Month: April 2014

Penolakan Tanpa Sadar

Kadang seseorang terlalu malas untuk memulai sesuatu yg baru. Malas dengan segala tetek bengek perkenalan dan penyesuaiannya. Dan ini berlaku pula pada sebuah hubungan.
Kadang, orang-orang yg “menganut” ini (termasuk saya) berpikir ‘ah nanti aja nunggu ada yg nyeriusin saya baru saya seriusin balik’. Tapi kadang tanpa kita sadari, sebenarnya ada yg ingin mendekati kita, mencoba utk mengenal & berhubungan lebih jauh dengan kita.
Sayangnya, beberapa dari kita tidak cukup mampu utk mendeteksi dan “ngeh” kalo ternyata ada yg sedang berusaha utk kita, pada kita. Termasuk saya. Atau bahkan malah kita yg terlanjur pasang “perisai” dan malah jadi menutup diri dan hati dari orang-orang yg sedang berusaha ini.

Advertisements

How I Can Fall Into Something Called LFC

Well, saya lupa kapan persisnya semua ini bermula. Sepertinya sih sekitar Februari akhir. Karena saya inget waktu KKN saya ngga mikir tentang ini sama sekali 😀

Saya sering denger, liat, dan tau Liverpool. Tapi saya ngga kenal. Sampe akhirnya saya iseng googling karena saya pengen tau apakah Liverpool itu nama kota seperti Manchester? Saya tau Liverpool itu nama klub bola di Inggris. Saya tau Manchester United dan Manchester City berasal dari sebuah kota yg sama bernama Manchester. Saya tau Chelsea juga adalah sebuah nama kota. Tapi saya ngga tau Liverpool. Tapi saya suka karena namanya enak didengar dan diucapkan. Akhirnya saya googling.

Acuan yg pertama saya klik adalah wikipedia (#HAILJIMMYWALES). Oke. Ternyata Liverpool emang nama kota. Semacam port city gitu soalnya lokasinya di pinggir teluk. (CMIIW. Feel free to give me a correction ya) Scan-reading…oke. Pokoknya gitulah. Saya jatuh cinta sama artikel wiki dan kota ini. Walaupun sebenarnya jauh sebelum ini, saya merasa saya suka dengan Inggris dan kerajaannya, dengan United Kingdom. Since the first music group I like when I was kid is Westlife which from Ireland ya. Tapi saya ngga suka speaking accent-nya karena susah. Hahaha.

Udah aja…

Selang berapa waktu, saya pengen googling lagi tentang Liverpool. Kali ini masih ngga soal bola. Saya pengen tau lebih lanjut ada apa sih di kota ini. Ada kesempatan lewat apa saya bisa ke sana? Hanya jalan-jalan pake duit sendirikah? Atau bisa lewat beasiswa S2? Akhirnya saya googling lagi. Masih mendarat di wikipedia. Dan yg bikin saya tertarik ternyata ada University of Liverpool. Masuklah saya ke official website mereka. Liat-liat program internasional dan jurusan-jurusan S2-nya. Dan saya rasa ini turning point saya sampe akhirnya saya jatuh cinta sama Liverpool…F.C. Di University of Liverpool ini, mereka punya jurusan S2 yg menurut saya antimainstream. Ngga usum, ngga biasa. Apalagi di Indonesia. Jurusan itu adalah Football Industries, di bawah course Management, dengan gelar MBA setelah lulus. Dang! I do not ever think about football in a formal course, with MBA degree! Dengan ranah yg sampe akhirnya bisa se’serius’ ini, saya mikirnya langsung ke “Oia sih, ada Liverpool FC sih ya di Liverpool”. Terus saya mikir lagi. Berarti football, sepak bola, itu memang industri yg sangat menjanjikan! Dan harus dikelola dengan baik untuk bisa selalu menjanjikan dan menghasilkan. Sampe akhirnya jurusan ini dirasa perlu ada. Jangan kaya Indonesia lah. Haha. Well, saya ngga tertarik sih (belum?) buat ngambil jurusan ini seandainya saya bisa S2 ke sana (aamiin!). Tapi ini jelas titik balik saya soal sepak bola. Sebelumnya mah saya ngga suka sepak bola. SAMA SEKALI.

