Review

Archipelago Festival, Connecting The Dots in Music Industry

Judulnya sok-sokan Bahasa Inggris tapi gue nggak sangguplah nulis this whole article in English. Hahaha.

Archipelago Festival adalah acara yg ternyata berupa rangkaian bahkan dari sebelum tanggal 14-15 Oktober 2017 kemarin. Tapi buat pre-event, sepertinya memang tidak dipublikasikan sedemikian rupa dan gue nggak dateng juga. Gue dateng ke acara ini sebagai perwakilan dari ROI berkat pertemanan dengan Microgram Entertainment, sesama pejuang ranah kreatif di Bandung walaupun sekarang ROI lebih sering beredar di Jakarta karena gue yg masih rajin ngusahain (ceritanya sekalian curhat).

from @agungtoso ‘s instagram

Jadi, gue datang di tanggal 14 jam berapa ya? Jam 5 sore-an deh. Dan seperti biasa pula, gue sendirian di tengah orang-orang yg sebenarnya banyak yg tau muka tapi ya gitu aja, da gue mah suka malu buat nyapa duluan. Berasa nggak se-keren mereka aja. Hahaha. Gue dapet dua diskusi panel tentang Pop Indonesia dan Music and Activism. Habis Magrib mulailah band-band-an.

Acaranya sendiri di Soehanna Hall, The Energy Building, SCBD. Gue mah udah hapal banget tempat ini karena selama Limitless Campus sering banget ngadain di sini. Gue nggak nyangka ballroom yg biasa dipake talkshow dan kondangan ini ternyata bisa juga dipake buat konser asik. Karena badan gue nggak bisa bohong, gue cuma nonton Feast dan Anomalyst lalu pulang walaupun dikatain cemen oleh seorang kawan. Yeuw, ini aja ngetiknya udah sambil masuk angin. Hvft.

Tanggal 15 gue sampe Soehanna jam 3:30 pm, emang ngincer talkshow jam segitu sih, sayang bentrok. Tadinya mau ikut talkshow tentang Fans tapi akhirnya memutuskan untuk ikut Digital Presence dengan Andien dan Dipha Barus sebagai speakers. Masih di ruangan yg sama, lanjut lagi talkshow Indie Pioneers dengan Demajors, Fast Forward Records, dan Aksara Records sebagai speakers. Label-label keren yg band-band naungannya beredar di berbagai pensi sekolah kala itu, dengan “kala itu” adalah jaman gue SMP alias 2005-2008an. It was so good old days ‘til I refuse to move on :’)

The main point of this two days event adalah menghubungkan semua aspek yg punya peranan dalam industri musik tanah air. Sebenernya jadwal talkshow-nya ada yg soal merchandising, festival, venues, perempuan di industri, brands, dll dsb. Hanya saja gue nggak sanggup ngikutin semua talkshow karena ya gue nggak kuat aja sekarang mah seharian di “gigs”. Nonton berdiri sejam aja betis gue udah kenceng, duh monmaap.

Selain ngikutin talkshow dan nonton band-band-an, acara ini sebenarnya jadi ajang networking juga. Contoh, ya gue aja yg baru kenalan sama anak Microgram. Sebenernya beberapa udah kenal, bahkan ada yang (pernah) dekat, tapi Microgram kan nggak cuma segelintir orang. Seru aja ngeliat gimana orang-orang bersosialisasi, saling kenalan, walaupun gue sendiri belum banyak berani kenalan karena keburu keder. Giliran momennya butuh, introvert-nya malah keluar. Terus gue sendirian aja gitu ke sana kemari kayak orang bingung. Kelar Gaung manggung, gue pulang. Mending aing beberes kamar. Hahaha. Duh maap kasar ih si Annska mah sok kitu 😦

Lepas dari beberapa ketidaknyamanan yg terjadi, gue seneng banget memutuskan menyempatkan diri datang ke sini. Sebenarnya, ilmu dan pertemanannya yang berharga. Semoga jadi annual event ya!

