daily

The Struggle is Real

Jadi, salah satu temen gue memutuskan untuk kerudungan. At least that’s what i see on her instagram account. Gue seneng, seneng banget! Walaupun sebenernya dia sempet jadi panutanque karena gayanya kewl abeiz yg ala-ala anak poppunk tapi cakep gitulah. Dan walaupun badan dia setengahnya badan gue. Hahaha.

Gue berdoa semoga ia istiqomah dan nggak copot-copot labil kayak gue. Dan semoga ia segera dilamar dan menikah dengan sang kekasih yg sedang paving his road to mapan-ness. Amin.

Then i reflect on myself by scrolling my own instagram account. Feeds instagram gue adalah rekap perjalanan gue. Dari post pertama taun 2013 sampe post terakhir bulan Mei lalu, walaupun banyak yg gue hapus juga sih. Atas nama aesthetic feeds. Hahaha. Lame… #terawkarin

Tapi gue nggak pernah malu masih majang foto-foto lama gue yg masih kerudungan rapi dan chakep. Buat gue, itu bagian perjalanan gue. That’s what shaped me to be my me now. Sampe sekarang juga gue di kantor masih kerudungan kok. Mungkin beberapa akan judging bahwa gue labil dan nggak konsisten. Or in an extreme level, “melecehkan Islam”. Well, it’s not Islam that wrong, it’s just me who isn’t ready yet and still learning. Most people would never know what I’ve been through and why I decide to do what I do now. I dont need their approvals by the way, and I dont need to explain either.

Beberapa bulan terakhir jadi masa-masa gue paling lost. Gue kayak bener-bener tersesat. Hidup di Jakarta sendirian, struggling on how to deal with the life i dont want to live but i have to, on how to deal with my own self, living the life without purpose (yet), gue nggak tau mau ke mana, gue nggak tau kenapa gue ngejalanin hidup gue yg sekarang (selain soal finansial), insecure sama masa depan, insecure sama diri sendiri, terlalu (ingin) bergantung sama orang lain (baca: punya pacar yg bisa diculik), menyalahkan keadaan, nggak bersyukur, overworry, overthinking, negative thinking, most of the negative acts you name it, I’ve been there.

Saking tersesatnya gue sampe anxious tiap hari. Bangun pagi nggak happy, berangkat ke kantor telat mulu, di kantor jadi antisosial, it’s just difficult to laugh and enjoy every moment & things I do. Susah aja, selalu ada yg ganjel. Ini baru soal intrapersonal dan kerjaan. Belom masalah cinta-cintaan. Beuh…makin bikin stress. Hahaha.

Jujur aja, sejak gue memutuskan vakum dari salah satu friend circle yg pernah gue jalani dan pernah jadi yg paling dekat, gue kehilangan sesuatu yg bisa diceritain. Bikin gue jadi susah buat ngobrol sama gebetan karena ya nggak ada yg bisa diceritain. Office work juga rutinitas kan, nggak ada yg bisa diceritain. Gigs lagi nggak begitu rame (yaiyalah bulan Ramadhan cuy, you think -_-), besides gebetan gue nggak satu selera sama gue soal musik. It makes things harder and somehow it doesn’t work out the way I want. We didn’t work out. Gue nggak tau sih apakah social skill gue jadi cupu karena I spend most of my life inside a cubicle and battling with those vehicle sellers, idk. I’m struggling with my own self-confidence. Boro-boro self-esteem.

Emm…sebenernya gue ngerasa gue jadi kayak gini karena candaan-candaan dari si “mantan” circle gue yg selalu menganggap gue “laki” hanya karena gue berpenampilan tomboy dan cuek. Setaun ada di circle itu, kayaknya bisa diitung jari sih kapan gue bener-bener dihargai sebagai perempuan. Kecuali, pas mulut gue ngomong sembarangan dan pas gue lagi kerudungan baru gue dicecer, “Lo perempuan kan? Kerudungan kan? Nggak malu lo ngomong kasar kayak gitu?”. Kalo engga mah, PRET, boro-boro. Mikirin perasaan gue aja enggak. Gue pernah sampe stres dan nangis berkali-kali karena ini. Nggak, nggak nangis di depan merekalah. Percuma nangis di depan mereka juga nggak akan ngubah pandangan mereka. Sampe akhirnya gue memutuskan bahwa pertemanan ini nggak lagi sehat buat gue dan malah akan jadi self-destruction kalo gue insist buat tetep ada di dalam circle ini. Then I left.

