Author: annskaa

#riotonwords

Archipelago Festival, Connecting The Dots in Music Industry

Judulnya sok-sokan Bahasa Inggris tapi gue nggak sangguplah nulis this whole article in English. Hahaha.

Archipelago Festival adalah acara yg ternyata berupa rangkaian bahkan dari sebelum tanggal 14-15 Oktober 2017 kemarin. Tapi buat pre-event, sepertinya memang tidak dipublikasikan sedemikian rupa dan gue nggak dateng juga. Gue dateng ke acara ini sebagai perwakilan dari ROI berkat pertemanan dengan Microgram Entertainment, sesama pejuang ranah kreatif di Bandung walaupun sekarang ROI lebih sering beredar di Jakarta karena gue yg masih rajin ngusahain (ceritanya sekalian curhat).

from @agungtoso ‘s instagram

Jadi, gue datang di tanggal 14 jam berapa ya? Jam 5 sore-an deh. Dan seperti biasa pula, gue sendirian di tengah orang-orang yg sebenarnya banyak yg tau muka tapi ya gitu aja, da gue mah suka malu buat nyapa duluan. Berasa nggak se-keren mereka aja. Hahaha. Gue dapet dua diskusi panel tentang Pop Indonesia dan Music and Activism. Habis Magrib mulailah band-band-an.

Acaranya sendiri di Soehanna Hall, The Energy Building, SCBD. Gue mah udah hapal banget tempat ini karena selama Limitless Campus sering banget ngadain di sini. Gue nggak nyangka ballroom yg biasa dipake talkshow dan kondangan ini ternyata bisa juga dipake buat konser asik. Karena badan gue nggak bisa bohong, gue cuma nonton Feast dan Anomalyst lalu pulang walaupun dikatain cemen oleh seorang kawan. Yeuw, ini aja ngetiknya udah sambil masuk angin. Hvft.

Tanggal 15 gue sampe Soehanna jam 3:30 pm, emang ngincer talkshow jam segitu sih, sayang bentrok. Tadinya mau ikut talkshow tentang Fans tapi akhirnya memutuskan untuk ikut Digital Presence dengan Andien dan Dipha Barus sebagai speakers. Masih di ruangan yg sama, lanjut lagi talkshow Indie Pioneers dengan Demajors, Fast Forward Records, dan Aksara Records sebagai speakers. Label-label keren yg band-band naungannya beredar di berbagai pensi sekolah kala itu, dengan “kala itu” adalah jaman gue SMP alias 2005-2008an. It was so good old days ‘til I refuse to move on :’)

The main point of this two days event adalah menghubungkan semua aspek yg punya peranan dalam industri musik tanah air. Sebenernya jadwal talkshow-nya ada yg soal merchandising, festival, venues, perempuan di industri, brands, dll dsb. Hanya saja gue nggak sanggup ngikutin semua talkshow karena ya gue nggak kuat aja sekarang mah seharian di “gigs”. Nonton berdiri sejam aja betis gue udah kenceng, duh monmaap.

Selain ngikutin talkshow dan nonton band-band-an, acara ini sebenarnya jadi ajang networking juga. Contoh, ya gue aja yg baru kenalan sama anak Microgram. Sebenernya beberapa udah kenal, bahkan ada yang (pernah) dekat, tapi Microgram kan nggak cuma segelintir orang. Seru aja ngeliat gimana orang-orang bersosialisasi, saling kenalan, walaupun gue sendiri belum banyak berani kenalan karena keburu keder. Giliran momennya butuh, introvert-nya malah keluar. Terus gue sendirian aja gitu ke sana kemari kayak orang bingung. Kelar Gaung manggung, gue pulang. Mending aing beberes kamar. Hahaha. Duh maap kasar ih si Annska mah sok kitu 😦

Lepas dari beberapa ketidaknyamanan yg terjadi, gue seneng banget memutuskan menyempatkan diri datang ke sini. Sebenarnya, ilmu dan pertemanannya yang berharga. Semoga jadi annual event ya!

Advertisements

Choices, Karena Hidup Emang Selalu Soal Pilihan

​Mau real life mau virtual life, semua pasti harus memilih. Pengambilan keputusan, risiko yang dipertimbangkan dan muncul, asas sebab-akibat, nggak di mana nggak di mana pasti akan ada.

