Month: April 2017

Jalan Kaki di Jakarta = Bunuh Diri?

​Sebelum lo melanjutkan baca tulisan gue yg-nggak-seberapa-penting-tapi-mudahmudahan-bermanfaat-dan-bisa-menggerakkan ini, gue mau kasih penegasan di awal.

Pertama, gue bukan warga DKI Jakarta. Secara KTP, gue masih tercatat sebagai penduduk Kota Semarang. Itupun KTP gue masih dalam bentuk Surat Keterangan Pengganti karena…yah kalau lo suka nonton TV atau baca detikcom pasti taulah ya ada apa dengan program KTP-el negara kita.

Kedua, gue cukup sadar diri untuk tidak menuntut macem-macem soal Jakarta karena…yah balik lagi KTP gue bukan DKI. Gue cuma WNI ber-KTP Semarang yg-blangkonya-entah-kapan-tersedia-lagi-dan-bikin-gue-jadi-susah-buat-bikin-rekening-Jenius-karena-yacobaajalodonlotsendiriaplikasinya.

Ketiga, ini nggak ada kaitannya sama sekali dengan pilgub DKI yg baru selesai. Ya gue bukan KTP DKI, milih juga engga, jadi ya nggak ada urusannya. Eh tapi ada ding, sedikit.

Keempat, it’s gonna be a long post so please prepare your eyes. And maybe some snacks or coffee.

Jadi, sebenarnya ini soal apa? Ya balik lagi aja ke judul postingan ini.

Jalanan Jakarta lagi acak-acakan, jelas. Nggak usah jauh-jauh, area domisili dan kantor gue juga lagi berantakan parah. Nggak percaya? Silakan coba untuk lewat Jl. Fatmawati, kemudian belok kanan ke Jl. TB. Simatupang sampai perempatan Lebak Bulus. Nah dari situ, coba liat kanan-kiri-depan-belakang. Atau coba menuju Lebak Bulus lewat Pondok Indah. Dijamin lo harus punya stok sabar mulai dari PIM sampai perempatan Lebak Bulus, apalagi kalau nyetir mobil atau naik TransJakarta. Buat yg naik motor mah mungkin masih bisa agak “lega” karena masih bisa nyelip-nyelip. Lalu, apa kabar pejalan kaki? Gue nggak tau kalau dari arah kantor gue sampai Bunderan Pondok Indah, tapi kalau dari depan kantor gue sampai perempatan Lebak Bulus, silakan liat foto di bawah.


Kantor gue berada persis di seberang Halte TransJakarta Pondok Indah I, dengan kondisi jalanan seperti ini, Halte TJ masih bisa pasang iklan layanan masyarakat mengenai himbauan untuk naik angkutan umum dan MEMBIASAKAN BERJALAN KAKI. What the f…… Astagfirulloh, sabar, Tik. Tapi beneran, rasanya itu TV di dalem halte pengen gue sambit sepatu. Dengan kondisi jalanan kanan-kiri halte ini yg “kayak gini”, kok ya nggak nyambung banget. Traffic pejalan kaki di area ini tuh cukup banyak. Dengan kondisi trotoar yg ditumpuk tanah dan bahkan dihilangkan demi pelebaran jalan buat memfasilitasi kendaraan bermotor, pejalan kaki kehilangan hak sama sekali. Gue sebagai pejalan kaki, berasa nganterin nyawa ke jalanan.

Gue punya banyak thoughts dan argumen soal ini. Tapi intinya mah sama aja, gue sangat nggak suka hak gue diambil dan bahkan dihilangkan seenaknya. Okeeelaaaahhhh ini demi jalanan yg lebih baik, atau “cuma sebentar kok kan selama pembangunan underpass doang”, tapi apakah ada jaminan bahwa ketika pembangunan underpass ini udah selesai di bulan Juli (janjinya mah Juli, teuing nanti kenyataannya gimana) hak kami, hak gue, sebagai pejalan kaki akan dikembalikan? Apakah si trotoar yg udah diilangin demi memfasilitasi motor dan mobil ini akan dibangun kembali? Apakah tanah-tanah merah ini nanti akan dikembalikan ke tempat asalnya dan trotoarnya kembali bersih & nyaman untuk dilewati?

Ini baru secuil DKI Jakarta. Baru Pondok Indah-Lebak Bulus. Apa kabar Fatmawati? Udah pernah coba jalan kaki di Fatmawati? Cobainlah sesekali. Di jalan ini malah nggak ada trotoarnya, terutama yg kena pembangunan MRT. Sepanjang Lebak Bulus apa kabar? Sama, nggak ada trotoarnya sama sekali. Apa kabar Mampang Prapatan? Apa kabar Wolter Monginsidi? Apa kabar Pancoran? Apakah sepanjang jalanan ini membentang motor-motor dan mobil-mobil ngalah kepada kami pejalan kaki? Silakan jawab sendiri.

