U-turn

Di satu masa, kita pernah jalan bareng-bareng. Menumpang kendaraan yg sama berdua. Menuju dan berjalan ke arah yg sama. Sampai di satu pertigaan, kamu berhenti dan kita turun dari kendaraan itu, kendaraan kita, yg kamu tinggalkan begitu saja sedangkan kemudian kamu berpindah kendaraan dan berbelok. Meninggalkanku sendirian dengan tangisku.
Kemudian setelah tangisku reda, aku memutuskan membawa kendaraan itu, kendaraan kita, yg kamu tinggalkan. Aku mengendarainya lurus, ke arah tujuan awal kita, untuk beberapa waktu.
Sambil terus mengendarai kendaraan itu, sesekali aku melirik spion, dan bahkan menengok ke belakang. Berharap kamu ada di belakang, mengejarku, dan akhirnya kita kembali berjalan bersama ke tujuan awal kita. Beberapa waktu, sampai aku tiba di sebuah U-turn, aku berhenti. Menengok ke belakang, dan kosong. Tidak ada kamu, kendaraanmu. Aku sadar kita berjalan di jalan yg berbeda saat ini. Entah mungkin dengan tujuan yg sama, entah tidak.
Haruskah aku menggunakan U-turn yg ada di depanku saat ini? Berputar balik, kembali ke masa lalu, berusaha mengejarmu yg telah berbeda jalan denganku saat ini. Atau tetap di jalanku saat ini, lurus ke depan menuju tujuan, sambil menanti seseorang yg lain yg akan menemaniku berkendara.
Let’s see…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s