Kali ini gue nggak mau bahas hal berat kok, justru gue mau bahas tentang game. Yeeaayyy! Pertama kali nih gue review ala-ala pake objek game. Game-nya enteng kok. I’ve never been a fan of rough game model DOTA atau Mobile Legend. Game gue cenderung ke RPG model The Sims, Harvest Moon (ugh! so good old days!), khas cewek kali ya. Akhirnya ada sesuatu yang menegaskan bahwa selera gue adalah selera perempuan. Hahaha.

Game ini namanya Choices. Bisa diunduh di Google Play atau App Store…kalo kalian mau main versi resmi dan sedikit kurang seru. Kalau mau main yg lebih seru, silakan googling pake keyword nama game ditambahin “mod”. Hahaha. Tapi Pixelberry terbaik kok!

Choices tuh kayak perpustakaan yg masing-masing bukunya kita yg atur jalan cerita dan ending-nya. Jadi di masing-masing buku kita bakal berperan jadi tokoh utamanya, ada yg cewek ada yg cowok, kebanyakan cewek sih. Meskipun begitu ada juga beberapa buku cerita yg kita harus ganti-ganti peran.


Di setiap chapter di masing-masing buku sebenernya udah ada grand plot-nya, tapi nanti akan ada beberapa section yg kita sebagai player diwajibkan untuk memilih reaksi. Sebagaimana asas sebab-akibat in real life, pilihan apapun yg kita ambil akan mempengaruhi feedback dari si tokoh lain an alur cerita di game itu. So be wise! Some choices are just so bad and rude that will give you a bad feedback. Beberapa scene ada yg jelas banget antara good and bad options-nya, tapi beberapa ada juga yg blurry. Tergantung kepekaan masing-masing yg main sih kali ya. Hahaha.

When you have to choose, there are two to three options. Buat beberapa scene santai, kamu bisa agak lama mikir dan nentuin pilihan. Sebaliknya, ada beberapa scene yg kita harus milih cepet karena dikasih waktu. Di sini, kemampuan skimming dan menyimak kita bener-bener diuji. Soalnya kadang statement-nya panjang! Kita belom selesai baca, waktunya udah habis. Kalau nggak sempet milih apa-apa, si tokoh yg kita mainin biasanya jadi cuma bengong gitu.


Beberapa minggu mainin game ini, sebenarnya gue pribadi malah ngerasanya kayak baca buku ya, baca novel, karena nggak semua reaksi bisa kita pilih dan secara garis besar ceritanya berjalan sesuai plot besar yg udah diatur. Big decisions di game ini mostly tentang romance sih, jadi kita dikasih kesempatan buat deket ke (biasanya) tiga orang, nah nanti endingnya milih deh mau jadian atau kawin sama siapa. Yg lucu dan agak contrary sama Indonesian people (plis baca ala abege gawl jaman now, plis *lol*), biasanya kita dikasih pilihan juga mau jadi straight atau engga jadi kita bisa eksplor sesuka-suka kita aja. Ya namanya game mah ya suka-suka aja ya khan~

Gue sih belom mainin semua buku soalnya banyak bangeeettt! Terus tiap main satu chapter harus pake satu key yg bisa kita dapetin setelah idle 2,5 jam. Agak lama yha nunggunya, but it’s worth the wait kok. Biar bisa fokus ngerjain yg lain juga kan nggak main game aja. Hehe.

Kalo udah penasaran banget, cus cari “Choices” di Google (Play) atau App Store!

Jadi, Kamu Udah Ngapain Aja sama Gigi dan Mulutmu?

​Gigi dan mulut adalah tempat terjadinya banyak hal. Iya dong, bener. Apapun yg masuk ke tubuh kita, 80% pasti melalui mulut. Ya makanan, ya minuman, ya cairan-cairan lain yg lo dapetin di kamar (#ehem), atau bahkan racun seperti rokok atau malah NAPZA. Semoga yg terakhir tidak terjadi.

Dengan banyaknya fungsi gigi dan mulut, serta dengan statusnya sebagai pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia…eh salah itu mah Pembukaan UUD 45. Haha. Maksudnya, dengan statusnya sebagai pintu gerbang atas apapun yg masuk ke tubuh, menurut gue menjaga kesehatan dan kebersihannya harus jadi prioritas, malah kebutuhan dasar.

Ini yg kadang kita lupa bahwa kesehatan tubuh itu utuh, satu kesatuan. Nggak cuma yg dirasain di pinggang, kening, atau anggota badan lain yg ‘mainstream’. Kadang kita lupa kalo mulut tuh malah jadi sumber penyakit utama. Ya seringnya kan kita sakit gara-gara makanan ya.