Gue paling sengak dan nggak mau disalahin kalo gue lagi jalan kaki di Pondok Indah atau nyeberang di perempatan Lebak Bulus dan berdesakan dengan motor dan mobil. Pertama, mereka punya mata dan pasti cukup sadar bahwa gue nggak bisa jalan kaki dengan aman dan nyaman dengan kondisi trotoar kayak gitu dan dengan kondisi perempatan yg nggak ada zebra cross-nya. Kedua, ya coba aja tabrak gue, celakai gue, yg salah akan tetep elo kok, wahai pengendara kendaraan bermotor. Wek.

Oke, gue emang bukan warga ber-KTP DKI, tapi trotoar dan pejalan kaki mah bukan soal KTP, urusannya sama nyawa. Terus kalo ada pejalan kaki yg keserempet atau ketabrak dan ternyata KTP-nya bukan DKI terus mau dibiarin aja nggak ditolongin? Nggak dong? Gue yakinlah warga Jakarta nggak se-dingin hati itu.

Terus kaitannya sama pilgub DKI apa? Gue sebagai warga yg lagi numpang hidup di Jakarta tentu aja berharap untuk nggak kehilangan hidup di Jakarta dong (baca: mati). Apalagi mati konyol karena ditabrak kendaraan bermotor karena trotoar yg nggak memadai. Gue berharap, siapapun yg akhirnya memimpin daerah ini bisa punya sense dan care yg lebih soal fasum. Iya bener, jalanan juga fasum kok, tapi rasanya nggak adil kalau hanya kendaraan bermotor yg difasilitasi. Jakarta bukan cuma milik mereka yg sanggup bayar DP kendaraan bermotor bukan? (gue yakin, dari ribuan motor & mobil di Jakarta, paling nggak setengahnya masih dalam masa cicilan) Jakarta juga milik kami, baik yg ber-KTP DKI maupun engga, yg cuma sanggup bayar ongkos angkutan umum dan harus nyambung jalan kaki ke tujuan setelah turun dari halte atau stasiun terdekat.

Dengan lagi digalakkannya pembangunan transportasi massal di Jakarta, gue yakin seharusnya dibarengi dengan pembangunan trotoar yg lebih layak. Sudah seharusnya. Kenapa? Karena berapa persen sih dari kita yg turun di halte atau stasiun tanpa perlu menyambung sedikit lagi ke tujuan baik dengan berjalan kaki maupun dengan angkutan umum lainnya? Emang kita punya baling-baling bambu kayak Doraemon, kan enggak to.

Semoga Jakarta bisa jadi daerah yg juga nyaman dan ramah buat pejalan kaki. Lebih terutama lagi, aman buat pejalan kaki & pengguna transportasi umum.

PS: Maaf fotonya cuma dua. Jalan kaki tanpa megang ponsel aja udah butuh fokus & awas yg tinggi, apalagi megang ponsel. Kalau nggak percaya sama omongan gue, silakan datang & buktikan sendiri. Oh! Dan ini nggak berlaku utk business district macam SCBD dan Mega Kuningan. Kenapa? Yalopikirajasendiriya.

Sincerely,

Annskaa

Advertisements

Mengampuni

So I digged in to my folder in my office’s PC and found this draft I made on February.

………

Well, ini isu lama sih. Tentang gue naksir orang dan blablabla. Entah udah ada berapa orang yg gue taksir selama dua tahun belakangan gue jomblo. Mulai dari pengen mengistirahatkan hati dulu, push away beberapa laki-laki yg udah cukup berani untuk make a move duluan, interes sama sahabat sendiri yg (padahal) pacar orang, naksir duluan selama setaun eh tapi dia malah jadian sama orang lain yg (sialnya) ngga jauh beda sama gue (iya ini déjà vu, sama seperti bagaimana dulu mantan gue pergi ninggalin gue), sama-sama naksir dan cocok tapi ngga bisa jadian karena ngga mau LDR, ketemu pertama kali sama mantan cyber-love 6 taun yg lalu, dan yg terakhir cuma bisa naksir dan sepik-sepikan di group chat karena setiap private chat selalu berakhir dead chat dan sudah berlangsung empat bulan (pathetic, huh?).

And those all happened and happens and happening for two years and (almost) two months. Lama ya? Hahaha. Gue sampe wondering dan sampe pada tahap ragu dan nggak pede sama diri sendiri dan mempertanyakan “Apakah emang gue segitu nggak pantesnya ditaksir orang?”. Dengan segala perendahan diri sendiri, gue takut malah jadi ngancurin self-esteem gue sendiri yg udah susah payah gue bangun lagi setelah apa yg dilakukan mantan gue yg terakhir.

Gue ketemu sama satu orang temen yg baiiiiiiikkkkk banget. And I really love to hanging around her. Mungkin karena dia selalu penuh dengan positivity dan ketulusan, yha walaupun anaknya galaknya lebih-lebih dari gue. Hahaha. Karena dia lebih tua dari gue, lebih banyak pengalaman, and somehow she’s much more religious (fyi, she’s a Protestant), curhatlah gue ke dia. Tentang semua kegelisahan gue, kenapa gue ngerasa gini ngerasa gitu, apa yg terjadi dan gue alamin, dan kenapa gue ngerasa gue udah move on tapi masih kerasa ada yg ganjel.

