“The Imitation Game” ala Saya

Sepertinya saya harus bikin kategori baru. Atau kategori yg lama diganti nama. Haha..

Well then, siang ini saya ke bioskop. Sendirian. Iya. Udah ih, atuhda joms. Dan saya nonton sebuah film berjudul The Imitation Game. Sebenernya saya pengen nonton ini awalnya cuma gara-gara aktor utamanya adalah Benedict Cumberbatch yang-udah-tunangan-itu 😦 Itu loh yg jadi Sherlock Holmes di serial tv Sherlock. Iya yg mukanya dingin dan nyebelin abis tapi entah kenapa charming aja gitu diliatnya. Hvft. Tapi karena saya adalah orang yg (over)well-planned, saya baca sinopsis dan nonton trailernya dulu. Kalau di 21cineplex.com mah katanya: “Berdasarkan kisah kehidupan nyata seorang cryptanalyst legendaris Alan Turing, salah satu ahli Matematika terbaik di dunia dan Enigma: alat pembuat kode terhebat dalam sejarah. Film ini menceritakan tentang tim jenius bentukan Alan Turing (Benedict Cumberbatch) dalam memecahkan kode rahasia penting Jerman selama Perang Dunia ke II.”

imi2

Oke. Jadi Benedict Cumberbatch PLUS film menyangkut perang yg ngga ada perangnya. Nice! Basi aja sih kalo film perang tembak-tembakan dan show off betapa heroik, jagoan, dan nasionalisnya tentara Amerika. Blah. Hollywood abis. Oia, The Imitation Game ini adalah film Inggris. Hahaha. Jadi siap-siap eargasm karena British accent for the entire movie. Klimaks! Selain itu saran saya sih buat penggila laki-laki tampan nan charming, kalau di kota kalian film ini ada di bioskop, mending nonton di bioskop. Puas banget nontoninnya. Hahaha.

Masuk ke cerita. Ya kaya sinopsis dari 21cineplex di atas lah. Tentang Alan Turing yg melegenda. And thank him because if he couldn’t solve Enigma, I definitely can’t type this post. Thank him because every code can be decrypted by machine now. Thank him because he made the embryo of what we called computer now. Hail Turing! (Nanti di film kalian akan sering mendengar ‘Hail Hitler’ :D) Turing ini ceritanya jenius abis. Dia berpikir dengan perspektif berbeda dari kebanyakan orang. Dan frontal plus ngga bisa di’kode’in. Aneh ya? Code breaker tapi ngga bisa di’kode’in. Pokoknya kalo mau ngomong sama Turing harus straight. Ngga bisa ala ABG pacaran yg cuma ‘Beb, aku laper’ padahal maksudnya ‘Kamu keluar dong beliin makan, aku mager’. Ahelah masih aje, Dek.

Dan seperti kebanyakan nerd yg supercerdas, Turing dibully di sekolah dan cuma punya satu temen, Christopher, yg akhirnya namanya dipakai utk mesin anti-Enigma. Enigma punya 159.000.000.000.000.000.000 peluang untuk settingnya. Tiap hari setting Enigma diganti pas jam 00.00. Jadi kalau dalam 24 jam Turing dkk ngga berhasil, babay! Kerjaan mereka hari itu sia-sia dan harus ulang lagi dari nol. Gimana ya jelasinnya? Nonton sendiri deh biar lebih ngerti, guys. Hehe. Perjalanan dari dia pertama kali join proyek super-classified pemerintah Inggris tentang Enigma sampe akhirnya “Christopher” bisa berhasil mecahin recent Enigma’s setting itu banyak ups and downs-nya. Drama dan romance juga ada pasti. Itu mah ingredients wajib di semua international film.

Tapi ada dua scene yg buat saya berkesan banget. Sayangnya itu ngga diperanin sama Cumberbatch karena ceritanya ttg Turing kecil yg masih sekolah. 1st scene is when Turing wrote “I LOVE YOU” in code for Christopher, terus pas mau dikasihin dia nungguin Christopher di tengah kerumunan anak-anak yg mau pulang liburan (ceritanya sekolahnya asrama) tapi Christopher-nya ngga ada. It’s heart-breaking. Sumpah. Rasanya kaya kamu udah siap ngelamar terus ternyata inceranmu udah nikah. 2nd scene is when little Turing went to headmaster’s room and he’s informed that Christopher’s dead. It’s SUPER heart-breaking. Christopher meninggal karena TBC. Taulah Eropa era 40-50an masih sering dilanda wabah dan penyakit-penyakit serem kan. Berat ngga sih jadi Turing kecil? Dibully, realize and admit that he’s a gay (homosexual at that time), dan kehilangan satu-satunya teman dan orang yg dia sayang di sekolah meninggalkannya sendirian? Jujur, selama dua scene ini dan scene satu lagi di nyaris-ending yg nunjukin betapa Turing sendirian dan kesepian bikin saya sadar ngga sadar ngebuka luka lama. Have I ever in that position? Definitely. Tahun pertama saya di Makassar…wuuuhhh!! Sakit hati kalo inget teh 😥

In the end, adult Turing is punished for indecent accusation. Why? Because he’s a homosexual which is illegal at that time. Man! Selama scene ini saya mikir, “Gila ya, Inggris punya norma yg begitu kuat setengah abad yg lalu. Walaupun sebenernya ngga make sense juga kalo harus sampai menghukum orang dgn cara inhuman ‘hanya’ karena dia punya disorientasi seksual. Dan sekarang Inggris punya berapa banyak gay?” Sounds so secular? Haha. Pikiran saya rumit sih sebenernya. Karena saya tahu dan saya percaya bahwa disorientasi seksual adalah salah. Karena bukan saya yg bilang bahwa disorientasi seksual itu salah. Tapi asa kasian juga gitu kalo harus dihukum ‘sebegitunya’. Dan ini bikin saya sadar, bahwa aturan yg Islam bawa itu memang tidak pernah bertujuan untuk menghukum, tetapi mencegah. Hehe. No offense anyway. It’s my very-humble private opinion. Based on what I believe.

Overall, Cumberbatch oke banget aktingnya. He suits the most for a “unique” character. Yaaa kalo udah pada nonton Sherlock taulah Holmes kaya apa, diperanin Cumberbatch kaya apa. And he succeed once again for being Alan Turing… *standing ovation*

OH! And Cumberbatch’s British accent is really melting my heart :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s