Dari kecil gue dan mayoritas kita pasti diajarin untuk sikat gigi sehari dua kali. Tapi percayalah, itu nggak cukup. Apakah lalu harus jadi tiga kali? Enggak juga sih. Menurut gue menjaga kesehatan gigi dan mulut itu tetep harus dengan perlakuan ekstra. Salah satunya dengan kumur-kumur pake mouthwash. Berasa tersier, tapi percaya deh itu ngebantu banget. Apalagi buat mengenyahkan bau mulut yg nggak enak, meskipun kadang bau mulut datangnya malah dari perut dan bukan dari mulut sendiri. (Ini gimana ya jelasinnya? Nanti deh. Hahaha)

Selain kumur-kumur pake mouthwash, kita juga bisa (gue merekomendasikan HARUS sih sebenernya) pergi ke dokter gigi. Kalo rumah sakit dan klinik berasa agak mahal, dokter gigi yg buka praktik di rumah banyak kok. Waktunya malah lebih fleksibel buat yg kerja kantoran 9-5 (it’s 9-6 in my case) karena klinik di rumah biasanya buka malem. Soal BPJS, gue nggak tau nih, harus cek dan riset lagi.

Pergi ke dokter gigi itu ngebantu banget buat nemuin apa yg salah sama gigi dan mulut. Atau sesederhana mau bersihin karang gigi yang, percayalah, ganggu banget. Kalau kalian bingung wujud karang gigi itu kaya apa, bisa googling aja yha. Mon maap kalo ternyata nanti keluarnya agak disturbing pictures. Hahaha. Selain itu bisa juga nemuin masalah kenapa gusi sering bengkak dan berdarah, dan sejuta satu masalah gigi dan mulut lainnya.

Pergi ke dokter gigi juga akan sangat membantu elo yg punya gigi gingsul. Mungkin akan terdengar ofensif, tapi maaf ya, maaf banget, gue cerita berdasarkan pengalaman gue.

Selama ini stigma kita adalah orang dengan gingsul itu cakep, manis, lucu, imut, et cetera. Iya kok bener, gue nggak memungkiri dan nggak membantah. DENGAN CATATAN, giginya pun bersih. Kenyataannya, yg gue temui adalah mereka yg punya gingsul tapi nggak sadar bahwa gingsul-nya butuh perawatan ekstra.

Ini dari kacamata gue yg awam dan bukan praktisi kesehatan gigi dan mulut. Kalau ada yg lebih ahli, monggo dikoreksi supaya jadi ilmu buat bareng-bareng :]

Posisi gigi gingsul yg saling tindih atau membelakangi otomatis akan menyulitkan pas sikat gigi. Berdasarkan yg gue amati, kenalan gue dengan gingsul seringkali nggak sikat gigi dengan bersih, terutama di gigi gingsul yg belakang. Mungkin karena lokasinya di belakang, jadi suka nggak kena sikat gigi. Gue nggak sepenuhnya menyalahkan mereka kok, mungkin mereka cuma kurang aware aja. Dan karena di kita kumur-kumur pake mouthwash masih bukan kebiasaan, mungkin kenalan-kenalan gue ini juga nggak biasa pake mouthwash.

Sikat gigi yg secara nggak sadar ternyata nggak bersih otomatis bikin kotorannya numpuk. Ya kalo kotoran di gigi numpuk mah apa yg akan terjadi kemudian mah udah taulah ya. Ya gigi bolong, ya karang gigi, ya bau mulut. Yang terakhir ini yg kayaknya belum banyak yg sadar. Ya Lord :((

Gue yakinlah lo udah tau rasanya ngomong sama orang yg bau mulut. Mau nutup idung nggak enak, mau ngasih tau juga sungkan, serba salah dan cuma bisa pasang persneling mundur pelan-pelan se-smooth mungkin supaya lawan bicara kita nggak ngeh dan nggak tersinggung.

Dalam cerita gue, sebenernya ini terjadi di beberapa gebetan gue. *nangis* Kebayang nggak sih gimana rasanya lagi suka-sukanya, kemudian menyadari ada hal “kecil” yg ngeganjel kayak gini? Huhuu. Bikin turn off, asli. Gue pernah ‘meninggalkan’ gebetan gue karena hal ini. Mungkin gue juga salah sih karena nggak berani bilang dan ngasih tahu. Kalau lo pernah ada di posisi yg sama, mungkin lo tau betapa dilematisnya negur orang soal bau mulut. Lebih gampang ngasih tau ada cabe nyelip di gigi!

