Month: April 2016

Bercanda Kebablasan

Pernah?

Sering.

Ya saya, kamu, kita. Semua pasti pernah bercanda. Persoalannya adalah ketika seringkali kita tanpa sadar (atau mungkin sadar tapi pura-pura nggak sadar which is nggak mau tau dan nggak peduli) bikin orang lain tersinggung.

Sejak ada kosakata “baper” kayaknya era ini orang ngga punya hak lagi untuk tersinggung. Ini pernah disampaikan oleh salah satu akun sosial media, saya lupa yg mana tapi. Seolah-olah ketersinggungan orang itu terjadi karena dia terlalu sensitif. Padahal semua hal ada batasnya. Saya yakin, begitupun dalam bercanda.

Dusta walau bercanda aja dosa, apalagi bercanda sampai bikin orang lain tersinggung? Parahnya, sekarang kalo ada yg tersinggung karena candaan seseorang, si orang yg bercanda akan dengan enak aja lepas tanggung jawab dengan bilang “yaelah baper amat sih lo” dan seolah permasalahan selesai. Boro-boro minta maaf.

Segitu tumpul hatikah kita saat ini?

Satu lagi yg saya paling nggak suka tentang bercanda kebablasan: orang nggak kenal. Bukan rahasia umum sekarang komunitas terbangun dari dunia maya. Ngerumpi join groupchat dulu, dan merasa seolah sudah sangat saling kenal hingga punya hak untuk bercanda yg seringkali melampaui batas. Kalo yg dibercandain tersinggung ya tinggal pake magic phrase di atas, “yaelah baper amat sih lo“. Dan selesai.

Gini…orang bisa punya karakter dan pemahaman berbeda ketika bicara di chat. Lain halnya kalo kita ngobrol langsung, tatap muka, mendengarkan intonasi suara tiap kata, artikulasi, penekanan, power bicara, sampai bahasa tubuh sehingga informasi yg didapat utuh dan kemungkinan salah pemaknaan oleh komunikan lebih kecil. Kalo kita udah pernah ketemu, ngobrol barang 15-30 menit kemudian di groupchat mau pabecandaan, silakan. Karena paling tidak sudah tau 70% karakter orangnya kaya apa. Nah kalo belom pernah ketemu?

Jangan sok asik deh.

Digital Kills Printed(?)

Well, kata siapa digital membunuh yang cetak?

Hukum alam secara umum memang selalu memenangkan yg kuat. Tapi lebih dari itu, alam selalu memenangkan yg mampu beradaptasi.

Awal tahun 2016 ini ada satu majalah besar yg sudah bertahun-tahun menghiasi rak-rak penjualan majalah di tiap toko buku ataupun pedagang majalah eceran emperan. Mengusung nama yg sama dengan sebuah radio komersil anak muda ibu kota, di bawah naungan grup yg sama, Trax Magazine memutuskan bulan Februari 2016 sebagai akhir dari “kehidupan” mereka.

Saya bukan pembaca setia Trax Magazine. Saya hanya salah seorang yg masih mencintai dan mengapresiasi segala sesuatu yg masih berbau “analog”. Sampai 2011, saya masih bermain kamera dengan roll film yg semakin hari harga roll film-nya semakin mahal pun semakin sulit mencari studio foto yg masih memiliki dark room dan menyediakan jasa pencucian roll film. Belum lagi biaya untuk mengkonversi data foto dari roll film menjadi data digital berformat .jpg dengan cara scan yg biayanya juga mahal. Untuk kantong mahasiswa rantau, uangnya lebih baik saya pakai beli makan dan kebutuhan dasar hidup lainnya.

image

Kembali ke soal Trax Magazine, banyak yg meyakini bahwa berakhirnya mereka disebabkan banyaknya webzine-webzine berserakan di internet. Pun untuk mengetahui kabar terbaru dari band atau musisi kesayangan saat ini tidak perlu lagi menunggu seminggu sekali sampai majalah mengeluarkan kabar terbaru. Cukup mengeluarkan gawai dan membuka berbagai aplikasi, DANG! Informasi didapat hanya dalam hitungan menit. Tapi saya yakin, bukan (hanya) ini alasannya.

Masih banyak media cetak lain yg bertahan di tengah gempuran internet dan webzine dan e-magazine. Hai Magazine hanya salah satu di antaranya. Btw, majalah ini nemenin saya dari 10 tahun yg lalu dan sekarang umurnya udah sepantaran bapak-bapak beranak dua. Hahaha. Beberapa di antara media cetak yg bertahan memutuskan untuk beradaptasi dan menggunakan dua platform. Cetak dan digital/website. Hai Magazine masih rutin mengeluarkan majalah cetaknya seminggu sekali (walaupun saya nggak tau apakah jumlah cetakannya saat ini masih sama seperti jumlah cetakannya 2 atau 3 tahun lalu) dengan tetap rutin membuat mini artikel di website-nya. Penasaran? Buka http://www.haimagazine.com aja. (Promosi. Padahal nggak dibayar. Suer bukan buzzer! :D)

Begitupun majalah-majalah lain. Sebut saja Kawanku, Go Girl, Femina, dll dsb. Eh iya, tiba-tiba saya inget satu majalah yg dulu jaman saya SMP sempet ngehits banget. Ada yg tau kabar majalah Aneka Yess? Iya, yg  ngorbitin Indra Bekti dan artis-artis lain. Kok kayanya saya udah nggak pernah liat mereka di rak-rak penjualan majalah ya? Hemm…

Yah, saya berharap jangan ada lagi deh majalah-majalah besar yg “berakhir”. Malah saya berharapnya webzine-webzine independen yg selama ini baru berkiprah di web dalam format blog bisa punya format cetaknya. Semangat! Semangat cari sponsor biar bisa segera ngeluarin zine cetaknya! 😀