Beberapa hari kemudian Liverpool tanding lawan MU. Saya masih ngga ngikutin nih. Tapi ponsel saya emang pinter banget (#HAILOPPO!). Ngga ada notif di status bar. Tapi kalo status bar-nya di-expand ke bawah, ada tuh notif card dari Google Now. Dan notif card ini tentang pertandingan Liverpool vs MU. What?! Saya bingung. Perasaan saya ngga pernah setting Google Now. Apalagi setting tentang klub bola. Paling setting weather sama location. Dan saya dapet notif card terus sampe pertandingan selesai. Pokoknya tiap berubah skor, ada notif card baru.

Sampe akhirnya saya penasaran, sebesar apa sih Liverpool FC ini? Sebesar apa sih klub bola yg berasal dari ‘kota pelabuhan kecil’ di barat laut Inggris ini sampe ada jurusan Football Industries? Saya tau Inggris memang negara yg menggarap sektor sepak bolanya dengan sangat serius. Saya ngga sanggup sih kalo disuruh jelasin. You know how it rolls lah. Dengan segala kemeriahannya kalo ada liga-liga sepak bola yg melibatkan Inggris baik dalam kapasitas negara ataupun per klub. Eh bytheway saya ngga tau ya di universitas lain di Manchester atau Chelsea (kalo ada) ada jurusan ini juga apa engga. Saya beneran cuma googling Liverpool. Hehe.

Untungnya saya punya temen-temen (yg ternyata banyak, BANGET) yg suka Liverpool duluan. Jauh-dekat, akrab-engga, banyak yg sama-sama suka Liverpool. Jadi saya belajarnya gampang. Cieee belajar. Kuliah lau gimane, Tik? #pfft Pokoknya saya bener-bener nol deh. Dari bener-bener buta. Dan entah kenapa saya niat banget buat cari tau. Ya gimana, namanya juga jatuh cinta :’) Sampe akhirnya saya ikut-ikutan, nyelip-nyelip ke The Kop Jatinangor. Adminnya saya kenal sih. Hehe. Jadi saya suka minta diajakin. Agak awkward sih awal-awal ikut nobar. Ya kaya lo ngajak fans matinya Metallica ke konser Super Junior lah. Buta. Bingung. Haha. Dan untungnya ponsel selalu jadi penyelamat di segala suasana. Xixixi.

Ya sekarang saya masih suka baca-baca lah tentang Liverpool. Barusan banget saya baca di forum Liverpool Kaskus. Cukup lengkap lah. Bikin saya ngga awam-awam banget sama nama-nama kaya Shankly, King Kenny dll. Kemaren mah saya bingung mereka siapa. Hahaha.

Namanya juga jatuh cinta…

kop

 

Jatinangor, 17 April 2014

Sambil nyemil Taro Seaweed dan dengerin Arti Hadirmu-nya Audy

Quick Post: 20th Birthday

I was turning 20 last Friday. Yes! I’m 20! *malu* *kolot*

Iya, saya tambah tua. Dan ngga tau kenapa menghadapi Jumat kemaren itu rasanya saya takuuuut banget. Mungkin karena angka umur saya ganti kepala. Dan tuntutan akan kedewasaan (DAN PERTANYAAN KAPAN NIKAH) mulai makin berat. Pun tanggung jawab dan kewajiban yg harus dijalanin.

Dan kenapa rasanya dua bulan terakhir ini berat banget buat saya? Penuh perasaan kalut, stres. Iya sih, pernah denger katanya masa-masa 19 ke 20 itu emang penuh gejolak. Tunggu, coba saya inget-inget lagi ada apa aja setaun ke belakang.
*jeda* *jeda* *jeda*
Iya sih, kayanya bener. Walaupun untungnya saya ngga seekstrim cerita yg saya denger itu. Cuma…yah beginilah. Kerasa banget tuh baru mulai Januari dan sepertinya Maret-April ini klimaksnya. Ah namanya juga hidup… :”)

11 April keempat yg dilalui dengan status ‘single’. Selamat 20, Tik! Jodoh kamu masih sama-sama memantaskan diri untuk kamu dan berjodoh di tiga, atau empat tahun lagi :*

PS: I’m relieved tonight. it cant be described by words about the happiness by having people who love and care for me. and it’s a right decision to be at home last Friday :3

Photos taken on April 11th, 2014 at Mom Milk Semarang. Those are me, Irlinza, Tyas, and Ippe. And a beautiful white rose as a gift 

20th 3 20th 4 20th 5

Pesta(?) (Katanya) Demokrasi

Sekitar 15 jam menuju pagi esok hari.