Kalau hal ini terjadi sama pacar gue mah, mungkin ceritanya akan beda. Gue akan nyeret dia ke dokter gigi buat bersihin itu gigi dan mulut. Dan kalau emang harus, malah mungkin akan meyakinkan untuk pake kawat gigi aja biar barisan giginya jadi bener dan rapi (barisan~~ para mantan kali ah). Kalo kencan nonton bioskop udah mainstream, gue rasa kencan ke dokter gigi buat bersihin karang gigi bareng bisa jadi next trendsetter. Who knows.

Jadi, kamu udah ngapain aja sama gigi dan mulutmu?

Review Ala-ala: Salah Udah Fest II

*kretekin jari-jemari*

*bersih-bersih sarang laba-laba*

*berdeham*

Banyak yaaa intronyaaa. Hahaha.

Setelah sekian lama ku ndak review-mereview, kali ini ku ingin mereview (padahal mah curhat) salah satu gelaran kece Jumat (11/8) lalu di venue kecil nan intim kesayangan gue di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Iyeessshhh, tidak lain dan tidak bukan: Borneo Beerhouse! Uwuwuwuww laff sekali deh sama tempat ini. Hahaha.

Jadi acara ini tuh namanya Salah Udah Fest II. Digagas oleh Bapak Rizkan terkeren dan tentunya dengan bantuan teman-teman kolektif yg lain, acara ini jadi ajang senang-senang sekaligus emosional. Gue ngga ngerti soalnya konsep utamanya acara ini apa. Hahaha. Berisikan delapan band yg berbagi panggung, Borneo jadi cukup panas. Literally panas. Gerah. Hareudang kata orang Sunda mah. Pokoknya kita uwel-uwelan intim di dalem situ. Cieee intim :)))

Acaranya mah mulai dari jam berapa ya? Jam 7 atau 8 malam kali. Gue sih datang jam 9:30. Hahaha. Soalnya gue belom familiar dengan beberapa band yg main dan emang tujuan utama gue adalah melepas kepergian Saturday Night Karaoke setelah gue gagal nonton mereka di Thursday Noise sehari sebelumnya. Gue tau SNK main jam 10an jadi ya gue dateng mevets. Toh ternyata ngaret juga khaaannn. Indonesyen taipikel. Hvft.

Seperti biasa, gue berangkat sendiri naik ojol. Sampe depan Borneo, nggak serame yg gue pikir. Ternyata udah pada di dalem. Katanya yg lagi main The Rang Rangs. Oke, karena gue belum kenal dan gue ngga tahan kalo di dalem uyel-uyelan lama berjibaku dengan asap rokok, gue memutuskan nunggu depan pintu dulu. Sekalianlah jadi bouncer kan, badan udah cocok. #iyakali Ngobrollah gue sama Bapak Rizkan yg jaga tiket. Ternyata dia masih inget gue karena gue pernah dateng ke acaranya dia juga yg ngundang RVIVR. Apakah gue tau RVIVR? Tentu tidak. Waktu itu gue datang karena butuh ngobrol sama SNK. Pertama kali bersentuhan langsung dengan SNK, saat itu.

Dude, gue tidak se-berwawasan yg kalian pikir kok. Hahaha.

Ngobrol ngobrol ngobrol, akhirnya gue memutuskan bayar tiket dan masuk. Yha doong, bayar tiket mah harus. Eh terus gue dapet kaset Revello (yg sampe sekarang belom gue puter) dari Bapak Rizkan. Katanya karena gue udah 2x dateng ke gigs dia. Yawla, baik sekali. Semoga Allah ngasih rezeki yg banyak buat Bapak Rizkan sekeluarga dan Rizkan Records. Amin!

Sampe dalem…penuh, coy. Buset pengap bener. Campur bau keringet (untung tidak bau ketek, Ya Gusti) dan bau asap rokok. Sebenernya kalo gue dapet duduk ngga masalah sih, tapi karena gue ngga dapet, melipirlah gue ke atas, nyamperin SNK dan kawan-kawan Jepangnya. Siapa kawan-kawan Jepangnya? Mereka adalah Felix! (The Band). Apakah gue tau? Tentu tidak juga. HAHAHAHA. Astagfirulloh. Pokoknya gue duduk aja nyari spot biar bisa nonton ke panggung di bawah. Alhamdulillah dapet. Katanya yg main udah ganti jadi Down The Block. Hmm…baiklah.

