Coretan #2

“Terus itu jadi masalah? Suka-suka gue lah. Lo ngga tau masalahnya.” Elen berujar dengan sengit kepada sahabatnya, Ariska.

“Gue tau masalahnya. Bagian mana dari masalah ini yang ngga lo ceritain ke gue coba?” jawab Ariska.

“Ngga semua yang lo denger itu semuanya. Ada beberapa hal yang gue simpen sendiri dan ngga perlu gue ceritain ke siapa-siapa. Termasuk lo! Dan ini adalah bagian yang lo, atau siapapun, ngga pernah tau. Ngerti?!” Elen membentak kemudian lalu dari hadapan Ariska.

Ariska hanya bisa melihat sahabatnya pergi menjauh dari hadapannya, dan kemudian menarik nafas panjang. Elena, sahabatnya sejak SMP yang temperamental. Ya, dari dulu hingga sekarang, sifat yang satu itu tidak pernah lepas dari sosok Elena.

Elena yang telah pergi menjauh dari Ariska menahan kekesalan. Sekaligus tangis. Ia merasa sahabatnya yang satu ini tidak bisa paham perasaannya dalam masalah ini. Di samping ia memang tidak pernah menceritakannya kepada Ariska. Tidak pernah mau lebih tepatnya. Menurutnya, ada beberapa hal yang tidak harus selalu diceritakan. Salah satunya adalah ini, soal Gani, laki-laki yang dulu pernah satu SMA dengan mereka.

Lo ngga akan pernah ngerti, Ar. Ngga akan! Karena lo ngga di posisi gue dan gue ngga pernah dan emang ngga pernah mau cerita sama lo. Ini cuma pelarian gue. Siratan sakit hati dan kekecewaan yang entah kenapa gue pilih untuk gue tunjukkan dengan cara ini, Elen membatin sambil mulai menyalakan mesin mobil.

***

Sesampai di rumah, Elen berendam air hangat dengan larutan aromatherapy mawar favoritnya. Sambil berendam dan dengan emosinya yang mulai stabil, Elen merenung dan memikirkan semuanya.

Apa iya ya gue juga salah? Man, gue ngerasa cuma ini cara gue ngungkapin kekecewaan, batinnya sambil malah menenggelamkan diri ke dalam bath tub, bingung.

***

Esoknya, Elen menemui Ariska di taman kampus.

Just read these papers. Hope they’re representative enough,” ujar Elen sambil memberikan beberapa lembar kertas kepada Ariska dan kemudian langsung pergi.

Ariska melongo sambil memegang kertas-kertas tersebut. “Buset ni bocah. Kemaren marah-marah, sekarang ngasih ginian. Tugas lagi jangan-jangan,” gumamnya sambil melihat sekilas ke arah kertas-kertas tersebut.

16 Agustus 2010

Tanggal tersebut tertera di kertas paling atas. “What the f…” gumam Ariska lagi kali ini sambil duduk di taman dan mulai membaca lembar-lembar tersebut satu per satu.

Kertas-kertas tersebut adalah hasil cetak komputer. Agak berantakan dan tidak rapi. Seperti asal print. Tapi sangat mudah dimengerti. Kertas-kertas tersebut adalah hasil cetak dari catatan Elen. Seperti sebuah buku harian.

Halaman terakhir:

18 Februari 2012

I just still can’t believe my eyes. Yesterday, I saw him with her. I saw Gani with Lena. Hanging around Semesta Plaza together. And holding hands! HOLDING LENA’S HAND!! Rasanya pusing, mual, mau muntah, dan mendadak udah ngga pengen nyari kado buat Mama. Pengennya langsung pulang, nangis di kamar, atau di bath tub. Dan tadi siang, gue liat dia makan di kafe favorit gue sama dia. Ngga sendirian, tapi bareng Kinan, junior kita. Tuhan, setelah semua yang terjadi satu setengah taun ke belakang. Ngga habis pikir. Gue pikir Lena di Belanda ikut suaminya. Kenapa kemaren bisa ada di sini? Dan kenapa tadi siang Gani makan bareng Kinan? Barusan gue telfon Gani. Dia bilang kalo dia belum bisa ngelupain Lena setelah apa yang pernah terjadi di antara mereka. Dan katanya kebeneran Lena lagi di sini, ngga sama suaminya, apa salahnya spending night sama dia. Kinan, katanya cuma ngomongin konsep ospek angkatan baru nanti. Tapi pulangnya harus pake pelukan sambil cipika-cipiki gitu? Salahnya, Kinan ini masih sodara gue! Iya, dia anak sepupunya bokap gue. Mau ngomel ke dia juga ga enak. Man, jadi satu setengah taun ke belakang, gue ini apa? Salah sih ya gue juga, pasrah sama hubungan kaya gini dan ngga pernah minta kepastian. Bego lo, Len! Bego banget!

*Deg!* Ariska serasa ditampar setelah membaca berlembar-lembar kertas yang diberikan Elen kepadanya. Setengah dari isi tumpukan kertas ini tidak dia ketahui. Terutama halaman terakhir. Pantas pekan ini Elen sangat emosian. Melebihi biasanya. Terutama jika membahas hal-hal yang terkait Kinan dan Gani, mengingat mereka satu kepanitian ospek di kampus.

Di tengah lamunan dan pikiran yang berkecamuk, ponselnya berbunyi. Telepon masuk, dari Gani. Ya, pekan ini, sejak Elen mulai renggang dan mengabaikan Gani, entah kenapa Gani mendekatinya. Awalnya Ariska cuek, tapi mulai kemarin, Gani bersikap sangat manis. Hampir saja Ariska ‘jatuh’ pada godaan seorang Gani dan melupakan bahwa Gani adalah seseorang yang berarti bagi sahabatnya, Elen.

Telepon diangkat, “Mau ngapain?”

“Jutek bener sih. Nonton yuk nanti malem. Ada film baru kan,” ajak Gani.

“Sama siapa aja?” tanya Ariska.

“Berdua doang dong,” jawab Gani genit.

I’ll go if Elen and Kinan go. Or, maybe Lena can join us, too,” Ariska menanggapi lalu menutup telepon.

Ariska terduduk di taman. Merenung. Tapi tidak lama kemudian mengeluarkan ponselnya lagi dan mengirim pesan kepada Elen dan Kinan untuk menemuinya.

***

“Eh, bukannya band si Gani juga manggung ya di sini?” tanya Kinan.

“Kalo ngga salah mah,” jawab Ariska sambil melirik Elen yang hanya mengangkat bahu.

“Nah, itu bukannya Gani? Kok sama Chika?” Elen berujar sambil menunjuk dengan dagunya.

“Chika siapa lagi?” tanya Kinan, bingung.

“Cinta satu malamnya Gani pas ospek dulu, Nan,” jawab Ariska sambil tertawa bersama Elen.

Kinan hanya kebingungan sambil menggumam, “Beda jaman sih ya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s