Month: January 2015

“The Imitation Game” ala Saya

Sepertinya saya harus bikin kategori baru. Atau kategori yg lama diganti nama. Haha..

Well then, siang ini saya ke bioskop. Sendirian. Iya. Udah ih, atuhda joms. Dan saya nonton sebuah film berjudul The Imitation Game. Sebenernya saya pengen nonton ini awalnya cuma gara-gara aktor utamanya adalah Benedict Cumberbatch yang-udah-tunangan-itu 😦 Itu loh yg jadi Sherlock Holmes di serial tv Sherlock. Iya yg mukanya dingin dan nyebelin abis tapi entah kenapa charming aja gitu diliatnya. Hvft. Tapi karena saya adalah orang yg (over)well-planned, saya baca sinopsis dan nonton trailernya dulu. Kalau di 21cineplex.com mah katanya: “Berdasarkan kisah kehidupan nyata seorang cryptanalyst legendaris Alan Turing, salah satu ahli Matematika terbaik di dunia dan Enigma: alat pembuat kode terhebat dalam sejarah. Film ini menceritakan tentang tim jenius bentukan Alan Turing (Benedict Cumberbatch) dalam memecahkan kode rahasia penting Jerman selama Perang Dunia ke II.”

imi2

Oke. Jadi Benedict Cumberbatch PLUS film menyangkut perang yg ngga ada perangnya. Nice! Basi aja sih kalo film perang tembak-tembakan dan show off betapa heroik, jagoan, dan nasionalisnya tentara Amerika. Blah. Hollywood abis. Oia, The Imitation Game ini adalah film Inggris. Hahaha. Jadi siap-siap eargasm karena British accent for the entire movie. Klimaks! Selain itu saran saya sih buat penggila laki-laki tampan nan charming, kalau di kota kalian film ini ada di bioskop, mending nonton di bioskop. Puas banget nontoninnya. Hahaha.

Masuk ke cerita. Ya kaya sinopsis dari 21cineplex di atas lah. Tentang Alan Turing yg melegenda. And thank him because if he couldn’t solve Enigma, I definitely can’t type this post. Thank him because every code can be decrypted by machine now. Thank him because he made the embryo of what we called computer now. Hail Turing! (Nanti di film kalian akan sering mendengar ‘Hail Hitler’ :D) Turing ini ceritanya jenius abis. Dia berpikir dengan perspektif berbeda dari kebanyakan orang. Dan frontal plus ngga bisa di’kode’in. Aneh ya? Code breaker tapi ngga bisa di’kode’in. Pokoknya kalo mau ngomong sama Turing harus straight. Ngga bisa ala ABG pacaran yg cuma ‘Beb, aku laper’ padahal maksudnya ‘Kamu keluar dong beliin makan, aku mager’. Ahelah masih aje, Dek.

Dan seperti kebanyakan nerd yg supercerdas, Turing dibully di sekolah dan cuma punya satu temen, Christopher, yg akhirnya namanya dipakai utk mesin anti-Enigma. Enigma punya 159.000.000.000.000.000.000 peluang untuk settingnya. Tiap hari setting Enigma diganti pas jam 00.00. Jadi kalau dalam 24 jam Turing dkk ngga berhasil, babay! Kerjaan mereka hari itu sia-sia dan harus ulang lagi dari nol. Gimana ya jelasinnya? Nonton sendiri deh biar lebih ngerti, guys. Hehe. Perjalanan dari dia pertama kali join proyek super-classified pemerintah Inggris tentang Enigma sampe akhirnya “Christopher” bisa berhasil mecahin recent Enigma’s setting itu banyak ups and downs-nya. Drama dan romance juga ada pasti. Itu mah ingredients wajib di semua international film.

Tapi ada dua scene yg buat saya berkesan banget. Sayangnya itu ngga diperanin sama Cumberbatch karena ceritanya ttg Turing kecil yg masih sekolah. 1st scene is when Turing wrote “I LOVE YOU” in code for Christopher, terus pas mau dikasihin dia nungguin Christopher di tengah kerumunan anak-anak yg mau pulang liburan (ceritanya sekolahnya asrama) tapi Christopher-nya ngga ada. It’s heart-breaking. Sumpah. Rasanya kaya kamu udah siap ngelamar terus ternyata inceranmu udah nikah. 2nd scene is when little Turing went to headmaster’s room and he’s informed that Christopher’s dead. It’s SUPER heart-breaking. Christopher meninggal karena TBC. Taulah Eropa era 40-50an masih sering dilanda wabah dan penyakit-penyakit serem kan. Berat ngga sih jadi Turing kecil? Dibully, realize and admit that he’s a gay (homosexual at that time), dan kehilangan satu-satunya teman dan orang yg dia sayang di sekolah meninggalkannya sendirian? Jujur, selama dua scene ini dan scene satu lagi di nyaris-ending yg nunjukin betapa Turing sendirian dan kesepian bikin saya sadar ngga sadar ngebuka luka lama. Have I ever in that position? Definitely. Tahun pertama saya di Makassar…wuuuhhh!! Sakit hati kalo inget teh 😥