Advertisements

Choices, Karena Hidup Emang Selalu Soal Pilihan

​Mau real life mau virtual life, semua pasti harus memilih. Pengambilan keputusan, risiko yang dipertimbangkan dan muncul, asas sebab-akibat, nggak di mana nggak di mana pasti akan ada.

Kali ini gue nggak mau bahas hal berat kok, justru gue mau bahas tentang game. Yeeaayyy! Pertama kali nih gue review ala-ala pake objek game. Game-nya enteng kok. I’ve never been a fan of rough game model DOTA atau Mobile Legend. Game gue cenderung ke RPG model The Sims, Harvest Moon (ugh! so good old days!), khas cewek kali ya. Akhirnya ada sesuatu yang menegaskan bahwa selera gue adalah selera perempuan. Hahaha.

Game ini namanya Choices. Bisa diunduh di Google Play atau App Store…kalo kalian mau main versi resmi dan sedikit kurang seru. Kalau mau main yg lebih seru, silakan googling pake keyword nama game ditambahin “mod”. Hahaha. Tapi Pixelberry terbaik kok!

Choices tuh kayak perpustakaan yg masing-masing bukunya kita yg atur jalan cerita dan ending-nya. Jadi di masing-masing buku kita bakal berperan jadi tokoh utamanya, ada yg cewek ada yg cowok, kebanyakan cewek sih. Meskipun begitu ada juga beberapa buku cerita yg kita harus ganti-ganti peran.


Di setiap chapter di masing-masing buku sebenernya udah ada grand plot-nya, tapi nanti akan ada beberapa section yg kita sebagai player diwajibkan untuk memilih reaksi. Sebagaimana asas sebab-akibat in real life, pilihan apapun yg kita ambil akan mempengaruhi feedback dari si tokoh lain an alur cerita di game itu. So be wise! Some choices are just so bad and rude that will give you a bad feedback. Beberapa scene ada yg jelas banget antara good and bad options-nya, tapi beberapa ada juga yg blurry. Tergantung kepekaan masing-masing yg main sih kali ya. Hahaha.

When you have to choose, there are two to three options. Buat beberapa scene santai, kamu bisa agak lama mikir dan nentuin pilihan. Sebaliknya, ada beberapa scene yg kita harus milih cepet karena dikasih waktu. Di sini, kemampuan skimming dan menyimak kita bener-bener diuji. Soalnya kadang statement-nya panjang! Kita belom selesai baca, waktunya udah habis. Kalau nggak sempet milih apa-apa, si tokoh yg kita mainin biasanya jadi cuma bengong gitu.


Beberapa minggu mainin game ini, sebenarnya gue pribadi malah ngerasanya kayak baca buku ya, baca novel, karena nggak semua reaksi bisa kita pilih dan secara garis besar ceritanya berjalan sesuai plot besar yg udah diatur. Big decisions di game ini mostly tentang romance sih, jadi kita dikasih kesempatan buat deket ke (biasanya) tiga orang, nah nanti endingnya milih deh mau jadian atau kawin sama siapa. Yg lucu dan agak contrary sama Indonesian people (plis baca ala abege gawl jaman now, plis *lol*), biasanya kita dikasih pilihan juga mau jadi straight atau engga jadi kita bisa eksplor sesuka-suka kita aja. Ya namanya game mah ya suka-suka aja ya khan~

Gue sih belom mainin semua buku soalnya banyak bangeeettt! Terus tiap main satu chapter harus pake satu key yg bisa kita dapetin setelah idle 2,5 jam. Agak lama yha nunggunya, but it’s worth the wait kok. Biar bisa fokus ngerjain yg lain juga kan nggak main game aja. Hehe.

Kalo udah penasaran banget, cus cari “Choices” di Google (Play) atau App Store!

​#ReviewAlaAla: La La Land, Some Says It’s a Mature Love

Ada yang belum nonton La La Land? Mumpung masih ada di bioskop, buruan deh sempetin buat nonton. Film ini bukan yang seru buat ditonton di layar kecil TV atau komputermu, Sayang.

