The Little Prince

Saya mewajibkan diri untuk nonton film ini ketika saya tau bahwa ini adalah film Eropa. Aaahhh penyegaran! Lepas dari pengaruh-pengaruh “kayu suci” untuk sementara. Iya, Hollywood.

Awal nonton agak aneh karena opening yg muncul bukan Universal Studio atau Pixar, layaknya animasi-animasi yg biasanya kita tonton di bioskop. Yah namanya juga film Eropa. Saya bahkan ngga tertarik dan ngga inget apa nama production house-nya, karena saya masih mainan ponsel. Hehe. Dibuka dengan cerita tentang anak kecil yg menggambar sesuatu dan malah dimarahin orang dewasa. Main characters di film ini ada dua yaitu The Old Man/The Aviator (I don’t even remember his character true name) dan The Little Girl. Setelah saya inget-inget, kayanya selama film ini ngga ada yg menyebutkan nama sama sekali. Semuanya disebutkan dengan…gimana ya menyebutnya? Deskripsi? Istilah? Pokoknya sama kaya judulnya. Jadi namanya The Little Prince, The Mother, The Fox, The Snake, The Police Officer, there’s no name at all.

Balik ke ceritanya, ceritanya si Little Girl ini diobsesikan ibunya, Mother, untuk masuk ke Werth Academie. Sampe disuruh ngafalin jawaban default untuk one big question ketika audisi masuk Werth Academie. Ngga diceritain juga Werth ini akademi macam apa dan sekolah kaya apa. Did she success? Nope. Karena dia ngafalin jawaban default untuk satu pertanyaan dan ternyata pas audisi pertanyaannya ngga butuh jawaban yg dia hafalin. Karena ibunya obsesi banget, akhirnya mereka pindah rumah ke salah satu neighborhood deket Werth. And that neighborhood is sooooo boring. Isinya orang-orang kantoran yg hidupnya teratur, model rumahnya sama semua, dan gila kerja. Persis kaya Mother.

Tapi ternyata tetangga sebelah rumah baru si Mother dan Little Girl ini adalah kakek tua eksentrik yg nyoba buat benerin dan nyalain pesawatnya di halaman belakang rumah. Old Man ngirim pesawat kertas ke dalem kamar Little Girl, isinya cerita tentang Little Prince. Tapi dia ngga tertarik karena saat itu fokusnya cuma Werth. Tapi akhirnya pas lagi ngitung recehan setoples dari Old Man yg di dalemnya ada figurin Little Prince, Little Girl baca lagi pesawat kertasnya. Karena penasaran, Little Girl nyamperin si kakek dan nanyain semua hal ttg Little Prince yg menurut dia ngga masuk akal. Dari sini Little Girl sama Old Man temenan sampe akhirnya ketauan Mother yg masih obsesi sama Werth Academie dan dimarahin dan ngebawa Little Girl untuk marah ke Old Man.

One day, Old Man sakit dan masuk rumah sakit. Di situ Little Girl sedih banget dan jadi titik balik Mother buat ngga seketat dan se-“Werth obsession” dulu. Terus Little Girl-nya ketemu sama Little Prince!

Ah saya pegel ngetiknya. Masih panjang ceritanyaaa. Kalo penasaran, mending nonton aja sebelum filmnya turun dari bioskop. Hahaha. Worth to watch kok. Apalagi grafis yg disuguhin bagus BANGET. Bukan, bukan efek CGI yg megah atau 3D. Mereka “cuma” stop-motion kok. Tapi percaya deh, stop-motion di animasi adalah hal yg paling megah. Denger-denger sih film ini budget bikinnya sampe 81 juta USD. Wajar sih, grafisnya emang cetarr!

Oh satu lagi! Yg bikin saya gelisah selama nonton film ini, saya jadi insecure for growing up or being a grown up. Kenapa gitu?

Pokoknya tonton aja! 😀

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s