In the end, adult Turing is punished for indecent accusation. Why? Because he’s a homosexual which is illegal at that time. Man! Selama scene ini saya mikir, “Gila ya, Inggris punya norma yg begitu kuat setengah abad yg lalu. Walaupun sebenernya ngga make sense juga kalo harus sampai menghukum orang dgn cara inhuman ‘hanya’ karena dia punya disorientasi seksual. Dan sekarang Inggris punya berapa banyak gay?” Sounds so secular? Haha. Pikiran saya rumit sih sebenernya. Karena saya tahu dan saya percaya bahwa disorientasi seksual adalah salah. Karena bukan saya yg bilang bahwa disorientasi seksual itu salah. Tapi asa kasian juga gitu kalo harus dihukum ‘sebegitunya’. Dan ini bikin saya sadar, bahwa aturan yg Islam bawa itu memang tidak pernah bertujuan untuk menghukum, tetapi mencegah. Hehe. No offense anyway. It’s my very-humble private opinion. Based on what I believe.

Overall, Cumberbatch oke banget aktingnya. He suits the most for a “unique” character. Yaaa kalo udah pada nonton Sherlock taulah Holmes kaya apa, diperanin Cumberbatch kaya apa. And he succeed once again for being Alan Turing… *standing ovation*

OH! And Cumberbatch’s British accent is really melting my heart :’)

“Your Revolution” ala Saya

Semarang. Malam. Hujan.

Ugh, kurang malem Jumat aja nih. Biar mustajabnya berlipat ganda. Bentar saya berdoa dulu..

Oke, sudah! Bingung? Pokoknya waktu turun hujan itu waktu mustajab buat berdoa. Jadi daripada dipake ngegalauin mantan dan kenangan masa lalu terus galau, mending dipake berdoa yg khusyuk. Minta apa aja, termasuk dikuatkan hatinya dan dikasih pasangan baru yg baik. Amin! *tjurhats

Enough babbling ngga penting. Sekarang saya mau bahas hari ini aja. Emm…seperti Selasa biasanya kok. Kecuali kenyataan bahwa saya lagi libur, ngga kuliah, ngga riset, ngga menyentuh skripsi (ehem, belum), dan malah bikin dua tulisan utk dua portal berbeda. Ah, saya merasa paling berdaya emang kalo lagi nulis dan menyampaikan apa yg saya pikirkan dan ketahui. Hihi.

Hari ini sebenernya harusnya saya habiskan dengan motoran berkilometer menjauh dari rumah. Karena ayah dan ibu saya lagi nganterin adik saya yg pertama ke Surabaya utk have a flight ke Dalian, Cina, dan stay di sana selama sebulan. Jadi saya cuma berdua sama adik saya yg kedua. Sebenernya saya pengen ikut, tapi karena adik saya yg kedua masih sekolah, jadilah saya sebagai mbak dan anak sulung yg baik, dikorbankan utk ngasuh dan jagain seharian. Okeee, okeee, ngga apa-apaaaa~ Udah ngga ditinggalin duit lagi buat beli makan. Hvft… Well, jadi selama adik saya sekolah harusnya saya kabur. Eh somehow saya malah terpaku di depan tv dan benar-benar menikmati kesendirian. Ngga ada yg bawel nyuruh nyuci piring, motongin sayur, naon, naon. Nikmat. Hahaha.

