Coretan #3

           From: Vira

           Aku pulang Jumat besok.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Fahri.

          Reply to: Vira

          Aku jemput ya. Besok sms lg aja gimana2nya 🙂

Aku menghela nafas membaca balasan dari Fahri. Entah untuk apa aku masih mengiriminya pesan singkat dan memberitahu bahwa aku akan pulang Jumat besok. Dan entah untuk apa dia masih membalasnya dan menawari jemputan. Dan entah kenapa juga aku tidak sanggup menolak tawarannya.

***

Stasiun, 4 Juli 2009…

Aku bolak-balik melihat jam tanganku dengan gelisah. Sudah pukul 6:20 dan Fahri masih belum saja muncul.

Dasar, gondrong kaga jelas! Bikin kesel aje sih katanya mau jemput udah ditungguin nyaris sejam ngga muncul-muncul, batinku kesal.

Ponselku bergetar, sebuah pesan singkat masuk.

From: fahrii

Maaf aku gabisa jemput. Mndadak Rania mnt dianterin ke kampus.

D**n!” umpatku cukup keras sampai beberapa orang di sekitarku menoleh ke arahku heran. “Tau gini kan dari tadi gue naik taksi ngga usah nungguin dia sampe kelaperan!”

Aku menarik koperku dan berjalan keluar stasiun, ke arah antrian taksi yang sedang mangkal.

Setelah memasukkan koper ke bagasi taksi, aku masuk ke dalam taksi. Memberitahu alamat rumahku kepada supir dan kemudian mengeluarkan ponsel. Membalas pesan dari Fahri? Cih, untuk apa? Paling juga tidak akan ada balasan lagi. Pun ada, paling hanya alasan-alasan tidak bermutunya. Seperti biasa.

***

Sesampainya di depan rumah, aku membayar ongkos taksi dan membuka pagar rumah sambil memberikan salam, “Assalamualaikum…!”

“Waalaikumsalam,” jawab ibu sambil membuka pintu dan keluar dari dalam.

Aku tersenyum melihat beliau dan kemudian mencium tangan serta pipi kanan-kiri beliau.

“Katanya dijemput Fahri? Kok naik taksi?” tanya ibu.

“Rania mendadak minta anter ke kampus. Biasalah, Bu. Seduluan apa pun dia bikin janji sama aku, kalo Rania udah minta pasti aku dinomerduain. Kebaaaaal!” jawabku sedikit emosi. “Jangan bahas dia deh. Ibu udah masak? Ada sarapan apa? Aku laper nih di-PHP-in Fahri di stasiun.”

Ibu tertawa sambil mengajakku masuk dan membawakan koperku. Belum aku ganti baju, bahkan mencopot ranselku pun belum, aku sudah menghampiri meja makan dan membuka tudung saji. Asik ada spageti! batinku tambah keroncongan.

“Mandi dulu kek. Semaleman di kereta juga,” ujar ibu lembut.

Aku nyengir dan kemudian bergegas ke kamar. Meletakkan ransel, mengambil handuk dan mandi.

Selesai mandi, aku bergegas ke dapur mengambil piring dan sendok untuk segera bisa menikmati spageti buatan ibu. Di meja makan, ibu duduk di sampingku menemani aku makan sambil bertanya, “Lha kamu itu sama Fahri sebenarnya gimana to?”

Aku hanya bisa menjawab dengan menggelengkan kepala dan mengangkat bahu sambil terus mengunyah spageti.

Yo gek ndang ditegesi, nduk. Kasian kamu loh kalo kaya gini terus. Ndak capek po?” tanya ibu lagi.

Ndak taulah, Bu. Nanti aku pikirin lagi. Ibu tenang aja ya,” jawabku sambil melempar senyum ke arah beliau.

Ibu membalas senyumku dan kemudian berjalan ke arah halaman depan. Hendak menyirami tanaman-tanaman kesayangannya.

Selesai sarapan, aku masuk kamar dan mengurung diri sambil bermain ponsel. Mengecek akun twitter dan instagram, serta mengecek beberapa email yang masuk dari rekan kerja di kantor di Jakarta. Sambil memainkan ponsel, aku memikirkan ucapan ibu di meja makan barusan. Mungkin ada benarnya kata-kata ibu barusan. Mungkin memang sudah saatnya aku negesi masalahku dengan Fahri.

***

Aku terbangun karena getaran di samping kepalaku. Ponselku. Sebuah pesan singkat.