Sampe akhirnya dia bilang, “Mungkin kamu belum mengampuni, Nis”. DHEG!! Well, that’s the answer I’ve been looking for the whole time. Gue belum mengampuni dan memaafkan. Apapun. Ya orangnya, ya apa yang terjadi.  Relationship with my last ex is one of a major cause in my life, yang percaya ngga percaya, gue sampe jadi berubah personality dari Feeling jadi Thinking. I was an ENFP before, then I am now an ENTP. Surprising, huh? How a moment in your life can change your whole life even your personality.

Setelah percakapan itu, gue dengan sepenuh hati dan sepenuh niat pengen banget maafin mantan gue. Karena gue pikir satu-satunya masalah gue adalah mantan gue. Setelah sekarang gue jauh lebih bisa tenang kalo bahas dia (which I think this is one kind of a sign if you forgive someone or not), gue masih ngerasa ada yg ganjel.

And now I’m figuring out that he’s not the only person and thing I should forgive.

Nggak banyak, tapi si laki-laki yg gue taksir sepenuh hati selama setaun tapi malah pacaran sama orang lain adalah salah satunya. I still cant get him out of my mind, and probably my heart. The person, the event, it made scars. Dan dengan sikapnya yg masih ngejadiin gue “cadangan”, kadang gue masih suka mikir dan berharap bahwa gue masih bisa dapetin dia lagi. Walaupun pada akhirnya, mau ngga mau akal sehat tetep harus jalan. Haha. But hey, I’m over him now. I have to find my own way, right? Ehe.

I wouldn’t tell about every guy I’ve ever met. Gila, itu mah bisa setebel novel Harry Potter. Haha.

Gue juga ngga ngerti sih kenapa pengen nulis dan post ini. Impulsif aja. Besides, gue ngga tau harus bisa cerita ke mana lagi cuma sekedar supaya lega tanpa perlu dapet feedback.

Karena seringkali kita cuma butuh didengerin… dan dibaca.

Feb. 11th 2017,

Annskaa

Disclaimer: I’m over them and ready for a new start! 😀

Waktu yang Terbang

​Time really flies.

I don’t know if it flies with an ordinary airplane engine or an extraordinary spaceship engine. Nggak kerasa aja hal-hal yg diingetin Facebook, Path, atau bahkan temen kurang kerjaan yg ngereply mention gue di Twitter 5 taun yg lalu, ternyata ya udah berlalu se-lama itu.

Gue nggak mainan Timehop. Toh tanpa Timehop pun Facebook udah cukup rajin buat munculin foto-foto lama yg gue upload atau gue di-tag bertahun-tahun lalu. Sometimes, it makes me smile. But another time, it makes me frown. Kadang kemunculan foto-foto lama ini bikin gue jadi mikir, merenung. Selain mengenai betapa banyak yg udah gue lalui, foto-foto ini juga soal betapa banyak orang-orang yg datang dan pergi di hidup gue, berapa banyak yg masih tinggal dan menjalin hubungan baik dengan gue, berapa banyak yg pergi atau gue tinggalkan atas berbagai alasan yg muncul, siapa saja orang-orang yg gue sayang dan gue rindukan atau sudah tidak lagi gue sayang tapi ternyata deep down inside gue rindukan. It’s possible, right? And it happens all the time, sadar nggak sadar.

Ngeliat hal-hal yg terjadi di masa lalu bikin gue yg overanalytical type mikir dan menebak-nebak apa yg akan terjadi sama gue di masa depan. Berdoa untuk yg baik-baik di masa depan mah pasti, tapi kegiatan ini selalu diikuti dengan refleksi dan pertanyaan ke diri sendiri, “Gue udah ngelakuin apa aja buat bisa ngeraih masa depan yg gue cita-citakan?”

Bahasan tentang cita-cita, impian, dan masa depan selalu jadi topik yg sensitif dan sedikit menyeramkan buat gue sejak Semester 5 bangku kuliah. Wondering if I could get my dream job or not, how to get my dream job which isn’t linear with my educational background, these questions are scaring me. The future is scaring me. Membayangkan dengan siapa laki-laki yg akan jadi teman gue menghabiskan waktu mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi, yg mukanya gue liat dia lagi dia lagi tiap hari, yg punggungnya gue liat pas sholat jamaah, lah kenapa gue jadi mellow romantis gini??! Hahahaha.

Yaaaa pokoknya mah ngga boleh berputus asa aja, Ann. Gue akhir-akhir ini lagi banyak banget diliatin dan diingetin untuk nggak berputus asa dari rahmat Allah. Maybe the universe wants to tell me something, hope it’s something good. Amin!