Month: June 2015

Sepele?

Pernah tidak kamu berpikir bahwa apa yang sepele bagimu bisa saja sangat berharga buat orang lain?

Yah begitulah. Dunia seringkali egosentris. Kalimat “Kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi” toh akhirnya menjadi sejarah pepatah. Ya, era ini rasanya sedikit sekali orang yang masih mendengar bahkan mengaplikasikan kalimat itu. Kalimat yang selalu digunakan jadi senjata untuk penyalahan pada setiap oknum pemerintahan yang menyeleweng, terutama soal uang dan anggaran.

Era ini, bahkan nilai yang dianut seorang Annisa/Anska/Tika/siapapun-itu pun bergeser. Saya sendiri bingung kenapa bisa bergeser. Sepertinya lingkungan adalah trigger utama. Rasanya, nilai-nilai yang dicekoki pada saya zaman belajar PPKn di sekolah dulu kebanyakan hanya menjadi sebuah omong dan teori kosong. Saya bahkan tidak tahu apakah adik-adik sekarang masih mendapatkan pelajaran itu. Mengenai simpati, empati, tanggung jawab, dsb.

(source: agan siralo, kaskus)

(source: agan siralo, kaskus)

Kembali lagi, pernah tidak kamu berpikir bahwa apa yang sepele bagimu bisa saja sangat berharga buat orang lain?

Katakanlah uang. Oh! Contoh lebih mudah lagi sederhana adalah waktu. Era ini, rasanya menyediakan waktu barang satu, dua, lima, tiga puluh, enam puluh menit susahnyaaaaa seperti memotong lembaran plastik dengan gunting plastik. Pfft. Sekedar membalas pesan, misalnya. Ditundanya bisa berhari-hari. Mungkin pesan itu sepele bagimu, padahal pernah tidak kamu berpikir bahwa pesan itu penting bagi yang mengirimnya? Atau jangan-jangan malah tidak dibaca dan keburu tenggelam tertimpa oleh pesan-pesanmu yang lain.

Bahkan setelah Tuhan memberikan kemampuan kepada manusia dalam penciptaan smartphone yang tujuannya untuk mempermudah banyak hal, manusia masih saja bisa mempersulitnya.

Empati dan tanggung jawab. Kok rasanya sekarang sulit sekali ya menemui manusia yang masih bisa berpegang pada dua hal ini? Sebegitu “reckless”-kah kita sekarang? Sebegitu tumpulkah hati kita sekarang?

Lagi stres nungguin kepastian dari banyak pihak,

annskaa

Advertisements

Newest SAL’s MV: 31. DIY is Kickin’!

DIY.

Selama saya nonton dengan serius dan berpangku tangan, cuma tiga huruf ini yg berkelebatan di otak saya. Hahaha. Semangatnya emang DIY bangeeettt! Ngga tau sih, ini mah pengkategorian saya pribadi aja dari kacamata awam. Gimana ya bilangnya? Emm, sebenernya ‘agak’ standar sih konsepnya (duh maafin om, maafin ><). Ya ala band-band-an di garasi aja gitu lyk they’re practicing but filmed. Hehe. Cuma yg bikin saya amazed dan sukses bikin saya senyum sepanjang MV ini adalah SAL mampu memberdayakan teman-teman dan sahabat-sahabat mereka (dan beberapa pasangan mereka sih. hvft, aku iri) untuk ikut ambil bagian di MV ini.

The voc! (source: Atlas City SAL youtube)

The voc! (source: Atlas City SAL youtube)

Yes, the changing faces are their friends. Emm, ya saya tau aja sih. Wajah beberapa dari mereka saya kenali karena emang sering liat bareng mereka kalo pas mereka lagi manggung, since I was visiting their basecamp frequently when they were still at the house numbered the same as this song’s title. Pfft. Yes, I was their groupie once. Eh masih deng. Hahaha.

Kurang DIY apa coba? Talent-nya teman-teman sendiri, pun sutradara dan mungkin kameramen dan semua kru yg ambil bagian di MV ini, belum lagi lokasi pengambilan gambar yg mungkin juga di salah satu tempat milik salah satu dari mereka(((sotoy aja sih ini mah hahaha))),  ditambah endorsed outfit dari Buck Store yg kalo saya ngga salah sih pengelolanya juga one of them/their friend. See? Keren banget. I mean, dengan segala keterbatasan yg ada, they made it! Apalagi keterbatasan waktu. Saya tau mereka sekarang udah sibuk sendiri-sendiri, masing-masing. (((Tau ajaaaa~~))) The reason why this song is made, right? Tapi mereka masih nyempetin waktu buat satu ‘anak’nya ini. Standing ovation for them!!

Kutipan dari instagram SAL mengenai lagu ini:

31

Kami punya rumah kontrakan yang sangat kami cintai, karena didalamnya berisi sahabat-sahabat, rekan berkesenian, rekan menghabiskan berbungkus-bungkus kopi, dan tempat membuang sampah curahan hati. Rumah tersebut memiliki nomer alamat 31, lagu ini terinspirasi dari semua kisah persahabatan yang terjadi di rumah tersebut. Ketika itu, sebagian besar dari kami sedang berjuang untuk menyelesaikan tanggung jawab kami ke orang tua (ya, skripsi, begitulah), kami bahu-membahu, menambal pekerjaan satu sama lain hingga kesemuanya harus ada di tingkat yang setara di hari berikutnya. Ketika semua itu usai, kami tersenyum bahagia. Setelah itu, kami dihadapkan pada rintangan berikutnya, masa depan. Masing-masing dari kami tentu saja punya cita-cita yang berbeda, yang mengharuskan kami berpisah satu sama lain pada akhirnya, seperti kata OK Karaoke di lagu Departed, “All I know everyone has to go, on their own show”. Sedih pada awalnya, tentu saja, tapi memang begitulah seharusnya. Perpisahan ini tidak selamanya tentu, kami memang harus berpisah, tapi kami percaya hal ini agar kami dapat bertemu lagi di kemudian hari, dengan senyum-senyum lebar yang sama seperti di hari-hari sebelumnya.

Well, the MV is pretty neat and cool buat ukuran band indie dari Semarang. Yaaa, maklum sih kalo salah satu sutradaranya mereka pernah kerja sama bareng Mew dua kali mah yaaa. Hahaha. Bukan underestimate Semarang sih, cuma…yah kalian mengertilah skena di Semarang.

Saya ngga mau sok-soan jadi kritikus atau apa. Ini mah pendapat saya aja. Yang pasti, SAL sukses bikin saya kangen rumah, Semarang, dan gigs. Asli, saya udah lama banget ngga ngegigs. Hahaha. Keep the fire up, SAL!

PS: watch the video here!