One day, my senior peer “slapped” me. Intinya dia bilang gue harus banyak bersyukur, mantesin diri biar dinaikin kelasnya. Semua struggle yg gue lewatin harus disikapi dengan positif supaya gue tumbuh, supaya gue mendewasa nggak cuma menua dan nambahin keriput dan kantung mata.

Seringkali gue nggak percaya gue cantik (pfft…). Gue nggak pernah jadi sosok yg narsistik. Tapi ternyata pikiran kaya gitu yg akhirnya gue sadar malah ngejatohin diri gue sendiri. Kalo gue sendiri aja nggak bisa stand up for my own self, who will? Kalo gue aja belom bisa sayang sama diri gue sendiri, ya masa orang lain bisa. Selama ini gue nggak pede karena gue gendut (BMI gue 30, fyi). Tapi sejak gue menggendut ini, malah banyak yg bilang gue cantik. Mulai dari temen di social movement sampe mbak-mbak salon. Dulu gue nggak pede karena rambut gue keriting. Sekarang mah bodo amat. Di kota sebesar dan sesibuk Jakarta, no one will care about how your hair looks, darling. Kalaupun ada yg ngeledekin…well that’s their problem.

I always wonder why all the boys who once interesting on me, pull away after awhile. Maybe that’s not because of my looks, maybe that’s because of my attitude, my vibe that just not positive enough to attract them. Akhir-akhir ini mungkin gue terlalu fokus dan mikirin banget apa kata orang. Itupun nggak disaring lagi, semua gue telen dan akhirnya yg ngendep di pikiran gue cuma yg negatif-negatifnya aja, yg positif-positif malah nguap entah ke mana. Mending karena apa kata orang, ini mah kadang malah sebenernya nggak ada yg bilang, cuma gue aja yg saking nggak pedenya terus gue buat-buat aja sendiri tuh si negative thoughts seolah-olah itu kata orang. Halu in the worst way. Hahaha.

Well, then i scroll my instagram feeds again. Gue mencoba mengingat momen-momen kapan foto-foto itu diambil. Kok semuanya bahagia ya? Jadi sebenernya hidup gue banyak bahagianya, tapi gue malah terlalu fokus sama apa yg bikin gue sedih. Scroll lagi, kok gue keliatan keren banget ya di foto-foto ini? Oh kayaknya karena gue pede (cenderung cuek sih, tapi ya pada akhirnya nggak peduli apa kata orang bikin pede juga kok. Wkwk). Padahal foto-foto itu bajunya sama. Cuma jins, sneakers, dan kemeja bokap gue atau kemeja pacar-gue-saat-itu atau kaos. Kayaknya selama ini gue terlalu fokus dan mikir gimana caranya supaya gue bisa lebih girly cuma dengan berusaha ngubah outfit, padahal guenya nggak nyaman makenya dan malah bikin gue makin nggak pede karena awkward, dan bukan dengan memperbaiki attitude dan mindset gue.

Another thing comes to my mind while I scroll my instagram feeds to the most bottom one: gue gayanya tomboy kayak gini aja ada aja kok yg naksir, kenapa gue harus jadi korban mbak-mbak ootd instagram?

Ini gue sebenernya nggak tau sih ngelantur apa ngetik sepanjang ini. HAHAHA. Melegakan aja buat numpahin semuanya. Gue nggak expect siapapun untuk mengerti sih. Gue cuma butuh gue sendiri untuk mengerti diri gue sendiri, saat ini.

Because Long Distance Relationship Is Not That Easy to Deal With

​It will sound so lame, tapi gue beneran rindu.

Gue bukan tipe yg suka diajak kencan nonton, atau ke mall. Kalo diinget-inget, dari dulu gue pacaran kalo kencan jarang banget ke mall. Kencan nonton, pertama dan terakhir di hidup gue, sampai saat ini, itu 2014. Suka? Enggak. Gue malah bingung pergi sama pacar tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Hahaha. Maksudnya ngapa-ngapain teh ngobrol, holding hands…kalo di dalem bioskop kan nggak bisa. Lo harus fokus ke layar, sambil jejeritan kecil sendiri sesekali, sambil makan popcorn, atau kuaci *lol*

Bukan berarti nggak pernah kencan ke mall, pernah. Tapi ya paling makan doang. Gue lebih suka kencan, atau pergi berdua ke tempat outdoor. Taman kota? Boleh. Atau bahkan sekedar naik motor keliling kota sambil ngobrol sepanjang jalan, dan baru berhenti dadakan nyari tempat makan kalau udah capek. Trust me, it happens. Sampe akhirnya muterin rute yg sama dua kali karena bingung mau berhenti di mana. Hahaha.

