Pesta(?) (Katanya) Demokrasi

Sekitar 15 jam menuju pagi esok hari.

Pagi hari di mana orang-orang udah pada bangun, dandan rapih, walaupun dengan kemeja ala kadarnya. Mulai keluar rumah jalan kaki, naik motor, atau bahkan naik mobil. Ke tenda-tenda terdekat yg di depannya ada papan tulisan ‘TPS’. Iya, besok itu Hari Buang Sampah Nasional 2014. Pfft. Anggap saja ‘suara’mu itu sampah.

Well, beberapa minggu terakhir kan di mana-mana rame bahasnya pemilu ya. Di tv, di radio, di koran, di portal berita online, facebook, twitter, path, di mana-mana. Berserakan! Dan memuakkan. Dan kehadirannya ngga diinginkan. Persis sampah.

Tulisan ini hasil pikiran saya yang terinspirasi dari Bang Pandji di ‘Mesakke Bangsaku’ dan pola pemilihan anggota BPM di kampus saya. Setelah saya berusaha meluruskan dan ngelepasin benang-benang ruwet yg seliweran di otak saya dan bahkan sampe kepikiran ketika saya UTS di dalem kelas, akhirnya saya mikir…

Gimana caranya pola pemilu yang diterapkan sekarang bisa efektif?

I mean, ini negara besar, bung. Yang bahkan buat saling terhubung aja susah. Terpisah jarak dan waktu (#hvft), lautan, selat, samudra, berjam-jam perjalanan, dan ratusan juta manusia. Sering liat kan kasus surat/kotak suara yang terlambat sampe (persis kertas soal UN! (yang juga sampah!)) ke suatu daerah? Atau yg (katanya) rusak di perjalanan pengiriman? Ada berapa juta rupiah uang kita di barang itu? Yang toh pada akhirnya berakhir di ‘TPS’ juga. Sampah.

Jujur aja, kebanyakan dari kita ngga tau, dan ngga mau tau tentang siapa manusia-manusia yg rela ngeluarin uang jutaan rupiah cuma demi seonggok foto dirinya sedang tersenyum munafik atau sedang berpura-pura candid berjabat tangan dengan tukang sapu jalanan yg dipasang membabi buta di tiang listrik atau bahkan pohon-pohon yg bahkan ngga ada izin iklannya. Atau malah di Semarang ada yg lebih absurd lagi. Foto dirinya dengan seorang perempuan yg sedang membenahi kerah bajunya yg katanya ibunya tapi lebih cocok jadi istri atau adeknya, lengkap dengan tulisan quote yg katanya dari ibunya. Who damn cares? Absurd.

Dengan ketidaktahuan seperti itu dan mereka berharap dipilih? Orang gila mana?! Orang gila mana yg berharap terpilih dan dipilih oleh masyarakat di dapilnya sedangkan masyarakat di daerah sana bahkan baru mengetahui wajah dan namanya tiga bulan sebelum pemilihan? Orang gila mana pula yg akan bersedia memilihnya yg tidak pernah ada di hidupnya dan tidak memberi kontribusi apa-apa atau bahkan hanya sekedar untuk ngobrol dengan mereka di sebuah taman atau trotoar pinggir jalan?

Kata Bang Pandji, lo harus ngenalin caleg-caleg. Cari tau track record-nya. Browsing! Internet is in your hand, dude. Jangan dipake buat buka porn aja. Oke, assume that we’ve done this and we’ve already got some names to be voted. Sejauh yg gue tau (CMIIW), jika kita sudah memilih mereka/dia, maka kita adalah konstituen mereka. Benar? Paling tidak ini yang saya pelajari dari pola pemilihan anggota BPM di kampus saya. Dan mereka, dia, orang yg kita pilih ini, mewakili kita di pemerintahan. Di DPR dalam negara, di BPM dalam kampus. Mungkin karena cakupan fakultas yg ngga begitu luas jadi memudahkan para anggota BPM ini untuk tau dan kenal siapa-siapa aja konstituen mereka. Dan bisa benar-benar mendengarkan aspirasi konstituennya. Nah, kalo di DPR?

Siapa konstituen yg punya nomer hape caleg yg dipilihnya? Jangan deh nomer hape yg private, akun twitter/facebook aja, terus pernah mention-mentionan/chat/ngobrol lah. Jangan, jangan DM-Dman (–,) Siapa konstituen yg (at least) pernah berjabat tangan dengan ‘wakil’nya? No, bukan handshake event-nya JKT48 (–,) Paling juga dikit. Dari satu dapil dia yang segitu gede dan luas, bisa diitung deh berapa orang yang bisa jawab ‘saya’ dari dua pertanyaan sederhana saya di atas.

Ini kan aneh. Mereka mewakili kita lho. Dalam pola BPM kampus saya, kalo kita punya aspirasi, baik itu keluhan, pujian, saran, kritik, apapun, disampaikan kepada yg tertinggi, yaitu pihak dekanat, melalui mereka. IMHO, seharusnya pola yg sama juga dilakukan pada skala negara ini. Tapi kalo kita aja ngga kenal (beneran kenal lho ya bukan sekedar tau nama tau muka tapi ngga pernah ngobrol), gimana kita mau nyampein aspirasi kita? Berapa orang yg ketika udah terpilih dan ngerasain enaknya bangku dan AC ruang rapat paripurna yg masih mau bertegur sapa sm konstituennya seandainya misalnya ngga sengaja ketemu di jalan? Berapa orang yg masih mau balesin sms dari konstituennya? Atau sekedar menjawab sms salam selamat khas Muslim dari konstituennya? Berapa yg masih mau kembali mengunjungi dapilnya dan mencari tahu ada masalah apa di sana dalam lima tahun masa jabatannya ke depan? Kalo ada, yuk kenalin ke saya. Nanti saya milih dia deh.

Entah sih, saya awam soal politik. Anggap saja ini bentuk terkecil dari kepedulian saya terhadap politik negara ini. Walaupun kalo mau jujur, saya mah bodo amat dan ngga mau tau. Hahaha.

Saya bukan aktivis golput. Pun saya bukan kader partai tertentu. Anggap saja saya anak muda (kecil woy 19 taun lau!) yg peduli sama negaranya dan ngga mau lagi disusahin oleh orang-orang busuk yg duduk di bangku pemerintahan yg malah cuma bisa menghilangkan kepercayaan rakyatnya terhadap pemerintah dan (sedikit) orang-orang baik yg masih ada di sana.

Anggap saja suara itu sampah. Yang harus dibuang pada tempatnya. (annskaa)

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s