Month: October 2014

Petrichor

Takkan ada artinya jika kamu mencari di Google translate

Petrichor takkan ada artinya jika kamu tidak menikmatinya

Petrichor hanya bisa dinikmati oleh orang tertentu

Yang mampu menjadikan momen paling sedih sebagai momen paling bahagia

Petrichor lebih wangi dari harum pacarmu

Petrichor lebih menenangkan dari wangi aromatherapy

Petrichor hanya mampu ternikmati oleh orang yang berani

Yang berani mendatangi apa yang orang lain jauhi

Yang berani membuka apa yang orang lain tutup

Yang berani menghirup ketika orang lain menahan nafas

Petrichor adalah kejatuhcintaan

Dan hanya orang-orang yang berani yang bersedia jatuh cinta pada petrichor

Advertisements

Teman dan Media Sosial

quotes_jay_baer550

Beberapa orang mendewakan media sosial. Sampai menganggap bahwa pertemanan sejati tumbuh dan dibuktikan dengan ‘berteman’ di media sosial. Dan ketika media sosial ‘tidak lagi berteman’, maka putus pula pertemanannya. Seringkali, batasan antara yg nyata dan yg semu nyaris tidak ada. Padahal mencampurkan dua dunia tidaklah bijak.

Beberapa orang memiliki alasan dan hak penuh atas media sosialnya. Bukan, bukan berarti berhak meng-‘kumaha aing’-kan konten pada media sosialnya. Tapi percayalah kawan, tidak berteman di media sosial bukan berarti tidak berteman di kehidupan nyata. Beberapa orang memiliki alasan tertentu dengan memutuskan untuk tidak berteman dengan kawan dunia nyatanya di media sosial. Menyelamatkan diri dan menyembuhkan hati sendiri, misalnya.

Teman adalah penting. Apalagi untuk orang ENFP yg menjunjung tinggi sosial seperti saya. Kehilangan teman bukan sesuatu yg menyamankan, kawan. Tapi percayalah, untuk orang-orang yg tidak berteman di media sosial dengan saya, saya adalah tetap teman anda…

Dewasa

mature-quotes-4

“Jangan berani-berani ngaku dewasa deh kalo belom 20.”

Begitu kata saya pada seorang kawan berumur 18 tahun. Hahahaha. Well then, sebenernya bukan saya mendiskriminasi “adik-adik” yang masih berumur di bawah 20 tahun. Tapi percayalah, menyandang ‘status’ dewasa itu tidak mudah, Dik. Trust me.

Mature. Old.

Dua kata yang…kelihatannya sih mirip ya. Tapi beda. Literally translation-nya untuk masing-masing adalah ‘dewasa’ dan ‘tua’. See? Sederhana kok. Kalian juga pasti sering denger istilah ‘tua itu pasti, dewasa itu pilihan’. IMO, dewasa adalah sebuah keharusan. Tua memang mengenai usia dan fisik, sedangkan dewasa adalah mengenai psikologis. Tua adalah pertumbuhan, dewasa adalah perkembangan. Kamu mau bertumbuh tanpa berkembang? Ngga mau dong. Saya pun begitu. Pertumbuhan adalah pasti, perkembangan adalah pilihan? Salah. Perkembangan adalah keharusan. Yang seharusnya disadari sejak dini. Supaya ngga ‘telat dewasa’. Harusnya sih begitu.

Dewasa itu ditandai dengan apa? Menurut saya, cara paling sederhana untuk mengukur kedewasaan seseorang adalah melalui cara mengendalikan emosi. Emosi di sini bukan hanya marah ya, tetapi perasaan. Emotion. Dan…kemampuan menghadapi masalah. Orang yg memang (sudah) benar-benar dewasa menurut saya akan jauh lebih mampu mengendalikan emosinya. Misal, dengan tidak bertindak gegabah ketika marah. Lalu kemampuan menghadapi masalah…mungkin ini lebih ke ‘pake otak’ gitu ya kalo lagi dihadapkan pada sebuah masalah. Jadi ngga ngeduluin ‘perasaan’ atau si ‘emotion’nya tadi. Yaaaa pokoknya semacam kemampuan-kemampuan yg bikin diri kita upgraded than before. Buat saya, batasnya adalah usia 20.

Ada perbedaan besar yang terasa ketika memasuki usia 20. Ya itu, ‘gerbang kedewasaan’. ((ya’elaaaaahhh si Tika lebe amat bahasanya lebe. Hahaha)) Dewasa juga menurut saya ditandai dengan kemampuan bertanggung jawab. Menerima segala resiko dan konsekuensi yang terjadi sebagai akibat dari keputusan-keputusan yang diambil, misalnya. Dewasa ngga bisa sekedar ditandai dengan kepemilikan KTP, kawan. You have it when you’re 17 which you’re still in a senior high school grade. Dan semua keputusan serta kesalahan yg sekiranya kalian ambil di masa itu, masih akan dapet ‘back up’ atau ‘pembelaan’ dari manapun. Orang tua misalnya, atau guru BK sekolah. Hahaha. Begitupun ketika 18 dan 19.

