Jati Diri

quote

Early 20. Young adult. Masa transisi dari remaja menuju dewasa. Which is really full of distortion and confusion. Saya memasuki masa 20 dengan stres dan ketakutan luar biasa. 1-2 bulan sebelum saya officially 20, saya bener-bener stres dan takut. Mungkin kebiasaan overthinking saya ikut memperparah keadaan saya saat itu. Hvft.

Pun dengan beberapa bulan terakhir. Selalu rasanya ada yg salah. Ada yg kurang. Ada yg ngga tepat. Tapi saya bingung apa itu. Dengan saya menemukan lingkungan baru, friend circle baru, dan sedang sering berada di dalamnya, kalo hati itu 100%, 20% persennya selalu teriak-teriak dan berusaha mengingatkan saya bahwa ada yg salah dan ngga tepat. Mungkin si 20% ini adalah apa yg sering kita sebut sebagai “hati kecil”. Tapi karena kadarnya yg sangat kecil, saya seringkali mengabaikannya. Lalu mulai merasa parno setiap mau tidur dan miring ke kanan which is menghadap ke depan kamar mandi yg berhadapan dengan cermin besar di lemari. Saya selalu merasa ada yg mengawasi saya dari daerah situ. Sampai di beberapa hari yg lalu, dan kemudian perasaan ‘ada yg mengawasi’ tersebut berkurang. Iya, mungkin kemaren ada yg Allah kirim untuk ngawasin saya dan dia berdiam di situ. Sampe akhirnya saya sekarang ‘tidak sesalah dulu’ dan perasaan itu berkurang.

Katanya masa muda itu harus dinikmati sepenuhnya. Bahasanya “LIVE TO THE FULLEST”. Iya sih bener. Dengan tidak mengabaikan persiapan diri untuk menghadapi dan menjalani masa tua nanti. Well, 20 hanyalah angka. 20 tidak bisa menjamin dan membuktikan sepenuhnya bahwa saya sudah dewasa. Mature. Matang. Karena toh saya ternyata masih bisa melakukan kesalahan-kesalahan baik kecil maupun besar yg pada akhirnya saya sesali dan saya coba tebus.

Saya pernah berada di berbagai lingkungan, berbagai friend circle. Beberapa masih terjaga, beberapa sudah renggang. Mungkin ini adalah salah satu proses saya mencari jati diri. Kenyamanan, kejatuhcintaan, kebahagiaan. Di mana dan di bidang apa saya bisa mendapatkan itu semua. Salah satu yg saya yakini saat ini adalah…saya emang ngga bisa bandel. I’ve tried! Siapa sih manusia di dunia ini yg ngga pernah bandel? Sesederhana nyontek atau bolos kelas aja. Hahaha. Well, kalo cuma dua hal ini mah saya masih ‘yaudahlahyaa’. Tapi buat bandel yg ‘bandel banget’, saya ngga mampu. Setiap saya menuju atau berada di zona ‘bandel banget’, saya selalu ditegur dan diingatkan untuk balik ke ‘jalan yg lurus’. Dan cara saya ditegur atau diingatkan sampai bisa ‘kembali’ itu, ngga pernah lembek, ngga pernah gampang. KERAS!

Saya bersyukur saya masih selalu dijagain walaupun kadang memang ‘sudah terlanjur’. Tapi saya percaya, di dalam semua keterlanjuran akan selalu ada pelajaran dan pengalaman yg sangat sangat berharga, priceless. Sakit hati, sedih, marah, dan segala perasaan negatif akan selalu ada. Tapi saya yakin ini ngga akan berlangsung selamanya. Ngga pernah ada badai ngga berlalu. Emang setelah badainya pergi akan ada sangat banyak PR yg cuma bisa dikerjain dan dibenerin oleh kita sendiri.  Tergantung secepat apa kita tanggap untuk ‘membereskan’ PR-PR ini.

Satu hal yg saya sangat jatuh cinta dan ngga bisa tinggalkan dan selalu bisa menguatkan saya adalah ini 🙂

Liverpool Says...

Liverpool Says…

Advertisements

One comment

  1. memasuki umur 20-an memang agak riskan dan rumit, katanya ..
    dan memang itu yang dirasakan, terkadang masih terombang-ambing, terkadang sangat kekanankan, terkadang juga bisa dewasa, yah .. nikmati saja lah ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s