Gue kira habis Down The Block bakal SNK dulu, ternyata Felix! dulu. Oke. Gue ngga ngerti sih mereka nyanyi apa. HAHAHAHA. Ya Felix!, maafkan daku. Meskipun begitu, gue menikmati kok. Ah da gue mah anaknya gampang dibahagiain! :’)

paha mz, paha

Jadi sebenernya gig ini tuh kolaborasi antara tur Felix! (The Band) di Indonesia dan last show SNK di Jakarta. I dont really care about the first occassion but the second one matters the most. SNK tuh “Unpad Crew” dan ya gue seneng aja. Sebagai sesama IKA UNPAD. #eaaa Tika anaknya jadi almamater banget habis lulus. Dulu di kampus kupu-kupu padahal *lol* Yang gue lebih seneng lagi adalah SNK itu ramah banget. Nget. Nget.

Kelar Felix!, naiklah SNK. Karena tangan dan kaki gue udah gatel dari tadi duduk mulu, akhirnya gue turun bergabung dengan 2 mbak-mbak yg salah satunya mbak Jepang rombongan Felix!. Baru mulai main aja crowd-nya udah rame bangeeeeeetttt! Ku sukak! Sampe akhirnya lagu Bertemu dibawain sebagai penutup. Sepanjang mereka main banyak banget yg teriak “NGGAK JADI BUBAR!” included me. Hahaha. Alay banget iya emang maapin. Turun panggung gue meluk vokalisnya karena gue bahagia sama penampilan mereka dan sebagai moral support aja. Keputusan udahan itu pasti berat banget kan. Ya kaya orang pacaran aja kalo putus gimana sih yakan.

It broke my heart when I saw SNK’s vocalist bursted into tears after the hug-for-everyone. I only could patted his back and saying his name to calmed him down. Ugh sumpah emosional banget! “Untung”nya cuma vokalisnya yg nangis…saat itu.

Sabtu (12/08) Felix! dan SNK manggung lagi di Bandung. Dari yg gue liat di salah satu instagram stories temen, di Bandung, yg merupakan panggung bener-bener terakhir mereka, akhirnya semua jadi ikutan nangis. 9 years journey and it all has to ended on this year.

I barely know them. Gue ngga akan ngaku-ngakulah. Jujur aja gue juga tau SNK karena assignment dari ROI Radio. But it’s always fun for me to get to know to new people. I could always get a new stories, insights, friends, perspectives, and so on. Oiya, di Salah Udah Fest II ini juga akhirnya gue “dipertemukan” dengan abang fotografer baik hati yg udah berapa kali ngizinin fotonya dipake buat artikel gue di ROI dan termasuk yg ada di atas dan di bawah. You can always check all his works here and follow his instagram here.

Thanks for all the memories and good songs & performance you brought for us, Saturday Night Karaoke! Ditunggu reuninya ya! xD

nggak ada gue mah di belakang ketutupan cowok-cowok berbadan besar ini hahaha

How To Deal with Your Friends’ Engagement

​Post ini ngga akan kayak wikihow. Ngga akan ngasih guidance about how to dress to attend your friends’ engagement juga. Lebih ke…ya gimana cara ngadepinnya aja.

Gimana cara ngadepin kenyataan bahwa temen-temen lo udah lamaran and you’re left behind. Bukan ditinggalkan juga sih, pace dan timing ketemu jodohnya aja yg beda. Hehe. Btw, gue akan nulis ini sepenuh hati karena…ya gue lagi ngalamin. Apakah gue temennya Raisa dan Hamish? Enggak juga. Da aku mah apa atuh, underdog yg masih berusaha mencari jati diri dan celah bagaimana agar supaya bisa di-notice oleh senpai… #uopoohh

Temen-temen gue banyak yg udah nikah. Banyak. Banget. Temen KKN, temen nongkrong, mantan pacar, mantan gebetan, dst dsb. Di inner circle gue, gue adalah satu-satunya yg masih jomblo. Single. Nggak punya pacar. Sendiri. Apalah istilahnya serahlu. Emang jahat temen-temen gue ini nggak nular-nularin aura agar supaya laki-laki ngelirik eug. Hvft. Apakah kemudian gue ngiri liat mereka? Sedikit-banyak mah ada. Jealous aja ngeliat mereka punya yg di-tergantung-in, yg willing to do anything to them, kalo pas lagi akur. Kalo pas lagi berantem yha…kayaknya masih enakan sendiri ya. Hahaha.