But when you’re 20, the responsibility is all yours, dude. Ya ngga ‘makjleg’ juga sih, tapi sudah mulai banyak. Jauh lebih banyak. Setiap keputusan yg diambil, kesalahan yg timbul, resiko dan konsekuensi yg muncul, mostly ditanggung sendiri. Ngga ada guru BK yg bantu back up, orang tua pun…yaaa belain mah masih, cuma ya sudah mulai melepas juga. 19-20 itu masa-masa paling labil sih menurut saya. Hahaha. Transisi antara ‘teenager’ menuju ‘adult’, ‘young adultprecisely ((bahasanya The Sims niiihh)). Dan kebanyakan dilalui dengan membuat banyak keputusan yg ternyata salah. Lalu…ya gitu. Pait-paitnya ditanggung sendiri. HAHAHA. Yah, namanya juga belajar. InsyaAllah masih akan ada sekitar 44 tahun lagi untuk memperbaiki dan menjadi lebih baik. Ya dong, kalo umat Rasulullah kan jatah umurnya mostly sekitar 64 tahun. Hehe.

Therefore, untuk semua keterlanjuran dan kesalahan, percayalah ngga akan ada yg bisa menghindar dan menghilangkan perasaan bersalah atau menyesal, sewoles apapun kita menganggapnya. But it’ll be much better to consider it as a precious lesson to be a better person in the future. Introspeksi lah bahasanya mah. There’s nothing we can do anymore about our past, right? Terlalu dalam menyesali dan feeling guilty malah akan membuat hidup berhenti. We learn anyway. Heheh.

Kalo ada yg bilang ‘hope is dangerous’, then don’t hope. Wish. Wish for it, work for it, pray for it. God rules, guys. Kadang tanpa harapan, hidup malah jadi ngga bergairah 😉

Jati Diri

quote

Early 20. Young adult. Masa transisi dari remaja menuju dewasa. Which is really full of distortion and confusion. Saya memasuki masa 20 dengan stres dan ketakutan luar biasa. 1-2 bulan sebelum saya officially 20, saya bener-bener stres dan takut. Mungkin kebiasaan overthinking saya ikut memperparah keadaan saya saat itu. Hvft.

Pun dengan beberapa bulan terakhir. Selalu rasanya ada yg salah. Ada yg kurang. Ada yg ngga tepat. Tapi saya bingung apa itu. Dengan saya menemukan lingkungan baru, friend circle baru, dan sedang sering berada di dalamnya, kalo hati itu 100%, 20% persennya selalu teriak-teriak dan berusaha mengingatkan saya bahwa ada yg salah dan ngga tepat. Mungkin si 20% ini adalah apa yg sering kita sebut sebagai “hati kecil”. Tapi karena kadarnya yg sangat kecil, saya seringkali mengabaikannya. Lalu mulai merasa parno setiap mau tidur dan miring ke kanan which is menghadap ke depan kamar mandi yg berhadapan dengan cermin besar di lemari. Saya selalu merasa ada yg mengawasi saya dari daerah situ. Sampai di beberapa hari yg lalu, dan kemudian perasaan ‘ada yg mengawasi’ tersebut berkurang. Iya, mungkin kemaren ada yg Allah kirim untuk ngawasin saya dan dia berdiam di situ. Sampe akhirnya saya sekarang ‘tidak sesalah dulu’ dan perasaan itu berkurang.

Katanya masa muda itu harus dinikmati sepenuhnya. Bahasanya “LIVE TO THE FULLEST”. Iya sih bener. Dengan tidak mengabaikan persiapan diri untuk menghadapi dan menjalani masa tua nanti. Well, 20 hanyalah angka. 20 tidak bisa menjamin dan membuktikan sepenuhnya bahwa saya sudah dewasa. Mature. Matang. Karena toh saya ternyata masih bisa melakukan kesalahan-kesalahan baik kecil maupun besar yg pada akhirnya saya sesali dan saya coba tebus.

Saya pernah berada di berbagai lingkungan, berbagai friend circle. Beberapa masih terjaga, beberapa sudah renggang. Mungkin ini adalah salah satu proses saya mencari jati diri. Kenyamanan, kejatuhcintaan, kebahagiaan. Di mana dan di bidang apa saya bisa mendapatkan itu semua. Salah satu yg saya yakini saat ini adalah…saya emang ngga bisa bandel. I’ve tried! Siapa sih manusia di dunia ini yg ngga pernah bandel? Sesederhana nyontek atau bolos kelas aja. Hahaha. Well, kalo cuma dua hal ini mah saya masih ‘yaudahlahyaa’. Tapi buat bandel yg ‘bandel banget’, saya ngga mampu. Setiap saya menuju atau berada di zona ‘bandel banget’, saya selalu ditegur dan diingatkan untuk balik ke ‘jalan yg lurus’. Dan cara saya ditegur atau diingatkan sampai bisa ‘kembali’ itu, ngga pernah lembek, ngga pernah gampang. KERAS!