Pagi hari di mana orang-orang udah pada bangun, dandan rapih, walaupun dengan kemeja ala kadarnya. Mulai keluar rumah jalan kaki, naik motor, atau bahkan naik mobil. Ke tenda-tenda terdekat yg di depannya ada papan tulisan ‘TPS’. Iya, besok itu Hari Buang Sampah Nasional 2014. Pfft. Anggap saja ‘suara’mu itu sampah.

Well, beberapa minggu terakhir kan di mana-mana rame bahasnya pemilu ya. Di tv, di radio, di koran, di portal berita online, facebook, twitter, path, di mana-mana. Berserakan! Dan memuakkan. Dan kehadirannya ngga diinginkan. Persis sampah.

Tulisan ini hasil pikiran saya yang terinspirasi dari Bang Pandji di ‘Mesakke Bangsaku’ dan pola pemilihan anggota BPM di kampus saya. Setelah saya berusaha meluruskan dan ngelepasin benang-benang ruwet yg seliweran di otak saya dan bahkan sampe kepikiran ketika saya UTS di dalem kelas, akhirnya saya mikir…

Gimana caranya pola pemilu yang diterapkan sekarang bisa efektif?

I mean, ini negara besar, bung. Yang bahkan buat saling terhubung aja susah. Terpisah jarak dan waktu (#hvft), lautan, selat, samudra, berjam-jam perjalanan, dan ratusan juta manusia. Sering liat kan kasus surat/kotak suara yang terlambat sampe (persis kertas soal UN! (yang juga sampah!)) ke suatu daerah? Atau yg (katanya) rusak di perjalanan pengiriman? Ada berapa juta rupiah uang kita di barang itu? Yang toh pada akhirnya berakhir di ‘TPS’ juga. Sampah.

Jujur aja, kebanyakan dari kita ngga tau, dan ngga mau tau tentang siapa manusia-manusia yg rela ngeluarin uang jutaan rupiah cuma demi seonggok foto dirinya sedang tersenyum munafik atau sedang berpura-pura candid berjabat tangan dengan tukang sapu jalanan yg dipasang membabi buta di tiang listrik atau bahkan pohon-pohon yg bahkan ngga ada izin iklannya. Atau malah di Semarang ada yg lebih absurd lagi. Foto dirinya dengan seorang perempuan yg sedang membenahi kerah bajunya yg katanya ibunya tapi lebih cocok jadi istri atau adeknya, lengkap dengan tulisan quote yg katanya dari ibunya. Who damn cares? Absurd.

Dengan ketidaktahuan seperti itu dan mereka berharap dipilih? Orang gila mana?! Orang gila mana yg berharap terpilih dan dipilih oleh masyarakat di dapilnya sedangkan masyarakat di daerah sana bahkan baru mengetahui wajah dan namanya tiga bulan sebelum pemilihan? Orang gila mana pula yg akan bersedia memilihnya yg tidak pernah ada di hidupnya dan tidak memberi kontribusi apa-apa atau bahkan hanya sekedar untuk ngobrol dengan mereka di sebuah taman atau trotoar pinggir jalan?

Kata Bang Pandji, lo harus ngenalin caleg-caleg. Cari tau track record-nya. Browsing! Internet is in your hand, dude. Jangan dipake buat buka porn aja. Oke, assume that we’ve done this and we’ve already got some names to be voted. Sejauh yg gue tau (CMIIW), jika kita sudah memilih mereka/dia, maka kita adalah konstituen mereka. Benar? Paling tidak ini yang saya pelajari dari pola pemilihan anggota BPM di kampus saya. Dan mereka, dia, orang yg kita pilih ini, mewakili kita di pemerintahan. Di DPR dalam negara, di BPM dalam kampus. Mungkin karena cakupan fakultas yg ngga begitu luas jadi memudahkan para anggota BPM ini untuk tau dan kenal siapa-siapa aja konstituen mereka. Dan bisa benar-benar mendengarkan aspirasi konstituennya. Nah, kalo di DPR?