Jadi gimana dong harus bersikap kalo ada di lingkungan kayak gini? One thing I do, I don’t give a f*ck. Sebenernya kalo temen-temen inner circle gue justru pada ngerti kenapa gue masih single, berapa banyak laki-laki yg datang dan pergi, dan tetekbengeknya. Justru biasanya yg rempong adalah mereka yg nggak terlalu kenal sama kita. It happens every time.

Lalu, apakah gue jealous ngeliat temen-temen gue satu per satu mulai pada tunangan dan kawin? Jelas. Ngiri kepengen? Jelas. Terus buru-buru pengen? Enggak. You can’t gamble your life to a man who you don’t know well. Sometimes, instant things won’t work.

Lah, terus yg pada taaruf gimana? Dude, mereka yg melakukan taaruf kebanyakan berada di level berbeda dari gue. Kebanyakan ada di level lebih tinggi dari gue terutama soal agama. Gue selalu salut dan ikut seneng kalo ada yg taarufnya berhasil dan mengantarkan mereka pada jodohnya. Gue, dengan kondisi gue saat ini, boro-boro luring babang sholeh yg “taaruf type”, yg biasa aja nggak mau bertahan kok. HAHAHAHA watir.

Lantas, apa dong yg harus dilakukan? Gue mah sadar betul hal yg paling mendasar yg harus dilakukan adalah menjauh dari godaan setan yg terkutuk, alias memperbaiki dan memantaskan diri. Theoretically, it’s easy…to say. Prakteknya? Haduuuu. Perang paling sulit emang perang sama diri sendiri.

Jadi kalo sekarang ada temen lo yg baru lamaran atau baru kawin, ya ucapin selamat aja. Ikut berdoa juga di hari bahagia mereka supaya mereka bahagia dan lo sendiri cepet nyusul nikah sama jodoh yg baik. Jangan lupa ngamplop atau yaa…kadoin Irex 2 dus bolehlah. Eh, Irex emang masih ada ya? *lol*
PS: gue melanjutkan draft dari bulan Mei waktu Raisa dan Hamish baru banget tunangan 😀

The Struggle is Real

Jadi, salah satu temen gue memutuskan untuk kerudungan. At least that’s what i see on her instagram account. Gue seneng, seneng banget! Walaupun sebenernya dia sempet jadi panutanque karena gayanya kewl abeiz yg ala-ala anak poppunk tapi cakep gitulah. Dan walaupun badan dia setengahnya badan gue. Hahaha.

Gue berdoa semoga ia istiqomah dan nggak copot-copot labil kayak gue. Dan semoga ia segera dilamar dan menikah dengan sang kekasih yg sedang paving his road to mapan-ness. Amin.

Then i reflect on myself by scrolling my own instagram account. Feeds instagram gue adalah rekap perjalanan gue. Dari post pertama taun 2013 sampe post terakhir bulan Mei lalu, walaupun banyak yg gue hapus juga sih. Atas nama aesthetic feeds. Hahaha. Lame… #terawkarin

Tapi gue nggak pernah malu masih majang foto-foto lama gue yg masih kerudungan rapi dan chakep. Buat gue, itu bagian perjalanan gue. That’s what shaped me to be my me now. Sampe sekarang juga gue di kantor masih kerudungan kok. Mungkin beberapa akan judging bahwa gue labil dan nggak konsisten. Or in an extreme level, “melecehkan Islam”. Well, it’s not Islam that wrong, it’s just me who isn’t ready yet and still learning. Most people would never know what I’ve been through and why I decide to do what I do now. I dont need their approvals by the way, and I dont need to explain either.

Beberapa bulan terakhir jadi masa-masa gue paling lost. Gue kayak bener-bener tersesat. Hidup di Jakarta sendirian, struggling on how to deal with the life i dont want to live but i have to, on how to deal with my own self, living the life without purpose (yet), gue nggak tau mau ke mana, gue nggak tau kenapa gue ngejalanin hidup gue yg sekarang (selain soal finansial), insecure sama masa depan, insecure sama diri sendiri, terlalu (ingin) bergantung sama orang lain (baca: punya pacar yg bisa diculik), menyalahkan keadaan, nggak bersyukur, overworry, overthinking, negative thinking, most of the negative acts you name it, I’ve been there.

