ke dapur mengambil piring dan sendok untuk segera bisa menikmati spageti buatan ibu. Di meja makan, ibu duduk di sampingku menemani aku makan sambil bertanya, “Lha kamu itu sama Fahri sebenarnya gimana to?”

Aku hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepala dan mengangkat bahu sambil terus mengunyah spageti.

Yo gek ndang ditegesi, nduk. Kasian kamu loh kalo kaya gini terus. Ndak capek po?” tanya ibu lagi.

Ndak taulah, Bu. Nanti aku pikirin lagi. Ibu tenang aja ya,” jawabku sambil melempar senyum ke arah beliau.

Ibu membalas senyumku dan kemudian berjalan ke arah halaman depan. Hendak menyirami tanaman-tanaman kesayangannya.

Selesai sarapan, aku masuk kamar dan mengurung diri sambil bermain ponsel. Mengecek akun twitter dan instagram, serta mengecek beberapa email yang masuk dari rekan kerja di kantor di Jakarta. Sambil memainkan ponsel, aku memikirkan ucapan ibu di meja makan barusan. Mungkin ada benarnya kata-kata ibu barusan. Mungkin memang sudah saatnya aku negesi masalahku dengan Fahri.

***

Aku terbangun karena getaran di samping kepalaku. Ponselku. Sebuah pesan singkat.

From: fahrii

Km dmana? Aku mau ketemu dong. Maaf ya td pagi gajadi jemput 😦

“Halah, preketek!” umpatku kesal sambil membanting ponsel ke samping kepala dan kembali melanjutkan tidur.

Sayangnya, aku tidak bisa kembali melanjutkan tidur. Akhirnya aku memilih bangun dan keluar kamar. Rumah masih sepi. Adikku belum pulang sekolah. Seperti biasa, adikku pasti pulang sore menjelang magrib. Waktu menunjukkan pukul 15:00. Ternyata lama juga aku tertidur. Aku memutuskan untuk mandi.

Selesai mandi, ada pesan singkat masuk di ponselku. Dari Fahri lagi.

From: fahrii

Km marah ya? Maaf banget. Td pagi Rania dadakan bgt. Aku ga enak nolaknya.

Kapan sih lo enak nolak permintaan Rania? batinku kesal.

Reply to: fahrii

Kpn km enak nolak permintaan Rania? Ga pernah, bro. Cape ye disingkirin mulu gara2 die. Ga berubah. Tetep aje kl udah janji duluan sm aku trs Rania dadakan mnt anter/jemput trs aku dinomerduain, janjinya dibatalin. Halahlah, kebiasaanmu tu lho, ga berubah blas2. Wis kesel aku ngeladeni koe. Nyesel wingi aku ndadak sms koe ngomong nek arep bali. Wis raksah sms2 meneh lah. Aku yo ora bakal sms2 koe meneh. Ndak tambah ganggu hubunganmu karo Rania. Suwun lho, Ri3.

Aku melempar ponsel ke kasur setelah mengirim pesan balasan ke Fahri. Antara kesal, lega, dan ragu. Ragu apakah yang aku lakukan ini tepat.

***

Fahri tertegun membaca pesan dari Sasya. Sambil menghela nafas, duduknya melorot. Fahri sedang berada di ruang tamu rumah Rania. Ya, ia baru saja mengantar Rania pulang dari kampus. Pikiran Fahri berkecamuk. Tidak menyangka akan mendapatkan reaksi yang berbeda dari biasanya. Biasanya, Sasya pasrah-pasrah saja dinomorduakan dan dikesampingkan gara-gara Rania. Tapi kali ini, rasanya Sasya sudah lelah dan harus bertindak lebih tegas. Seperti kata ibunya tadi pagi.

“Minum dulu, Mas,” ujar Rania sambil meletakkan segelas es sirup di meja di hadapan Fahri.

Fahri hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Masih mencerna isi pesan singkat dari Sasya. Sementara Rania berbicara dan terus curhat tentang persoalannya di kampus hari ini yang hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri Fahri. Fahri sama sekali tidak mendengarkan apa yang dibicarakan Rania dan matanya terus menghadap depan, menatap kosong tembok di seberangnya.

Tiba-tiba Fahri menoleh ke arah Rania yang masih saja bercerita sembari berujar, “ Ran, I gotta go.”

Fahri meminum sedikit es sirup yang sudah dihidangkan Rania dan kemudian bergegas keluar rumah. Mengenakan sepatu, dan segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Rania yang masih terbengong-bengong tidak paham atas apa yang terjadi barusan.

***

Aku sedang menonton DVD anime kesukaanku sambil tertawa-tawa sebelum tiba-tiba aku mendengar suara klakson motor yang dibunyikan membabi buta di depan rumah. Kupikir itu klakson untuk tetangga. Tetapi hampir satu menit, suara klakson tersebut masih saja berbunyi dan semakin berisik. Kesal, aku berjalan ke jendela untuk mengintip keluar, mencari tahu siapa yang terus-menerus membunyikan klakson, tetapi gagal. Karena pengendara motor yang masih terus membunyikan klakson tersebut masih menggunakan helm.