Ada satu orang yg bisa sabar banget ngadepin gue yg selera kencannya aneh ini. Dia rela nyamperin gue yg rumahnya di Selatan, sedangkan rumah dia di Utara. Naik motor antik yg speed-nya nggak bisa di atas 50 km, yg gue naiknya aja deg-degan semoga nggak turun mesin karena gue gendut. Pfft. Muterin kota di atas motor, berenti cuma buat makan, atau jalan kaki nyusur distrik belanja terus beli es krim, makan di pinggir jalan (literally pinggir jalan), mampir liat yg pada nonton wayang kulit (iya kita nggak nonton wayang kulitnya hahaha). Terus di hari yg beda kita motoran ke pantai (enggak, ini kita jalan pake motor 125cc hahaha), pake nyasar ke mana-mana gara-gara google maps sucks, dari excited sampe cape sampe excited lagi, sabar banget nungguin gue rempong bilas habis main air laut di pantai (ya namanya juga cewek ya, harap maklum perintilannya banyak), dan yg gue seneng lagi dia bisa ngambilin foto gue bagus-baguuuussss! Instagramable pokoknya laff~ Pulang dari pantai ngajak ke heritage site buat ngejar sunset, megangin tangan gue pake tangan kiri sementara tangan-kanan-masih-ngatur-gas-motor karena gue ngantuk di motor, sabar banget ngikutin gue jalan ke mana-mana karena I love history! Walaupun si heritage site ini nggak punya catatan sejarah yg jelas dan lengkap. Hvft.

Gue rindu. Gue rindu sama orang superbaik ini. Ketololan-ketololan yg terjadi terutama pas nyasar, sekarang jadi bahan tertawaan bareng and indeed a good memories. It’s just I have to accept the fact that fate separates us. Dia pindah makin ke timur, dan gue pindah makin ke barat. I believe we cared for each other, but long distance relationship is just not that easy to deal with… :”)

PS: gue nulis ini dengan radio cubicle sebelah muter HiVi – Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi dan membuat gue ingin berkata kasar. Hahahaha siyalan.

Jalan Kaki di Jakarta = Bunuh Diri?

​Sebelum lo melanjutkan baca tulisan gue yg-nggak-seberapa-penting-tapi-mudahmudahan-bermanfaat-dan-bisa-menggerakkan ini, gue mau kasih penegasan di awal.

Pertama, gue bukan warga DKI Jakarta. Secara KTP, gue masih tercatat sebagai penduduk Kota Semarang. Itupun KTP gue masih dalam bentuk Surat Keterangan Pengganti karena…yah kalau lo suka nonton TV atau baca detikcom pasti taulah ya ada apa dengan program KTP-el negara kita.

Kedua, gue cukup sadar diri untuk tidak menuntut macem-macem soal Jakarta karena…yah balik lagi KTP gue bukan DKI. Gue cuma WNI ber-KTP Semarang yg-blangkonya-entah-kapan-tersedia-lagi-dan-bikin-gue-jadi-susah-buat-bikin-rekening-Jenius-karena-yacobaajalodonlotsendiriaplikasinya.

Ketiga, ini nggak ada kaitannya sama sekali dengan pilgub DKI yg baru selesai. Ya gue bukan KTP DKI, milih juga engga, jadi ya nggak ada urusannya. Eh tapi ada ding, sedikit.

Keempat, it’s gonna be a long post so please prepare your eyes. And maybe some snacks or coffee.

Jadi, sebenarnya ini soal apa? Ya balik lagi aja ke judul postingan ini.

Jalanan Jakarta lagi acak-acakan, jelas. Nggak usah jauh-jauh, area domisili dan kantor gue juga lagi berantakan parah. Nggak percaya? Silakan coba untuk lewat Jl. Fatmawati, kemudian belok kanan ke Jl. TB. Simatupang sampai perempatan Lebak Bulus. Nah dari situ, coba liat kanan-kiri-depan-belakang. Atau coba menuju Lebak Bulus lewat Pondok Indah. Dijamin lo harus punya stok sabar mulai dari PIM sampai perempatan Lebak Bulus, apalagi kalau nyetir mobil atau naik TransJakarta. Buat yg naik motor mah mungkin masih bisa agak “lega” karena masih bisa nyelip-nyelip. Lalu, apa kabar pejalan kaki? Gue nggak tau kalau dari arah kantor gue sampai Bunderan Pondok Indah, tapi kalau dari depan kantor gue sampai perempatan Lebak Bulus, silakan liat foto di bawah.