Saking tersesatnya gue sampe anxious tiap hari. Bangun pagi nggak happy, berangkat ke kantor telat mulu, di kantor jadi antisosial, it’s just difficult to laugh and enjoy every moment & things I do. Susah aja, selalu ada yg ganjel. Ini baru soal intrapersonal dan kerjaan. Belom masalah cinta-cintaan. Beuh…makin bikin stress. Hahaha.

Jujur aja, sejak gue memutuskan vakum dari salah satu friend circle yg pernah gue jalani dan pernah jadi yg paling dekat, gue kehilangan sesuatu yg bisa diceritain. Bikin gue jadi susah buat ngobrol sama gebetan karena ya nggak ada yg bisa diceritain. Office work juga rutinitas kan, nggak ada yg bisa diceritain. Gigs lagi nggak begitu rame (yaiyalah bulan Ramadhan cuy, you think -_-), besides gebetan gue nggak satu selera sama gue soal musik. It makes things harder and somehow it doesn’t work out the way I want. We didn’t work out. Gue nggak tau sih apakah social skill gue jadi cupu karena I spend most of my life inside a cubicle and battling with those vehicle sellers, idk. I’m struggling with my own self-confidence. Boro-boro self-esteem.

Emm…sebenernya gue ngerasa gue jadi kayak gini karena candaan-candaan dari si “mantan” circle gue yg selalu menganggap gue “laki” hanya karena gue berpenampilan tomboy dan cuek. Setaun ada di circle itu, kayaknya bisa diitung jari sih kapan gue bener-bener dihargai sebagai perempuan. Kecuali, pas mulut gue ngomong sembarangan dan pas gue lagi kerudungan baru gue dicecer, “Lo perempuan kan? Kerudungan kan? Nggak malu lo ngomong kasar kayak gitu?”. Kalo engga mah, PRET, boro-boro. Mikirin perasaan gue aja enggak. Gue pernah sampe stres dan nangis berkali-kali karena ini. Nggak, nggak nangis di depan merekalah. Percuma nangis di depan mereka juga nggak akan ngubah pandangan mereka. Sampe akhirnya gue memutuskan bahwa pertemanan ini nggak lagi sehat buat gue dan malah akan jadi self-destruction kalo gue insist buat tetep ada di dalam circle ini. Then I left.

One day, my senior peer “slapped” me. Intinya dia bilang gue harus banyak bersyukur, mantesin diri biar dinaikin kelasnya. Semua struggle yg gue lewatin harus disikapi dengan positif supaya gue tumbuh, supaya gue mendewasa nggak cuma menua dan nambahin keriput dan kantung mata.

Seringkali gue nggak percaya gue cantik (pfft…). Gue nggak pernah jadi sosok yg narsistik. Tapi ternyata pikiran kaya gitu yg akhirnya gue sadar malah ngejatohin diri gue sendiri. Kalo gue sendiri aja nggak bisa stand up for my own self, who will? Kalo gue aja belom bisa sayang sama diri gue sendiri, ya masa orang lain bisa. Selama ini gue nggak pede karena gue gendut (BMI gue 30, fyi). Tapi sejak gue menggendut ini, malah banyak yg bilang gue cantik. Mulai dari temen di social movement sampe mbak-mbak salon. Dulu gue nggak pede karena rambut gue keriting. Sekarang mah bodo amat. Di kota sebesar dan sesibuk Jakarta, no one will care about how your hair looks, darling. Kalaupun ada yg ngeledekin…well that’s their problem.

I always wonder why all the boys who once interesting on me, pull away after awhile. Maybe that’s not because of my looks, maybe that’s because of my attitude, my vibe that just not positive enough to attract them. Akhir-akhir ini mungkin gue terlalu fokus dan mikirin banget apa kata orang. Itupun nggak disaring lagi, semua gue telen dan akhirnya yg ngendep di pikiran gue cuma yg negatif-negatifnya aja, yg positif-positif malah nguap entah ke mana. Mending karena apa kata orang, ini mah kadang malah sebenernya nggak ada yg bilang, cuma gue aja yg saking nggak pedenya terus gue buat-buat aja sendiri tuh si negative thoughts seolah-olah itu kata orang. Halu in the worst way. Hahaha.