Siapa konstituen yg punya nomer hape caleg yg dipilihnya? Jangan deh nomer hape yg private, akun twitter/facebook aja, terus pernah mention-mentionan/chat/ngobrol lah. Jangan, jangan DM-Dman (–,) Siapa konstituen yg (at least) pernah berjabat tangan dengan ‘wakil’nya? No, bukan handshake event-nya JKT48 (–,) Paling juga dikit. Dari satu dapil dia yang segitu gede dan luas, bisa diitung deh berapa orang yang bisa jawab ‘saya’ dari dua pertanyaan sederhana saya di atas.

Ini kan aneh. Mereka mewakili kita lho. Dalam pola BPM kampus saya, kalo kita punya aspirasi, baik itu keluhan, pujian, saran, kritik, apapun, disampaikan kepada yg tertinggi, yaitu pihak dekanat, melalui mereka. IMHO, seharusnya pola yg sama juga dilakukan pada skala negara ini. Tapi kalo kita aja ngga kenal (beneran kenal lho ya bukan sekedar tau nama tau muka tapi ngga pernah ngobrol), gimana kita mau nyampein aspirasi kita? Berapa orang yg ketika udah terpilih dan ngerasain enaknya bangku dan AC ruang rapat paripurna yg masih mau bertegur sapa sm konstituennya seandainya misalnya ngga sengaja ketemu di jalan? Berapa orang yg masih mau balesin sms dari konstituennya? Atau sekedar menjawab sms salam selamat khas Muslim dari konstituennya? Berapa yg masih mau kembali mengunjungi dapilnya dan mencari tahu ada masalah apa di sana dalam lima tahun masa jabatannya ke depan? Kalo ada, yuk kenalin ke saya. Nanti saya milih dia deh.

Entah sih, saya awam soal politik. Anggap saja ini bentuk terkecil dari kepedulian saya terhadap politik negara ini. Walaupun kalo mau jujur, saya mah bodo amat dan ngga mau tau. Hahaha.

Saya bukan aktivis golput. Pun saya bukan kader partai tertentu. Anggap saja saya anak muda (kecil woy 19 taun lau!) yg peduli sama negaranya dan ngga mau lagi disusahin oleh orang-orang busuk yg duduk di bangku pemerintahan yg malah cuma bisa menghilangkan kepercayaan rakyatnya terhadap pemerintah dan (sedikit) orang-orang baik yg masih ada di sana.

Anggap saja suara itu sampah. Yang harus dibuang pada tempatnya. (annskaa)

Randomly Chosen

Lo emang ngga pernah bisa tau akan jatuh cinta dengan siapa. Lo ngga pernah bisa mengontrol dan mengatur soal dengan siapa lo akan jatuh cinta. Lo ngga pernah bisa mengelak kalo ‘cupid’ udah ngelepas anak panahnya.

Tapi…
Cinta ngga pernah sesederhana itu. Cinta ngga pernah sesederhana dan semudah apa yg lo tonton di ftv atau sinetron. Cinta ngga pernah sesederhana naksir-pdkt-jadian.

Ya pokoknya gitulah. Saya lagi ‘feeling blue’ karena ngerasa saya lagi salah jatuh cinta. Mungkin waktunya tepat untuk saya jatuh cinta, tapi sepertinya orangnya tidak. Entahlah…you must be know how it feels when you fall in love to the person who is ‘different’ with you. Dalam kasus saya, berbeda ‘kelas’. Mungkin beberapa orang bilang ‘perbedaan itu menyatukan, perbedaan itu menguatkan’. Toh kenyataannya, seringkali perbedaan itu yg menyulitkan.

Oh God, if only I could choose the person whom I will fall in love. And if only I’m brave enough to show & say my feeling :”)

Yes, my heart chose you randomly…