The Struggle is Real

Jadi, salah satu temen gue memutuskan untuk kerudungan. At least that’s what i see on her instagram account. Gue seneng, seneng banget! Walaupun sebenernya dia sempet jadi panutanque karena gayanya kewl abeiz yg ala-ala anak poppunk tapi cakep gitulah. Dan walaupun badan dia setengahnya badan gue. Hahaha.

Gue berdoa semoga ia istiqomah dan nggak copot-copot labil kayak gue. Dan semoga ia segera dilamar dan menikah dengan sang kekasih yg sedang paving his road to mapan-ness. Amin.

Then i reflect on myself by scrolling my own instagram account. Feeds instagram gue adalah rekap perjalanan gue. Dari post pertama taun 2013 sampe post terakhir bulan Mei lalu, walaupun banyak yg gue hapus juga sih. Atas nama aesthetic feeds. Hahaha. Lame… #terawkarin

Tapi gue nggak pernah malu masih majang foto-foto lama gue yg masih kerudungan rapi dan chakep. Buat gue, itu bagian perjalanan gue. That’s what shaped me to be my me now. Sampe sekarang juga gue di kantor masih kerudungan kok. Mungkin beberapa akan judging bahwa gue labil dan nggak konsisten. Or in an extreme level, “melecehkan Islam”. Well, it’s not Islam that wrong, it’s just me who isn’t ready yet and still learning. Most people would never know what I’ve been through and why I decide to do what I do now. I dont need their approvals by the way, and I dont need to explain either.

Beberapa bulan terakhir jadi masa-masa gue paling lost. Gue kayak bener-bener tersesat. Hidup di Jakarta sendirian, struggling on how to deal with the life i dont want to live but i have to, on how to deal with my own self, living the life without purpose (yet), gue nggak tau mau ke mana, gue nggak tau kenapa gue ngejalanin hidup gue yg sekarang (selain soal finansial), insecure sama masa depan, insecure sama diri sendiri, terlalu (ingin) bergantung sama orang lain (baca: punya pacar yg bisa diculik), menyalahkan keadaan, nggak bersyukur, overworry, overthinking, negative thinking, most of the negative acts you name it, I’ve been there.

Saking tersesatnya gue sampe anxious tiap hari. Bangun pagi nggak happy, berangkat ke kantor telat mulu, di kantor jadi antisosial, it’s just difficult to laugh and enjoy every moment & things I do. Susah aja, selalu ada yg ganjel. Ini baru soal intrapersonal dan kerjaan. Belom masalah cinta-cintaan. Beuh…makin bikin stress. Hahaha.

Jujur aja, sejak gue memutuskan vakum dari salah satu friend circle yg pernah gue jalani dan pernah jadi yg paling dekat, gue kehilangan sesuatu yg bisa diceritain. Bikin gue jadi susah buat ngobrol sama gebetan karena ya nggak ada yg bisa diceritain. Office work juga rutinitas kan, nggak ada yg bisa diceritain. Gigs lagi nggak begitu rame (yaiyalah bulan Ramadhan cuy, you think -_-), besides gebetan gue nggak satu selera sama gue soal musik. It makes things harder and somehow it doesn’t work out the way I want. We didn’t work out. Gue nggak tau sih apakah social skill gue jadi cupu karena I spend most of my life inside a cubicle and battling with those vehicle sellers, idk. I’m struggling with my own self-confidence. Boro-boro self-esteem.

Emm…sebenernya gue ngerasa gue jadi kayak gini karena candaan-candaan dari si “mantan” circle gue yg selalu menganggap gue “laki” hanya karena gue berpenampilan tomboy dan cuek. Setaun ada di circle itu, kayaknya bisa diitung jari sih kapan gue bener-bener dihargai sebagai perempuan. Kecuali, pas mulut gue ngomong sembarangan dan pas gue lagi kerudungan baru gue dicecer, “Lo perempuan kan? Kerudungan kan? Nggak malu lo ngomong kasar kayak gitu?”. Kalo engga mah, PRET, boro-boro. Mikirin perasaan gue aja enggak. Gue pernah sampe stres dan nangis berkali-kali karena ini. Nggak, nggak nangis di depan merekalah. Percuma nangis di depan mereka juga nggak akan ngubah pandangan mereka. Sampe akhirnya gue memutuskan bahwa pertemanan ini nggak lagi sehat buat gue dan malah akan jadi self-destruction kalo gue insist buat tetep ada di dalam circle ini. Then I left.