From: fahrii

Km dmana? Aku mau ketemu dong. Maaf ya td pagi gajadi jemput 😦

“Halah, preketek!” umpatku kesal sambil membanting ponsel ke samping kepala dan kembali melanjutkan tidur.

Sayangnya, aku tidak bisa kembali melanjutkan tidur. Akhirnya aku memilih bangun dan keluar kamar. Rumah masih sepi. Adikku belum pulang sekolah. Seperti biasa, adikku pasti pulang sore menjelang magrib. Waktu menunjukkan pukul 15:00. Ternyata lama juga aku tertidur. Aku memutuskan untuk mandi.

Selesai mandi, ada pesan singkat masuk di ponselku. Dari Fahri lagi.

From: fahrii

Km marah ya? Maaf banget. Td pagi Rania dadakan bgt. Aku ga enak nolaknya.

Kapan sih lo enak nolak permintaan Rania? batinku kesal.

Reply to: fahrii

Kpn km enak nolak permintaan Rania? Ga pernah, bro. Cape ye disingkirin mulu gara2 die. Ga berubah. Tetep aje kl udah janji duluan sm aku trs Rania dadakan mnt anter/jemput trs aku dinomerduain, janjinya dibatalin. Halahlah, kebiasaanmu tu lho, ga berubah blas2. Wis kesel aku ngeladeni koe. Nyesel wingi aku ndadak sms koe ngomong nek arep bali. Wis raksah sms2 meneh lah. Aku yo ora bakal sms2 koe meneh. Ndak tambah ganggu hubunganmu karo Rania. Suwun lho, Ri3.

Aku melempar ponsel ke kasur setelah mengirim pesan balasan ke Fahri. Antara kesal, lega, dan ragu. Ragu apakah yang aku lakukan ini tepat.

***

Fahri tertegun membaca pesan dari Sasya. Sambil menghela nafas, duduknya melorot. Fahri sedang berada di ruang tamu rumah Rania. Ya, ia baru saja mengantar Rania pulang dari kampus. Pikiran Fahri berkecamuk. Tidak menyangka akan mendapatkan reaksi yang berbeda dari biasanya. Biasanya, Sasya pasrah-pasrah saja dinomorduakan dan dikesampingkan gara-gara Rania. Tapi kali ini, rasanya Sasya sudah lelah dan harus bertindak lebih tegas. Seperti kata ibunya tadi pagi.

“Minum dulu, Mas,” ujar Rania sambil meletakkan segelas es sirup di meja di hadapan Fahri.

Fahri hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Masih mencerna isi pesan singkat dari Sasya. Sementara Rania berbicara dan terus curhat tentang persoalannya di kampus hari ini yang hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri Fahri. Fahri sama sekali tidak mendengarkan apa yang dibicarakan Rania dan matanya terus menghadap depan, menatap kosong tembok di seberangnya.

Tiba-tiba Fahri menoleh ke arah Rania yang masih saja bercerita sembari berujar, “ Ran, I gotta go.”

Fahri meminum sedikit es sirup yang sudah dihidangkan Rania dan kemudian bergegas keluar rumah. Mengenakan sepatu, dan segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Rania yang masih terbengong-bengong tidak paham atas apa yang terjadi barusan.

***

Aku sedang menonton DVD anime kesukaanku sambil tertawa-tawa sebelum tiba-tiba aku mendengar suara klakson motor yang dibunyikan membabi buta di depan rumah. Kupikir itu klakson untuk tetangga. Tetapi hampir satu menit, suara klakson tersebut masih saja berbunyi dan semakin berisik. Kesal, aku berjalan ke jendela untuk mengintip keluar, mencari tahu siapa yang terus-menerus membunyikan klakson, tetapi gagal. Karena pengendara motor yang masih terus membunyikan klakson tersebut masih menggunakan helm.

Dengan kesal aku membuka pintu depan dengan kasar dan keluar ke arah teras kemudian berteriak, “Woi! Berisik tau! Nyari siapa sih?”

Pengendara motor membuka helm. Fahri! Sedang apa dia di sini?

Fahri meletakkan helmnya ke spion dan kemudian turun dari motor. “Boleh aku masuk?” tanyanya sopan.

Dengan ogah-ogahan aku berjalan ke arah pagar dan membukakan pagar untuknya. Fahri tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku dan dia kemudian duduk di kursi yang ada di teras.

“Kamu kok tadi SMS gitu sih ke aku?” tanya Fahri.

“Bagian mana yang kurang jelas dari SMS aku? Lagian ngapain kamu ke sini?” Aku malah balik bertanya.