Kantor gue berada persis di seberang Halte TransJakarta Pondok Indah I, dengan kondisi jalanan seperti ini, Halte TJ masih bisa pasang iklan layanan masyarakat mengenai himbauan untuk naik angkutan umum dan MEMBIASAKAN BERJALAN KAKI. What the f…… Astagfirulloh, sabar, Tik. Tapi beneran, rasanya itu TV di dalem halte pengen gue sambit sepatu. Dengan kondisi jalanan kanan-kiri halte ini yg “kayak gini”, kok ya nggak nyambung banget. Traffic pejalan kaki di area ini tuh cukup banyak. Dengan kondisi trotoar yg ditumpuk tanah dan bahkan dihilangkan demi pelebaran jalan buat memfasilitasi kendaraan bermotor, pejalan kaki kehilangan hak sama sekali. Gue sebagai pejalan kaki, berasa nganterin nyawa ke jalanan.

Gue punya banyak thoughts dan argumen soal ini. Tapi intinya mah sama aja, gue sangat nggak suka hak gue diambil dan bahkan dihilangkan seenaknya. Okeeelaaaahhhh ini demi jalanan yg lebih baik, atau “cuma sebentar kok kan selama pembangunan underpass doang”, tapi apakah ada jaminan bahwa ketika pembangunan underpass ini udah selesai di bulan Juli (janjinya mah Juli, teuing nanti kenyataannya gimana) hak kami, hak gue, sebagai pejalan kaki akan dikembalikan? Apakah si trotoar yg udah diilangin demi memfasilitasi motor dan mobil ini akan dibangun kembali? Apakah tanah-tanah merah ini nanti akan dikembalikan ke tempat asalnya dan trotoarnya kembali bersih & nyaman untuk dilewati?

Ini baru secuil DKI Jakarta. Baru Pondok Indah-Lebak Bulus. Apa kabar Fatmawati? Udah pernah coba jalan kaki di Fatmawati? Cobainlah sesekali. Di jalan ini malah nggak ada trotoarnya, terutama yg kena pembangunan MRT. Sepanjang Lebak Bulus apa kabar? Sama, nggak ada trotoarnya sama sekali. Apa kabar Mampang Prapatan? Apa kabar Wolter Monginsidi? Apa kabar Pancoran? Apakah sepanjang jalanan ini membentang motor-motor dan mobil-mobil ngalah kepada kami pejalan kaki? Silakan jawab sendiri.

Gue paling sengak dan nggak mau disalahin kalo gue lagi jalan kaki di Pondok Indah atau nyeberang di perempatan Lebak Bulus dan berdesakan dengan motor dan mobil. Pertama, mereka punya mata dan pasti cukup sadar bahwa gue nggak bisa jalan kaki dengan aman dan nyaman dengan kondisi trotoar kayak gitu dan dengan kondisi perempatan yg nggak ada zebra cross-nya. Kedua, ya coba aja tabrak gue, celakai gue, yg salah akan tetep elo kok, wahai pengendara kendaraan bermotor. Wek.

Oke, gue emang bukan warga ber-KTP DKI, tapi trotoar dan pejalan kaki mah bukan soal KTP, urusannya sama nyawa. Terus kalo ada pejalan kaki yg keserempet atau ketabrak dan ternyata KTP-nya bukan DKI terus mau dibiarin aja nggak ditolongin? Nggak dong? Gue yakinlah warga Jakarta nggak se-dingin hati itu.

Terus kaitannya sama pilgub DKI apa? Gue sebagai warga yg lagi numpang hidup di Jakarta tentu aja berharap untuk nggak kehilangan hidup di Jakarta dong (baca: mati). Apalagi mati konyol karena ditabrak kendaraan bermotor karena trotoar yg nggak memadai. Gue berharap, siapapun yg akhirnya memimpin daerah ini bisa punya sense dan care yg lebih soal fasum. Iya bener, jalanan juga fasum kok, tapi rasanya nggak adil kalau hanya kendaraan bermotor yg difasilitasi. Jakarta bukan cuma milik mereka yg sanggup bayar DP kendaraan bermotor bukan? (gue yakin, dari ribuan motor & mobil di Jakarta, paling nggak setengahnya masih dalam masa cicilan) Jakarta juga milik kami, baik yg ber-KTP DKI maupun engga, yg cuma sanggup bayar ongkos angkutan umum dan harus nyambung jalan kaki ke tujuan setelah turun dari halte atau stasiun terdekat.