One day, my senior peer “slapped” me. Intinya dia bilang gue harus banyak bersyukur, mantesin diri biar dinaikin kelasnya. Semua struggle yg gue lewatin harus disikapi dengan positif supaya gue tumbuh, supaya gue mendewasa nggak cuma menua dan nambahin keriput dan kantung mata.

Seringkali gue nggak percaya gue cantik (pfft…). Gue nggak pernah jadi sosok yg narsistik. Tapi ternyata pikiran kaya gitu yg akhirnya gue sadar malah ngejatohin diri gue sendiri. Kalo gue sendiri aja nggak bisa stand up for my own self, who will? Kalo gue aja belom bisa sayang sama diri gue sendiri, ya masa orang lain bisa. Selama ini gue nggak pede karena gue gendut (BMI gue 30, fyi). Tapi sejak gue menggendut ini, malah banyak yg bilang gue cantik. Mulai dari temen di social movement sampe mbak-mbak salon. Dulu gue nggak pede karena rambut gue keriting. Sekarang mah bodo amat. Di kota sebesar dan sesibuk Jakarta, no one will care about how your hair looks, darling. Kalaupun ada yg ngeledekin…well that’s their problem.

I always wonder why all the boys who once interesting on me, pull away after awhile. Maybe that’s not because of my looks, maybe that’s because of my attitude, my vibe that just not positive enough to attract them. Akhir-akhir ini mungkin gue terlalu fokus dan mikirin banget apa kata orang. Itupun nggak disaring lagi, semua gue telen dan akhirnya yg ngendep di pikiran gue cuma yg negatif-negatifnya aja, yg positif-positif malah nguap entah ke mana. Mending karena apa kata orang, ini mah kadang malah sebenernya nggak ada yg bilang, cuma gue aja yg saking nggak pedenya terus gue buat-buat aja sendiri tuh si negative thoughts seolah-olah itu kata orang. Halu in the worst way. Hahaha.

Well, then i scroll my instagram feeds again. Gue mencoba mengingat momen-momen kapan foto-foto itu diambil. Kok semuanya bahagia ya? Jadi sebenernya hidup gue banyak bahagianya, tapi gue malah terlalu fokus sama apa yg bikin gue sedih. Scroll lagi, kok gue keliatan keren banget ya di foto-foto ini? Oh kayaknya karena gue pede (cenderung cuek sih, tapi ya pada akhirnya nggak peduli apa kata orang bikin pede juga kok. Wkwk). Padahal foto-foto itu bajunya sama. Cuma jins, sneakers, dan kemeja bokap gue atau kemeja pacar-gue-saat-itu atau kaos. Kayaknya selama ini gue terlalu fokus dan mikir gimana caranya supaya gue bisa lebih girly cuma dengan berusaha ngubah outfit, padahal guenya nggak nyaman makenya dan malah bikin gue makin nggak pede karena awkward, dan bukan dengan memperbaiki attitude dan mindset gue.

Another thing comes to my mind while I scroll my instagram feeds to the most bottom one: gue gayanya tomboy kayak gini aja ada aja kok yg naksir, kenapa gue harus jadi korban mbak-mbak ootd instagram?

Ini gue sebenernya nggak tau sih ngelantur apa ngetik sepanjang ini. HAHAHA. Melegakan aja buat numpahin semuanya. Gue nggak expect siapapun untuk mengerti sih. Gue cuma butuh gue sendiri untuk mengerti diri gue sendiri, saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s