Coretan #5

Setelah sekian lama aku menantimu.
Di keringnya udara layaknya gurun pasir tanpa oase.
Di kerontangnya tanah yang akhirnya retak tak kuasa bertahan disengat terik matahari yang menjilat Bumi membabi buta.
Di rapuhnya belulang terbalut kulit yang gemetar di kegelapan malam.
Di dinginnya malam yang menanti kehangatan fajar pagi hari yang perlahan keluar dari peraduannya.

Akhirnya aku melihatmu.
Menciummu, membauimu, merasakanmu.
Bukan dengan keindahan nan memesona seperti hamparan sawah berundak di bukit.
Bukan dengan wangi bebungaan yang sering dijadikan bahan dasar parfum mahal koleksi sosialita.
Bukan dengan kehangatan seperti sebuah pelukan dari kawan lama.
Bukan pula dengan sebuah kelembutan layaknya sutra yang telah disulam.

Kau datang dengan segala kemisteriusan yang kau miliki.
Sikap malu-malu yang seringkali meledak menjadi sebuah sikap dingin dan keangkuhan tak berbatas.
Seolah-olah hanya dirimu yang mampu menaklukkan seluruh isi Bumi.
Terutama aku.

Tak apa.
Aku mengakui kemampuanmu.
Aku mengakui pesonamu.
Pesona yang bisa membuat siapa saja takluk tak berdaya.
Terutama aku.

Aku suka baumu.
Aku suka melodi indah yang muncul dari setiap bunyi yang kau munculkan.
Aku suka sikap dinginmu.
Aku suka kemampuanmu membuatku lega atas dahaga.

Aku selalu menantikanmu, Hujan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s