Dengan lagi digalakkannya pembangunan transportasi massal di Jakarta, gue yakin seharusnya dibarengi dengan pembangunan trotoar yg lebih layak. Sudah seharusnya. Kenapa? Karena berapa persen sih dari kita yg turun di halte atau stasiun tanpa perlu menyambung sedikit lagi ke tujuan baik dengan berjalan kaki maupun dengan angkutan umum lainnya? Emang kita punya baling-baling bambu kayak Doraemon, kan enggak to.

Semoga Jakarta bisa jadi daerah yg juga nyaman dan ramah buat pejalan kaki. Lebih terutama lagi, aman buat pejalan kaki & pengguna transportasi umum.

PS: Maaf fotonya cuma dua. Jalan kaki tanpa megang ponsel aja udah butuh fokus & awas yg tinggi, apalagi megang ponsel. Kalau nggak percaya sama omongan gue, silakan datang & buktikan sendiri. Oh! Dan ini nggak berlaku utk business district macam SCBD dan Mega Kuningan. Kenapa? Yalopikirajasendiriya.

Sincerely,

Annskaa

Mengampuni

So I digged in to my folder in my office’s PC and found this draft I made on February.

………

Well, ini isu lama sih. Tentang gue naksir orang dan blablabla. Entah udah ada berapa orang yg gue taksir selama dua tahun belakangan gue jomblo. Mulai dari pengen mengistirahatkan hati dulu, push away beberapa laki-laki yg udah cukup berani untuk make a move duluan, interes sama sahabat sendiri yg (padahal) pacar orang, naksir duluan selama setaun eh tapi dia malah jadian sama orang lain yg (sialnya) ngga jauh beda sama gue (iya ini déjà vu, sama seperti bagaimana dulu mantan gue pergi ninggalin gue), sama-sama naksir dan cocok tapi ngga bisa jadian karena ngga mau LDR, ketemu pertama kali sama mantan cyber-love 6 taun yg lalu, dan yg terakhir cuma bisa naksir dan sepik-sepikan di group chat karena setiap private chat selalu berakhir dead chat dan sudah berlangsung empat bulan (pathetic, huh?).

And those all happened and happens and happening for two years and (almost) two months. Lama ya? Hahaha. Gue sampe wondering dan sampe pada tahap ragu dan nggak pede sama diri sendiri dan mempertanyakan “Apakah emang gue segitu nggak pantesnya ditaksir orang?”. Dengan segala perendahan diri sendiri, gue takut malah jadi ngancurin self-esteem gue sendiri yg udah susah payah gue bangun lagi setelah apa yg dilakukan mantan gue yg terakhir.

Gue ketemu sama satu orang temen yg baiiiiiiikkkkk banget. And I really love to hanging around her. Mungkin karena dia selalu penuh dengan positivity dan ketulusan, yha walaupun anaknya galaknya lebih-lebih dari gue. Hahaha. Karena dia lebih tua dari gue, lebih banyak pengalaman, and somehow she’s much more religious (fyi, she’s a Protestant), curhatlah gue ke dia. Tentang semua kegelisahan gue, kenapa gue ngerasa gini ngerasa gitu, apa yg terjadi dan gue alamin, dan kenapa gue ngerasa gue udah move on tapi masih kerasa ada yg ganjel.

Sampe akhirnya dia bilang, “Mungkin kamu belum mengampuni, Nis”. DHEG!! Well, that’s the answer I’ve been looking for the whole time. Gue belum mengampuni dan memaafkan. Apapun. Ya orangnya, ya apa yang terjadi.  Relationship with my last ex is one of a major cause in my life, yang percaya ngga percaya, gue sampe jadi berubah personality dari Feeling jadi Thinking. I was an ENFP before, then I am now an ENTP. Surprising, huh? How a moment in your life can change your whole life even your personality.