Klise sih ceritanya, tentang cinta-cintaan. Ape lageeeeee. Bahasan abadi. Hahaha. Yang keren dari film ini adalah message dan value yang berusaha disampaikan. Tentang perjuangan, kesetiaan, harapan, optimisme, kerja keras, dan kompromi.

Intinya sih cerita antara dua orang, laki-laki dan perempuan, Sebastian dan Mia, yang ceritanya sama-sama seniman amatir. Sebastian sebagai pemain piano yang setia sama idealisme dan kecintaannya pada jazz “murni”, dan Mia sebagai barista coffee shop yang punya cita-cita untuk bisa jadi aktris. They found each other, fall in love, living together, and so on and so on. Dari awal film ini, lo udah dikasih impresi megah. Asli. Lagipula zaman sekarang jarang-jarang loh ada film musikal “yang bagus”. Just please don’t count High School Musical. Hahaha.

Film ini baper alert. Soalnya lo nggak mungkin terus nggak pengen punya pasangan kaya Seb atau Mia yang bisa sepenuh hati itu untuk saling mendukung satu sama lain. Pengorbanan dan kompromi yang diputuskan untuk dijalani, konflik-konfliknya. Ngaduk-ngaduk emosi banget sih. Keren abis kru-kru yg bikin film ini.

I wont tell you the whole story, or even worse, the ending.

Ending yg bikin gue nangis mulai dari rembes sampe tersedu-sedu yang tersengal-sengal karena berusaha untuk nggak ngeluarin suara. Filmnya kelar, lampu bioskop nyala, orang-orang jalan keluar lewat depan gue, gue masih ngontrol nafas dan suara sambil nutup mata pake tisu. Malu sih. Pfft.

Salah sih nonton film ini pas lagi period. Hormonnya lagi roller coasting, moodswing, sensitif, yah sudah, BHAY! Tapi gue menikmati banget sih film ini, walaupun awal-awal gue agak ngantuk karena ya biasalah orang desa kalo kena AC dan kursi empuk. Hahaha. Beberapa temen gue bilang film ini seru ditonton sama mantan sebagai bukti bahwa ya sayang tuh nggak harus bareng (most bullshit thing I’ve ever heard sih, tapi ya faktanya emang gitu, I’ve been through it :”D). Ada juga yang bilang bahwa film ini tuh representasi dari cinta yang dewasa, yg beneran tulus.

Tapi buat gue, film ini tuh ngajarin tentang gimana lo gigih untuk tetap pursue mimpi lo, cita-cita lo, walaupun lo harus berkompromi dengan ngejalanin apa yg ada dulu tanpa harus nyerah.

Nonton deh makanya buruan! Nanti lo akan tau dan punya opini sendiri tentang film ini sebenernya tentang apa 😀

Btw, Ryan Gosling-nya ganteng abis!!

Club80s’ 18th Mini Celebration

Jadi ternyata mereka nggak jauh beda sama Rocket Rockers.

Wahahaha. Opening yg absurd. Yeeeyyy! Pertama-tama saya ucapkan terima kasih dan selamat datang di Universitas Kehidupan tercinta. Kan kalo 18 tahun mah biasanya masuk kuliah kaann… *krik krik*

Oke.

Jadi Jumat (25/11) kemarin gue ke @america di Pacific Place, SCBD. Tau acara ini juga pokoknya taunya cuma Club80s manggung aja. Ternyata pas dateng barulah gue tau kalo ini tuh gig perayaan ulang tahun mereka yg ke-18. Dan mereka manggung full 90 menit bawain lagu-lagu banyaaaakkk banget dari jaman mereka masih DIY banget jaman dulu gue masih SD kali, sampe lagu hits mereka jaman gue SMP-SMA. Ya mereka emang setua itu sih. Tapi gue suka. Gimana dong? 😦

 

Gue ngga bisa cerita setlist-nya karena gue emang ngga tau lagu-lagu mereka kecuali Cinta dan Luka, Dari Hati, sama Gejolak Kawula Muda. Hahaha. Tapi terlepas dari itu, gue selalu menikmati ambience gigs apapun. Kecuali metal ya, gue agak ngeri kalo kejebak deket-deket yg pada moshing. Hehe.