“Kok malah balik nanya sih? Aku ke sini pengen minta penjelasan soal SMS kamu tadi,” jawab Fahri.

“Penjelasan apaan? SMS aku tadi itu udah jelas banget. Lagian aku ngga perlu jelasin apa-apa. Aku bukan pacarmu,” jawabku sengit.

Fahri tertegun. Terlihat dari ekspresi matanya yang berubah dan sikap diamnya yang cukup lama. Aku cuek dan tidak memedulikannya malah mengeluarkan ponsel dari kantong celana dan bermain game. Malah sampai teriak-teriak dan heboh sendiri.

“Kamu… Aku ngga ngerti deh. Jadi kamu maunya gimana? Udahan?” tanya Fahri kemudian.

Aku menoleh ke arahnya dan memberikan tatapan ‘what the f…’. “Udahan? Kita ga pernah mulai apa-apa, bro. Apa yang mau diudahin?” jawabku dingin.

“Loh, jadi selama ini kita apa?”

Friendzone mungkin? Coba kamu inget-inget aja. Kapan kita pernah jadian? Kapan kamu pernah nembak aku? Kapan kamu pernah bilang kamu sayang aku? Sejauh yang bisa aku inget, dan setau aku ingetan aku masih bagus, ngga pernah.”

Fahri terdiam mendengar jawabanku. Dia menunduk. Kepalanya terbenam dalam ke bawah, nyaris menyentuh dadanya. Aku memerhatikannya sebentar dan kemudian kembali tenggelam dalam keseruan game di ponselku. Sambil bermain, aku berkata padanya, “Udahlah, Ri. Kita masih temenan kok. Dan akan selalu temenan. Tapi kadarnya ngga kaya kemaren-kemaren lagi. Kamu fokus aja sama Rania, seriusin. Jangan posisiin Rania di posisiku.”

Fahri tidak menjawab dan masih menunduk. Tidak lama kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arahku. Aku tahu, tetapi aku tidak berminat membalas tatapannya dan masih asik menatap layar ponsel.

“Yaudah deh, aku pulang ya. Kamu kapan balik Jakarta?” tanyanya sambil berdiri, beranjak dari kursi.

“Minggu depan,” jawabku mengikutinya berdiri.

Aku mengantarnya sampai ke pagar rumah. Saling bertukar salam dan kemudian ia melesat cepat meninggalkan rumahku.

Bahkan lo minta maaf aja engga, Ri. Ckck, pikirku.

***

Stasiun, 12 Juli 2009

“Misi, misi. Amit4, maaf. Permisi. Mas bentaaarrr!!” Aku menyerobot kerumunan orang dan berteriak dengan panik ke arah petugas stasiun yang hendak menggeser tangga naik ke dalam gerbong.

Tergopoh-gopoh aku menghampiri petugas dan menunjukkan tiket, “Mas ini gerbong berapa?”

“Gerbong dua, Mbak. Di depan. Naik dulu aja nanti jalan di dalem. Keretanya sudah mau berangkat. Mari saya bantu,” jawab petugas tersebut sopan.

Dengan panik, terengah-engah, dan terburu-buru aku naik ke dalam gerbong sambil menarik-narik koperku. Sialnya, roda koperku tersangkut di celah sambungan gerbong dan aku tersentak jatuh ke belakang ke arah koper. Untung keretanya belum melaju kencang.

“Sasya! Sini gue bantu. Yaampun hati-hati dong,” ujar seorang laki-laki yang menolongku berdiri dan membantu melepas roda koperku yang tersangkut.

Terhuyung-huyung aku terbangun dan memegang bokongku yang sakit, meringis kesakitan. “Makasih ya, Mas. Jadi ngerepotin.”

“Sama-sama. Syaaa…. Lo lupa sama gue?” ujar laki-laki itu lagi.

Aku mendongak dan memerhatikan wajahnya, kemudian histeris, “Julio!”

Laki-laki itu, Julio, teman SMA-ku. “Halo, Sasya. Kikuknya ga berubah ya.”

***

Footnote:

1 Ya segera ditegaskan, Nduk. (Nduk, genduk = panggilan untuk anak perempuan)

2 Sama sekali.

3 Sudah capek aku meladeni kamu. Nyesel aku kemarin harus SMS kamu ngomong kalau mau pulang. Sudah ngga usah SMS-SMS lagi lah. Aku ya ngga akan SMS-SMS kamu lagu. Nanti malah tamabah ganggu hubunganmu dengan Rania. Terima kasih lho, Ri.

4 Permisi (bahasa Semarangan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s