Saya bersyukur saya masih selalu dijagain walaupun kadang memang ‘sudah terlanjur’. Tapi saya percaya, di dalam semua keterlanjuran akan selalu ada pelajaran dan pengalaman yg sangat sangat berharga, priceless. Sakit hati, sedih, marah, dan segala perasaan negatif akan selalu ada. Tapi saya yakin ini ngga akan berlangsung selamanya. Ngga pernah ada badai ngga berlalu. Emang setelah badainya pergi akan ada sangat banyak PR yg cuma bisa dikerjain dan dibenerin oleh kita sendiri.  Tergantung secepat apa kita tanggap untuk ‘membereskan’ PR-PR ini.

Satu hal yg saya sangat jatuh cinta dan ngga bisa tinggalkan dan selalu bisa menguatkan saya adalah ini 🙂

Liverpool Says...

Liverpool Says…

Venus Meets Mars

Yang ngga mau mikir berat, mending jangan baca postingan ini 😀

Jadi, saya tuh lagi kepikiran tentang laki-laki. Nope, bukan soal cinta-cintaan. Tapi tentang laki-laki. Ya pokoknya laki-laki deh. Hahahaha. Mungkin lebih ke…mmm…cara pikir mereka. Jadi saya lagi sok-sokan memasuki pikiran mereka. Padahal mah entah berhasil atau engga. Haha. Saya kepikiran ini hasil dari ngobrol sama banyak orang. Ada yg laki-laki, ada yg perempuan.

Pernah dong liat gambar ini yg beberapa waktu lalu sempet hits di Path.

Untitled

Cukup menggambarkan lah ya. Bahwa kebanyakan, mungkin semua, laki-laki pengen punya perempuan yg mampu mendukung dan ada buat dia dari bawah dan/atau ketika di bawah. Temen saya, cowo, juga pernah bilang gini,

“Gue pengen deh punya cewe kaya dia. Yg bisa ngebimbing gue, bantuin gue, nyemangatin gue. Tapi bokap selalu nyuruh gue buat kerja dulu, mapan dulu, nanti juga cewe bakal dateng dengan sendirinya. Iya bener, perempuan mana yg ngga mau sama laki-laki yg udah mapan, Tik? Yg udah punya semuanya, yg udah bisa ngejamin hidupnya dia bakal enak. Ya mungkin teteplah dia cinta sama kita, tapi ngga munafik, pasti ada faktor duitnya juga kan? Pasti deh, ngga mungkin engga. Cuma kan gue pengennya punya pasangan yg bisa nemenin gue ngga senengnya doang, tapi pas susah juga. Yg mau berjuang bareng dari bawah.”

Saya manggut-manggut doang ngedenger ini. Emang bener, perempuan mana yg ngga silau dan kepengen ngeliat laki-laki yg udah financial secure? Yg udah bisa ngejamin bakal hidup enak. Saya juga pengen kok. Ngga munafik ya. Tapi entahlah, kalo saya, KALO SAYA, mikirnya emang bakal lebih seru dan ‘dapet’ kalo emang mulai bareng-bareng dari bawah. Ibaratnya daki gunung nih, hiking, berdua sama pasangan, yg kalo kita kepeleset dia megangin begitupun sebaliknya, yg kalo kita ngga kuat naik disemangatin, ditungguin istirahat terus jalan lagi bareng-bareng, yg kalo dia haus atau laper kita bisa kasih makanan ke dia, dan lain-lain, saya ngga ngerti detilnya apa yg terjadi kalo lagi daki gunung. Saya ngga pernah soalnya, cuma nonton di 5 CM aja. Hahahaha. Tapi saya yakin, dengan segala yg udah dilewatin bareng-bareng, pas udah sampe atas, di atas bareng-bareng, rasanya juga pasti lebih puas. Soalnya tau susahnya gimana, ngerti perjuangannya kaya apa. Emm, mungkin pola pikir saya kebentuk dari keluarga juga kali ya? Saya tau soalnya jaman dulu orang tua saya susah kaya apa dan nyokap saya selalu setia ngedampingin bokap saya. Singkatnya, semacam ibu saya itu role model buat saya. Dan saya rasa, yaaaaa walaupun bukan ngga mungkin sih si cowo bakal tergoda buat berpaling ke yg lain ketika udah di atas (toh Tuhan sudah sangat menjelaskan bahwa godaan terbesar buat laki-laki adalah harta, tahta, dan wanita), tapi saya rasa mereka, laki-laki, juga bukan yg ngga punya perasaan. Mereka pasti akan lebih bisa menghargai perempuan yg nemenin dia berjuang susah payah bukan?