Perayaan” ini sebenernya sederhana banget. Kalo udah pernah ke @america pasti tau venue-nya kaya apa. Asik banget sih, kita masuk tuh udah ad tempat penitipan tas gitu jadi kita ngga usah berat-berat bawa tas. Hp, kamera, masih boleh dibawa masuk. Makanan dan minuman yg ngga boleh. I understand why sih soalnya tempatnya emang neat banget. Banget! Parah. Gue aja kaget venue-nya seenak itu dan seintim itu. And the best part is, kita duduk! Alhamdulillaaaaahhhh. Gue bingung ngegambarinnya sih, tapi kaya tribun stadion gitu, cuma tempatnya kecil. Ya paling 1/15-nya stadion bola lah. Haha ngasal. Pokoknya intim deh. Enak.

Diselingin beberapa video dari rekan-rekan keluarga besar Club80s dan pergantian baju sebanyak tiga kali, Gejolak Kawula Muda jadi closure song. Tiup lilin, foto bareng audiens, foto-foto colongan, juga jadi closure things. Something I didn’t expect was when Cliff asked us, the audience, to eat with them at Uptomie and the payment was his.

Sayang gue ngga ikut ke Uptomie. Hiks. Yah mungkin lain waktu kali ya bisa ikut “afterparty”. Taun depan mungkin? Amin! Ditunggu album barunya ya, Mas Lembu, Mas Itonk, dan Om Cliff! #lah 😀

New Discovery: Kero Kero Bonito

​There’s funny things about my discovery on this band. I knew them for the first time from Gotix.

Gotix, layanan tiket punya Gojek, bukan Goyang Itix hey, wahai kalian pecinta dangdut. Hahaha. Jadi gue nemu band ini awalnya karena gue gabut, bosen, dan somehow pengen aja scrolling gotix, siapa tau lagi ada event asique yg bisa didatengin. Ketemulah info gigs si Kero Kero Bonito alias KKB ini. Awalnya gue ngga tau sama sekali itu band apaan, gue tertarik karena venue-nya deket kosan. Yes, di Rossi Musik Fatmawati. Selemparan kolor lah dari kosan mah. Hahaha.

Karena jadwalnya juga malem minggu (19/11) dan free entry (saat itu), yaudah gue book RSVP-nya. Habis booking, gue baru browsing si KKB teh apa gimana. Haha. Da gue mah terbuka sama apapun yg baru sih. Eh mereka ngga baru banget sih, gue yg baru tau. Oh! Satu lagi yg bikin gue tertarik karena si KKB ini datang ke Jakarta dalam rangka UK/ID Festival. Karena gue pecinta Inggris, yasudah makin kuatlah alasan yg-ngga-masuk-akal gue. Pfft.

Buka youtube, search KKB…ohmygod. Lucu banget! Parah sih si vokalis cewenya imut banget astagaaaaa! Hampir selalu pake ornamen glitter di area mata yg diaplikasikan dengan rapi jadi ngga keliatan kaya Kaecilius keracunan Dormammu di Dr. Strange. Dan yg paling eye-catching…rambutnyaaaaaaa!! OMG she has a blue hair! Cita-cita gue dari jaman jebot buat bisa ngecat rambut warna biru dari belum tren, jadi tren, sampe udah ngga tren lagi aja belom kesampean. Haha.

Tapi asli, lo harus liat si Sarah Midori Perry ini lucu banget. Besides, her “bodyguards” look so handsome, too! Jamie sama Gus namanya. Musiknya juga catchy. Kalo gue ngerasanya kaya J-Pop tapi masih ada british-nya gitu. Tapi coba denger sendiri aja deh. Gue ngga mau sok-sokan ngerti genre-genrean. Gue cuma pendengar dan penikmat. Hehe.