Well, then i scroll my instagram feeds again. Gue mencoba mengingat momen-momen kapan foto-foto itu diambil. Kok semuanya bahagia ya? Jadi sebenernya hidup gue banyak bahagianya, tapi gue malah terlalu fokus sama apa yg bikin gue sedih. Scroll lagi, kok gue keliatan keren banget ya di foto-foto ini? Oh kayaknya karena gue pede (cenderung cuek sih, tapi ya pada akhirnya nggak peduli apa kata orang bikin pede juga kok. Wkwk). Padahal foto-foto itu bajunya sama. Cuma jins, sneakers, dan kemeja bokap gue atau kemeja pacar-gue-saat-itu atau kaos. Kayaknya selama ini gue terlalu fokus dan mikir gimana caranya supaya gue bisa lebih girly cuma dengan berusaha ngubah outfit, padahal guenya nggak nyaman makenya dan malah bikin gue makin nggak pede karena awkward, dan bukan dengan memperbaiki attitude dan mindset gue.

Another thing comes to my mind while I scroll my instagram feeds to the most bottom one: gue gayanya tomboy kayak gini aja ada aja kok yg naksir, kenapa gue harus jadi korban mbak-mbak ootd instagram?

Ini gue sebenernya nggak tau sih ngelantur apa ngetik sepanjang ini. HAHAHA. Melegakan aja buat numpahin semuanya. Gue nggak expect siapapun untuk mengerti sih. Gue cuma butuh gue sendiri untuk mengerti diri gue sendiri, saat ini.

Because Long Distance Relationship Is Not That Easy to Deal With

​It will sound so lame, tapi gue beneran rindu.

Gue bukan tipe yg suka diajak kencan nonton, atau ke mall. Kalo diinget-inget, dari dulu gue pacaran kalo kencan jarang banget ke mall. Kencan nonton, pertama dan terakhir di hidup gue, sampai saat ini, itu 2014. Suka? Enggak. Gue malah bingung pergi sama pacar tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Hahaha. Maksudnya ngapa-ngapain teh ngobrol, holding hands…kalo di dalem bioskop kan nggak bisa. Lo harus fokus ke layar, sambil jejeritan kecil sendiri sesekali, sambil makan popcorn, atau kuaci *lol*

Bukan berarti nggak pernah kencan ke mall, pernah. Tapi ya paling makan doang. Gue lebih suka kencan, atau pergi berdua ke tempat outdoor. Taman kota? Boleh. Atau bahkan sekedar naik motor keliling kota sambil ngobrol sepanjang jalan, dan baru berhenti dadakan nyari tempat makan kalau udah capek. Trust me, it happens. Sampe akhirnya muterin rute yg sama dua kali karena bingung mau berhenti di mana. Hahaha.

Ada satu orang yg bisa sabar banget ngadepin gue yg selera kencannya aneh ini. Dia rela nyamperin gue yg rumahnya di Selatan, sedangkan rumah dia di Utara. Naik motor antik yg speed-nya nggak bisa di atas 50 km, yg gue naiknya aja deg-degan semoga nggak turun mesin karena gue gendut. Pfft. Muterin kota di atas motor, berenti cuma buat makan, atau jalan kaki nyusur distrik belanja terus beli es krim, makan di pinggir jalan (literally pinggir jalan), mampir liat yg pada nonton wayang kulit (iya kita nggak nonton wayang kulitnya hahaha). Terus di hari yg beda kita motoran ke pantai (enggak, ini kita jalan pake motor 125cc hahaha), pake nyasar ke mana-mana gara-gara google maps sucks, dari excited sampe cape sampe excited lagi, sabar banget nungguin gue rempong bilas habis main air laut di pantai (ya namanya juga cewek ya, harap maklum perintilannya banyak), dan yg gue seneng lagi dia bisa ngambilin foto gue bagus-baguuuussss! Instagramable pokoknya laff~ Pulang dari pantai ngajak ke heritage site buat ngejar sunset, megangin tangan gue pake tangan kiri sementara tangan-kanan-masih-ngatur-gas-motor karena gue ngantuk di motor, sabar banget ngikutin gue jalan ke mana-mana karena I love history! Walaupun si heritage site ini nggak punya catatan sejarah yg jelas dan lengkap. Hvft.

Gue rindu. Gue rindu sama orang superbaik ini. Ketololan-ketololan yg terjadi terutama pas nyasar, sekarang jadi bahan tertawaan bareng and indeed a good memories. It’s just I have to accept the fact that fate separates us. Dia pindah makin ke timur, dan gue pindah makin ke barat. I believe we cared for each other, but long distance relationship is just not that easy to deal with… :”)

PS: gue nulis ini dengan radio cubicle sebelah muter HiVi – Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi dan membuat gue ingin berkata kasar. Hahahaha siyalan.