Saya mengerti sih kadang mereka, laki-laki, punya kekhawatiran nanti ngga bisa ngebahagiain. Saya juga ngerti laki-laki mikir gini karena emang mereka punya tanggung jawab dan kewajiban yg banyak. Yaaa hukum waris aja walaupun laki-laki dapet dua bagian tapi itu termasuk utk istri & anak-anaknya kan, sedangkan perempuan satu bagian hanya untuk dirinya sendiri. Laki-laki juga menanggung dosa istrinya, anak-anaknya, saudara perempuannya. Ugh, kalo bahas kaya gini rasanya jadi jelas banget batasan kewajiban dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Terus saya jadi punya penyesalan sendiri kenapa saya ngga bisa mengerti dan inget dari awal. Hahahaha. Oke, lanjut!

Dari beberapa obrolan dengan kawan saya yg lain, yg laki-laki juga, di satu sisi mereka juga maunya menyiapkan diri dulu dengan segala macemnya untuk si perempuan yg akan jadi pasangannya kelak. Yaaa bahasanya mah ‘mapan dulu’. Saya ngerti perasaan dan keinginan ini muncul karena itu tadi, keinginan mereka untuk bisa sepenuhnya membahagiakan perempuannya nanti. Bahasanya temen saya, “ngeramut anak bojo kanthi apik”. (Yg orang Jawa pasti ngerti deh :D) Ini terlepas dari bahasan ‘menghindari harta gono-gini kalo cerai’ ya. Saya ngga ngerti deh kalo ranah itu. Lagipula saya mah mikirnya menikah itu ya once in a lifetime, for the lifetime. Naudzubillah min dzalik deh kalo soal cerai-ceraian.

Temen saya yg perempuan juga pernah bilang gini ke saya, “Lo tau ngga sih, Tik? Kadang cowo tuh kalo ninggalin kita dengan alasan yg menurut kita klise, tapi sebenernya mereka mikirin banget loh. Misal, dia pergi karena dia jarang punya waktu buat kita dan semacam nyuruh kita buat cari orang lain aja yg bisa spend waktu lebih banyak. Menurut kita emang alesannya klise, klise banget. Kaya hal yg ngga bisa diselesein atau ditolerir aja sampe harus putus. Padahal sebenernya mereka mikirin banget lho, Tik.”

Dan gue cuma bisa nanggepin, “Gue ngga tau deh, Ndut. Rasanya menyinkronkan pola pikir mereka dengan kita tu kok ya susah banget. Kita ngga ngerti mereka sepenuhnya, mereka juga ngga ngerti kita sepenuhnya.” Ini kali ya kenapa ada istilah ‘men are from Mars, women are from Venus’. Hahahaha.

Banyak kok laki-laki yg mikir kaya temen cowo pertama saya yg pengen punya perempuan yg bisa nemenin dari bawah, dan ngga sedikit pula yg mikir utk nyiapin segalanya dulu buat kekasih dunia-akhiratnya nanti.  Ya kalo saya mah dikasih yg mana aja kelak ya yg mana jodohnya aja. Diajak susah dulu ayo, dikasih langsung enak ya disyukuri. Allah kan Mahasempurna. Sutradara Semesta, Scriptwriter Semesta, Segalanya deh :’)

Saya cuma percaya, dengan kita do good, do best, total dan ngga setengah-setengah ke siapapun dan apapun, kita bakal dapet hasil yg baik pula. Apa yg ditanam dan dikerjakan selama prosesnya itu akan selalu sesuai kok sama apa yg akan kita dapet nanti. Kalo ternyata hasilnya belum sesuai, ya Tuhan lagi sayang banget berarti sampe nyuruh kita buat review dan benerin apa yg perlu dibenerin. Iya kan? Percaya aja Tuhan ngga akan ninggalin hamba-Nya. Ditinggalin Tuhan itu ngga enak, serius. Hahahaha.

Udah ngga usah sampe berkerut-kerut kening gitu bacanya, gaes. Saya cuma mau menuangkan apa yg perlu dituangkan kok. Hah? Apa? Saya siap nikah? Belooomm! Saya masih mau cumlaude dulu, kerja dulu. Ini ngedraf Bab 1 aja beloman wae. Hahahaha.

Thanks for reading ya. Ada salam dari Mas SuperGanteng Nomor Punggung 20! Selamat menang! Liverpool 2 – 1 WBA.. :*

Untitled2

 

PS: thanks to Oka, Najib, and Nduty. You guys inspired me on writing this :3