Setelah percakapan itu, gue dengan sepenuh hati dan sepenuh niat pengen banget maafin mantan gue. Karena gue pikir satu-satunya masalah gue adalah mantan gue. Setelah sekarang gue jauh lebih bisa tenang kalo bahas dia (which I think this is one kind of a sign if you forgive someone or not), gue masih ngerasa ada yg ganjel.

And now I’m figuring out that he’s not the only person and thing I should forgive.

Nggak banyak, tapi si laki-laki yg gue taksir sepenuh hati selama setaun tapi malah pacaran sama orang lain adalah salah satunya. I still cant get him out of my mind, and probably my heart. The person, the event, it made scars. Dan dengan sikapnya yg masih ngejadiin gue “cadangan”, kadang gue masih suka mikir dan berharap bahwa gue masih bisa dapetin dia lagi. Walaupun pada akhirnya, mau ngga mau akal sehat tetep harus jalan. Haha. But hey, I’m over him now. I have to find my own way, right? Ehe.

I wouldn’t tell about every guy I’ve ever met. Gila, itu mah bisa setebel novel Harry Potter. Haha.

Gue juga ngga ngerti sih kenapa pengen nulis dan post ini. Impulsif aja. Besides, gue ngga tau harus bisa cerita ke mana lagi cuma sekedar supaya lega tanpa perlu dapet feedback.

Karena seringkali kita cuma butuh didengerin… dan dibaca.

Feb. 11th 2017,

Annskaa

Disclaimer: I’m over them and ready for a new start! 😀

Waktu yang Terbang

​Time really flies.

I don’t know if it flies with an ordinary airplane engine or an extraordinary spaceship engine. Nggak kerasa aja hal-hal yg diingetin Facebook, Path, atau bahkan temen kurang kerjaan yg ngereply mention gue di Twitter 5 taun yg lalu, ternyata ya udah berlalu se-lama itu.

Gue nggak mainan Timehop. Toh tanpa Timehop pun Facebook udah cukup rajin buat munculin foto-foto lama yg gue upload atau gue di-tag bertahun-tahun lalu. Sometimes, it makes me smile. But another time, it makes me frown. Kadang kemunculan foto-foto lama ini bikin gue jadi mikir, merenung. Selain mengenai betapa banyak yg udah gue lalui, foto-foto ini juga soal betapa banyak orang-orang yg datang dan pergi di hidup gue, berapa banyak yg masih tinggal dan menjalin hubungan baik dengan gue, berapa banyak yg pergi atau gue tinggalkan atas berbagai alasan yg muncul, siapa saja orang-orang yg gue sayang dan gue rindukan atau sudah tidak lagi gue sayang tapi ternyata deep down inside gue rindukan. It’s possible, right? And it happens all the time, sadar nggak sadar.

Ngeliat hal-hal yg terjadi di masa lalu bikin gue yg overanalytical type mikir dan menebak-nebak apa yg akan terjadi sama gue di masa depan. Berdoa untuk yg baik-baik di masa depan mah pasti, tapi kegiatan ini selalu diikuti dengan refleksi dan pertanyaan ke diri sendiri, “Gue udah ngelakuin apa aja buat bisa ngeraih masa depan yg gue cita-citakan?”

Bahasan tentang cita-cita, impian, dan masa depan selalu jadi topik yg sensitif dan sedikit menyeramkan buat gue sejak Semester 5 bangku kuliah. Wondering if I could get my dream job or not, how to get my dream job which isn’t linear with my educational background, these questions are scaring me. The future is scaring me. Membayangkan dengan siapa laki-laki yg akan jadi teman gue menghabiskan waktu mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi, yg mukanya gue liat dia lagi dia lagi tiap hari, yg punggungnya gue liat pas sholat jamaah, lah kenapa gue jadi mellow romantis gini??! Hahahaha.

Yaaaa pokoknya mah ngga boleh berputus asa aja, Ann. Gue akhir-akhir ini lagi banyak banget diliatin dan diingetin untuk nggak berputus asa dari rahmat Allah. Maybe the universe wants to tell me something, hope it’s something good. Amin!

Ending and Closure

Kamu tau apa yang paling menyakitkan dari kehilangan dan ditinggalkan diam-diam?

Tidak sempat berpamitan.

Buat gue, ending dan closure adalah dua hal berbeda. Ending adalah sesuatu yg berakhir tapi belum tentu akhir, sedangkan closure adalah sesuatu yg berakhir dan akhir, selesai. Sesuai namanya aja, penutup. Mungkin inilah kenapa akhir sebuah film selalu disebut ending dan bukan closure. Atau orang Indonesia aja yg nyebut ending?