Dengan kesal aku membuka pintu depan dengan kasar dan keluar ke arah teras kemudian berteriak, “Woi! Berisik tau! Nyari siapa sih?”

Pengendara motor membuka helm. Fahri! Sedang apa dia di sini?

Fahri meletakkan helmnya ke spion dan kemudian turun dari motor. “Boleh aku masuk?” tanyanya sopan.

Dengan ogah-ogahan aku berjalan ke arah pagar dan membukakan pagar untuknya. Fahri tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku dan dia kemudian duduk di kursi yang ada di teras.

“Kamu kok tadi SMS gitu sih ke aku?” tanya Fahri.

“Bagian mana yang kurang jelas dari SMS aku? Lagian ngapain kamu ke sini?” Aku malah balik bertanya.

“Kok malah balik nanya sih? Aku ke sini pengen minta penjelasan soal SMS kamu tadi,” jawab Fahri.

“Penjelasan apaan? SMS aku tadi itu udah jelas banget. Lagian aku ngga perlu jelasin apa-apa. Aku bukan pacarmu,” jawabku sengit.

Fahri tertegun. Terlihat dari ekspresi matanya yang berubah dan sikap diamnya yang cukup lama. Aku cuek dan tidak memedulikannya malah mengeluarkan ponsel dari kantong celana dan bermain game. Malah sampai teriak-teriak dan heboh sendiri.

“Kamu… Aku ngga ngerti deh. Jadi kamu maunya gimana? Udahan?” tanya Fahri kemudian.

Aku menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan ‘what the f…’. “Udahan? Kita ga pernah mulai apa-apa, bro. Apa yang mau diudahin?” jawabku dingin.

“Loh, jadi selama ini kita apa?”

Friendzone mungkin? Coba kamu inget-inget aja. Kapan kita pernah jadian? Kapan kamu pernah nembak aku? Kapan kamu pernah bilang kamu sayang aku? Sejauh yang bisa aku inget, dan setau aku ingetan aku masih bagus, ngga pernah.”

Fahri terdiam mendengar jawabanku. Dia menunduk. Kepalanya terbenam dalam ke bawah, nyaris menyentuh dadanya. Aku memerhatikannya sebentar dan kemudian kembali tenggelam dalam keseruan game di ponselku. Sambil bermain, aku berkata padanya, “Udahlah, Ri. Kita masih temenan kok. Dan akan selalu temenan. Tapi kadarnya ngga kaya kemaren-kemaren lagi. Kamu fokus aja sama Rania, seriusin. Jangan posisiin Rania di posisiku.”

Fahri tidak menjawab dan masih menunduk. Tidak lama kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arahku. Aku tahu, tetapi aku tidak berminat membalas tatapannya dan masih asik menatap layar ponsel.

“Yaudah deh, aku pulang ya. Kamu kapan balik Jakarta?” tanyanya sambil berdiri, beranjak dari kursi.

“Minggu depan,” jawabku mengikutinya berdiri.

Aku mengantarnya sampai ke pagar rumah. Saling bertukar salam dan kemudian ia melesat cepat meninggalkan rumahku.

Bahkan lo minta maaf aja engga, Ri. Ckck, pikirku.

***

Stasiun, 12 Juli 2009

“Misi, misi. Amit4, maaf. Permisi. Mas bentaaarrr!!” Aku menyerobot kerumunan orang dan berteriak dengan panik ke arah petugas stasiun yang hendak menggeser tangga naik ke dalam gerbong.

Tergopoh-gopoh aku menghampiri petugas dan menunjukkan tiket, “Mas ini gerbong berapa?”

“Gerbong dua, Mbak. Di depan. Naik dulu aja nanti jalan di dalem. Keretanya sudah mau berangkat. Mari saya bantu,” jawab petugas tersebut sopan.

Dengan panik, terengah-engah, dan terburu-buru aku naik ke dalam gerbong sambil menarik-narik koperku. Sialnya, roda koperku tersangkut di celah sambungan gerbong dan aku tersentak jatuh ke belakang ke arah koper. Untung keretanya belum melaju kencang.

“Sasya! Sini gue bantu. Yaampun hati-hati dong,” ujar seorang laki-laki yang menolongku berdiri dan membantu melepas roda koperku yang tersangkut.

Terhuyung-huyung aku terbangun dan memegang bokongku yang sakit, meringis kesakitan. “Makasih ya, Mas. Jadi ngerepotin.”

“Sama-sama. Syaaa…. Lo lupa sama gue?” ujar laki-laki itu lagi.

Aku mendongak dan memerhatikan wajahnya, kemudian histeris, “Julio!”

Laki-laki itu, Julio, teman SMA-ku. “Halo, Sasya. Kikuknya ga berubah ya.”

***

Footnote:

1 Ya segera ditegaskan, Nduk. (Nduk, genduk = panggilan untuk anak perempuan)

2 Sama sekali.

3 Sudah capek aku meladeni kamu. Nyesel aku kemarin harus SMS kamu ngomong kalau mau pulang. Sudah ngga usah SMS-SMS lagi lah. Aku ya ngga akan SMS-SMS kamu lagu. Nanti malah tamabah ganggu hubunganmu dengan Rania. Terima kasih lho, Ri.

4 Permisi (bahasa Semarangan)