Well, it’s 20th January 2015. And there are 2 albums from 2 different bands release today. Both are my favourites but I’ve just got one. Ada yg tau? Hahaha. Mereka dua band yg menurut saya saling berhubungan. Err, ngga juga sih. Lebih ke satu arah karena yg satu dipengaruhi yg satu lainnya. Yep! They are SAL and FOB! SAL is formerly known as Something About Lola, indie band from Semarang, Central Java, Indonesia (in case there’s someone foreign read my post ;D). And another one is FOB, stands for Fall Out Boy. Because SAL’s album titled “YOUR REVOLUTION” is easier to reach for me than the FOB’s American Beauty/American Psycho, since I don’t have an iTunes account nor the iOS gadget, so I got this “YOUR REVOLUTION” first. I bought this directly from the member of SAL. Yes, they gave a special service today for everyone in Semarang city who wants to buy their album. They deliver it by themselves! Nope, not in full formation since most of them work in office hour, so it was just their bassist and guitarist, arrived safe and sound in front of my house’s door with three CDs I ordered. THREE! Yea, my friends asked me to buy them because the one is out of town and another one can’t be at home today. Kalau AB/AP-nya FOB…coba besok kita ke toko CD terdekat di Semarang. Siapa tau udah ada. Tapi kayanya sih belom. Semarang tea~ Hahahaha…

Your Revolution's cover artwork

Your Revolution’s cover artwork (click to enlarge so you can see the details)

Masuk ke (sok-sokan) review. Emm…saya sebenernya ngga begitu ngerti musik sih. Maksudnya, ngomentarin as an expert atau kaya juri-juri ajang talent search yg bisa ngehpitch controlnya kurang’, atau ‘tone gitarnya kurang ini nih’, atau semacamnya. Saya cuma bisa komen tiga. Ngeunah, mayan, dan henteu. Hahahaha. Khas orang awam. Oia, ngeunah = enak dan henteu = tidak. Kalau huntu = gigi. Hahahaha naon ah. Oke, langsung ke masing-masing lagu aja ya, dan beberapa catatannya menurut saya. Saya ngga mau reveal judulnya ah. Biar kalian penasaran terus beli sendiri albumnya. Hihi..

 

Track 1 –> teu; soalna eweuh nu nyanyi hahaha. Agak ngga sesuai sama preferensi pribadi saya aja. Tapi buat yg suka instrumental mungkin ini akan jadi track favorit

Track 2 –> mayan

Track 3 –> ngeunah; old song w/ new arrangement

Track 4 –> ngeunah; old song w/ a refreshment (yg sering denger versi lamanya pasti ngeh bedanya di mana)

Track 5 –> ngeunah

Saya sih suka. All seeing eye? Illuminati? Terserah kamu aja deh..

Saya sih suka. All seeing eye? Illuminati? Terserah kamu aja deh..

Track 6 –> ngeunah

Track 7 –> ngeunah; old song w/ a refreshment and a little change of lyrics

Track 8 –> mayan

Track 9 –> ngeunah; kalau ini menurut saya kasusnya khusus hahaha, jadi 2 taun yg lalu, Januari 2013, mereka rilis lagu ini dalam versi ‘accoustic session’ di youtube, and I’m really in love w/ that version. I trully am. Nah di album ini adalah versi full band dengan beberapa perbedaan lirik dengan yg accoustic session. Well, ini sih menurut pendengaran saya aja. Soalnya Combot punya pronounciation yg khas dalam Bhs Inggris, so I might be mistaken, hehe. So far, this is my favourite track!

Track 10 –> ngeunah; old song w/ new arrangement. Ini adalah lagu yg punya kenangan khusus di saya. Nggak, ngga berhubungan dgn laki-laki atau mantan atau roman picisan lainnya. Kalau saya ngga salah ingat, lagu ini pertama rilis di 2009 dan yg bikin saya seperti “terikat secara emosional” dg lagu ini adalah karena di tahun itu adalah tahun kepindahan saya ke Semarang dari Makassar. Dan saya inget banget saya masuk sekolah, SMA paling keci di Semarang yaitu SMAN 5 Semarang, hari Senin dua hari setelah pensi. Dan SAL main di pensi itu membawakan lagu ini. Kenapa saya tau? Karena ada temen sekolah saya yg juga fans SAL yg ngevideoin mereka di lagu ini. Ngga penting sih, tapi melekat banget di hati dan jiwa. Soalnya sebelum berangkat ke Semarang, saya udah research dan dikasih referensi ttg band-band kece Semarang dan SAL adalah salah satunya. Hahahaha

 

Etdeh, dua halaman aja saya ngetik. Hahaha. Yaudahlah segini aja. Saya tau kalian pasti bosan dan puyeng bacanya kepanjangan. Intinya, Rp35k yg saya dan kalian keluarkan utk album ini ngga akan rugi. Trust me. Kiss this blog post if I’m wrong. Hahaha. Dan kalau buat saya, SAL memang selalu lebih cociks di telinga ketika pake Bhs Inggris. Kayanya lidah Combot emang udah pas banget buat nyanyi pake Bhs Inggris, dan buat saya sih khas SAL banget. Apalagi dengan judul-judulnya yg suka out of track. Hahaha. Buat kota-kota lain, sabar ya. Distribusinya sedang berjalan. Pantau twitter dan instagram mereka aja terus. 😉

BUY THE ORIGINAL CD!