Gue pernah denger cerita dari Mas Aziz, penggerak Change.org Indonesia, tentang perayaan 10 tahun “kamisan” ibu-ibu yg anaknya hilang ketika transisi Orde Baru ke Reformasi, bulan lalu. He told us a story about how some of them don’t change any details about their sons’ bedrooms. Mas Aziz bilang bahwa daripada meninggal, anak-anak ini hilang itu jauh lebih menyakitkan karena mereka nggak punya kesempatan untuk menutup, untuk berpamitan.

I don’t know how their stories are gonna go. Apakah cukup menjadi sebuah ending, atau akhirnya mereka bisa mendapatkan sebuah closure. Yang gue yakin, ibu-ibu ini akan selalu berdoa dan berupaya agar mereka bisa mendapatkan closure mereka sendiri, agar mereka akhirnya tahu dan yakin bahwa sekarang anak-anaknya berada di tempat yg baik, dan bahwa pengorbanan mereka nggak sia-sia.

Perjuangan masih berlanjut, perjalanan masih panjang. I believe that after a closure, something new and better will come.

Tapi emang sih nggak bisa bohong, kadang-kadang ada beberapa hal yg harus direlakan untuk berakhir tanpa sebuah penutup dan tanpa sebuah akhir. It’s just hung and as the time goes by, it’s disappeared. Gone. Cuma bisa diikhlasin.

Sometimes, you just have to let it go.

Jan. 24th, 2017

Annska’s Journal

Jatah Mantan

​Yailah udah putus aja pake masih ada jatahnya. Emang selama pacaran masih kurang?

Hal yg sama yg gue pikirkan ketika temen gue melontarkan frase “jatah mantan” ini. Bedanya gue nggak langsung ngomong tapi cuma “hah??” sambil melongo dan mengernyit. Mungkin muka gue jelek banget deh saat itu. Hahaha. But who cares? Gini-gini juga kamu sayang kan. Deuh~

Theoretically speaking, jatah mantan ini sebanyak tiga kali…setelah putus. Jadi kayak lo masih boleh kontak sama mantan lo sebanyak tiga kali. Dan si tiga kali ini bisa lo pake buat apa aja. Buat ketemu, teleponan, chatting, atau mau ena-ena (lagi(?)) sekalipun. Theoretically speaking lagi, setelah jatah mantan ini abis, which is udah tiga kali ngapa-ngapain, lo akan jauh lebih lega dan yaudah. Kelar.

Mungkin si jatah mantan ini hadir sebagai fase transisi yang dilewatin setelah putus. Mungkin juga jatah mantan ini hadir sebagai sebuah closure dan penyelesaian seandainya selama pacaran masih ada yg belom tuntas. Mungkin juga jatah mantan ini sesederhana sebagai pembuktian bahwa keputusan untuk udahan sama mas/mbaknya itu benar, atau malah sebaliknya. Atau mungkin jatah mantan ini hadir sebagai sarana untuk mempersiapkan diri untuk move on.

Gue mikir keras sih waktu ngobrol soal ini. Soalnya gue nggak pernah ngerasain dan ngejalanin. Or maybe I unconsciously did it? Nggak tau juga. Gue sebenernya bukan tipe orang yg percaya sama teori-teori percintaan kecuali gue udah ngalamin sendiri dan ketika dihubungkan, eh kok nyambung. I’m not a fan of @hitmansystem or @lexdepraxis or @KeiSavourie on twitter. Iya ini gue malah promote mereka. Hahaha. But their theories and discussions was sooooo helpful when I went through my worst break up. Some theories were just coincidentally matched my case. Gue udah nggak pernah baca diskusi/tweet/artikel mereka lagi sih. Mungkin nanti kapan-kapan gue akan baca lagi. In case to find my future husband. #eaaa

Nah kalo lo sendiri, udah dipake belum jatah mantannya? Ya bae-bae aja asal terus nggak malah jadi baper dan makin larut sama perasaan dan ketidakrelaan menghadapi kenyataan bahwa hubungannya udah nggak bisa dilanjutin. Anggep aja jatah mantan ini juga sebagai fresh start that you and your ex still can be a friend or even a good friend. Who knows. :]

Warm hug for those hearts that broken,

Annskaa

PS: special credit for Mamang Sony who told me this theory 😀