Jangan modal download doang. Ngga ada salahnya kan mengapresiasi karya lokal dengan sedikit lembaran dari dompet kalian?

Lady Football Fan

Beberapa orang dan opini bilang jadi perempuan itu enak. Dapet banyak prioritas dan privilege, dan hampir selalu diutamakan. Istilah “ladies first” udah ngga asing lagi buat orang-orang. Sesederhana mempersilakan perempuan untuk masuk ke ruangan duluan, misalnya. Atau dibukakan pintu mobil sama laki-laki, pacarnya, atau supirnya. Hahaha…

Tapi percayalah, banyak sekali hal-hal yang mengistimewakan perempuan. Ladies parking misalnya. Wajar sih kalo ini, soalnya saya ngerasain sendiri susahnya nyetir terus kudu cari parkir serobot-serobotan sama supir laki-laki. Laki-laki tea, egonya meuni tinggi, bahkan untuk hal sesederhana parkir. Hvft. Lalu…ah gerbong khusus wanita di CommLine, area khusus wanita di TransJakarta, dan laki-laki baik hati yang rela berdiri demi melihat perempuannya duduk nyaman di angkutan umum. Kalau soal gerbong dan area khusus wanita, saya rasa laki-laki pun sudah khatam mengenai alasannya. Enak ya jadi perempuan? Alhamdulillah…

Hanya saja, kondisi ini berbanding terbalik ketika sudah memasuki ranah yg betul-betul dikuasai laki-laki. Yep, seperti judul post ini saja. Football. Soccer kalo English US-nya. Saya lebih suka menyebut football karena saya pecinta British. Walaupun kalo speaking logatnya Hollywood banget. Eheh. Saya pecinta Liverpool FC (LFC lah, meh gancang). Baru setaun sih, tapi ngga bisa dibilang karbitan juga. Soalnya saya benar-benar jatuh cinta. Jadi saya belajar, dan mencari tahu betul-betul. Walaupun pada akhirnya tetep ngga hapal semua sejarahnya. Tapi kalau cuma soal Kenny Dalglish dan Robby Fowler ya saya ngertilah. Hahahaha, naon sih, Tik. Beberapa orang mengira saya suka LFC karena pacar. Nope! Malah kebalik. Saya suka LFC dulu baru ketemu pacar. Iya sekarang udah jadi mantan kok, biarin! Hahaha.

Kiss the bird!

Kiss the bird!

Kerasa sih saya agak kesulitan untuk bisa membaur dengan para kopites (sebutan supporter LFC) gagah perkasa ini. Gimana ya? Yah mungkin adat ketimuran yg bikin tetep ada gap antara laki-laki dan perempuan. Bagus sih, cuma kalo saya mikir dan ngalaminnya ngga enak aja. Contoh nyata deh ya, pengalaman saya aja. Misal saya datang nobar di salah satu tempat nobar yg saya betul-betul asing, ngga kenal siapapun, dan dateng ke sana pengen nonton match yg ngga disiarin di channel lokal. Udah sepik duluan nih di twitter, berharap paling tidak ketika saya di sana, si admin yg balesin mention saya menyapa saya, sekedar supaya saya merasa diterima dan nyaman di antara dan di dalam SATU KAFE YANG ISINYA LAKI SEMUA. Gimana saya ngga berasa ditelanjangin oleh tatapan-tatapan kalian, om-om?? Udahlah cewe sendiri yg sendirian, kerudungan. Ada sih cewe lain, tapi sama “pawang”nya. Itu mah jangan diharepin bisa diajak ngobrol, mereka kaya ketek sama bulunya, nempel! Hahaha astagfirulloh, maaf maaf saya emosi, hehe.

Emm…saya sih mikirnya si “admin” ini ngga berani (atau ngga mau?) nyapa karena takut diceng-cengin sama temen-temennya, atau takut dikira genit. Duh mas, bang, aa, kalo sama saya mah saaaaannnnsss~! Saya punya banyak teman laki-laki kok, tenang aja. Emang kalau berbaik hati pada “tamu” pasti ada ‘apa-apa’? Enggaklah. Saya anaknya suka berteman kok. Mau laki, perempuan, ngondek, tomboy, Muslim, non-Is, suku apa, orang mana, yaaa namanya berteman mah hayu aja. ENFP tea sih kan saya teh. Istilah saya sih: I feed my soul with others’ souls. Hahaha. Serem ya? Tapi ya emang gitu. Saya merasa paling ngga berdaya dan useless kalau harus cuma di rumah dan mendekam. Jadi, apa salahnya keramah-tamahan yg dimunculkan di twitter dibawa ke dunia nyata? Toh selama tidak ada niat buruk, saya rasa bukan masalah. Ngga ada salahnya kan menyamankan orang lain, apalagi yg punya interes sama. Baik laki-laki maupun perempuan. Meluaskan friend circle dan koneksi. Biar nanti kalau ada apa-apa ngga bingung dan kesulitan juga.

Apa? Saya genit? BUKAN! Sekarang gini ya, saya kasih contoh kongkrit deh. Saya tau ada lady kopites, BANYAK! Tapi berapa banyak sih yg aktif? Yg rela meluangkan 2 jam waktu weekend-nya untuk datang nobar? Kecuali yg pada sama pacarnya? Sedikit kan? Mungkin mereka, si lady kopites yg cantik-cantik ini, juga jadi males karena mereka tau mereka tidak akan di’ramah tamah’i oleh para laki-laki yg biasanya pada dateng rombongan ke nobar. Apalagi kalau mereka sendirian. Jadi minoritas itu sangat sulit, lads. Percayalah…

Lagipula, hidup tidak melulu mengenai apa yg orang lain pikirkan tentang kita bukan? Biarin aja mereka bilang genit atau apalah, kalau niat kita lurus “hanya” untuk sekedar berbaik hati dan menjadi ramah serta menyamankan tamu, bukannya itu jadi pahala? Siapa tau si ‘tamu’ itu ternyata bisa bawa fortune ke kita. Ya kan? Tuhan selalu punya cara ajaib dan tidak terduga buat ngasih rejeki ke hambaNya.. 😉

Yang sering banget dicuekin di venue nobar,

Tika (@annskaa)

2015

Awal tahun ini saya lewatkan di Bogor. Liburan? Semacam. Di sela-sela saya pdkt. Nope, bukan pdkt sama laki-laki tampan yg saya harap bisa saya labuhkan hatinya tahun ini. Tapi pdkt ke KPS Bogor, bakal calon tempat penelitian skripsi saya. Targetnya sih tengah tahun ini lulus. Doain ya! Aamin!

Lalu karena sepupu saya yg maba IPB juga di Bogor (puguh atuh ngarana ge maba IPB), jadi saya main terus sama dia. Sejak dulu dia masih SMA juga kalo saya pulang ke Semarang dia selalu jadi partner in hedon saya. Hahahaha… Yaaaaa kalo mau dibilang mah tiap hari ada aja keluarnya. Ke mana weh. Sampe kayanya tante saya jengah ngeliat saya keseringan main daripada himpun data. Maafiiiinnn~

Dua hari ini saya ngerasanya capeeeek banget. Betis teh meuni sakit, paregel! Iya sih kemaren saya trip ke Jakarta, ke PIM doang. Hahaha. Ketemu temen dan mantan saya. Adeuuuhhh~ Nah tadi kan barusan banget nih saya nganter sepupu saya balik ke habitat asramanya di IPB Dramaga, numpang sholatlah saya di masjid IPB. Baru Doa Iftitah, rasanya hati enaaaaaaak banget. Tenang gitu. Karena sholat di masjid kali ya? Jadi bawaannya syahdu nan khusyuk. Terus saya mikir, mungkin ini kali ya yg bikin Allah mewajibkan kita untuk sholat 5 kali sehari. Karena Allah tahu kelak umat-Nya akan punya mobilitas yg sangat tinggi, kesibukan yg ngga kira-kira, yg bisa jadi memicu stress. Makanya Allah nyediain pelarian murah+sederhana+berpahala yaitu sholat. Iya, biar bisa kabur sejenak dari hiruk pikuk duniawi. Semoga tahun ini menjadi tahun yg baik buat kita semua ya, fellas!