Long story short, things happened and my gotix RSVP had gone. Ilang sendiri aja gitu. Ternyata gigs Rossi Musik jadi berbayar dan harus RSVP ulang, sayangnya waktunya jadi bentrok sama gue mau ke Bandung jadi gue galau 😦 Untungnya masih ada 1 gig lagi Jumat-nya (18/11) di Goods Diner SCBD. Yg ini free entry, tapi sold out. Yaelah. Untungnya ada temen gue yg kerja di British Council dan kayanya sih jadi LO KKB selama di Jakarta. Nanya-nanya, ternyata yg di SCBD mah tinggal dateng aja kok, soalnya tiketnya pake first drink charge. Oke. (Padahal gue ngga ngerti ini sistem apa dan gue ngga pernah dateng ke tempat begituan)

Untungnya ada temen gue yg mau diculik buat ikut nonton. (Iya, gue lagi banyak beruntung) Pas masuk Goods Diner, gue jalan di depan temen gue dan si mbak-mbak GD-nya langsung nyamperin nanya buat berapa orang, mau open table atau blablabla bahasa khas bar atau tempat minum gitu kali ya. Gue ngga ngerti. Iya gue cupu 😐 Langsung gue panggil aja temen gue biar dia yg ngomong, temen gue yg ngerti begini-beginian mah. Wkwk. Untung gue sama dia, kalo sendiri mati berdiri gue keder.

Another long story short, kita masuk dan KKB naik panggung. Ya ngga panggung juga sih paling cuma 30-50 cm dari lantai. Sedih jadi susah keliatan. Mana audiens-nya pada tinggi-tinggi. Tapi asli, gue ngga expect gigs itu bakal se-crowded itu. Sayang mereka cuma manggung sejam. Kurang 😦

The only photo of them that I could take 😦

Tapi gue bahagia! Semoga mereka ngga kapok dan ke sini lagi suatu hari. Amin!

Another DIY from Atlas City, SAL Strikes with Their Newest Blackbolt!

Judulnya kaya yg iya banget gitu ya? Udah kaya VICE belom? #ehem Hahahaha.

Ehtapi beneran, SAL, former known as Something About Lola (atau masih?) baru banget ngeluarin MV alias music video baru. Kali ini pake lagu Blackbolt sebagai single kedua dari album Your Revolution. Ini album udah mau dua taun, mereka baru rilis single kedua. Yah namanya juga band-band-an :)) Engga deng, mereka band beneran tapi working class hero gitu kalo weekdays. Hahaha.

Masnya yg kanan to... *lol

Masnya yg kanan to… *lol

Jadi, kali ini gue mau (sok-sokan) bahas MV terbaru mereka.

Karena DIY, buat ukuran kota Semarang, SAL itu masih one step ahead lah. Ciegituuu. Walaupun sekarang sih ada band lain yg hits yg dulu sempet hijrah ke Bandung, tapi kayanya balik lagi deh. Namanya Good Morning Everyone. Ring a bell? Kita bahas lain kali. Heheh.

Gue ngga ngerti sih apa alasan mereka di dua MV terakhir, eh tiga deng sama cover-nya Jess Glyne yang Don’t Be So Hard On Yourself, selalu pake tone B/W alias item-putih. Apakah mereka merindukan masa-masa bikin pas foto jaman sekolah? Mungkin. Tapi kalo menurut gue pribadi sih mungkin ngeditnya lebih gampang karena ngga perlu banyak penyesuaian tone warna. Hahaha.. #sotoy

Karena kebetulan malem minggu kemaren gue di Semarang dan kebetulan mereka lagi ada gigs di salah satu SMA, yaudah gue dateng. Nonton dan ketemu. Ya kangen sih ngeliat mas-mas ganteng kesayangan. Uhuy! Hahaha.

Sampe venue, gue sempet kepikiran mau ngga beli tiket dan bilang aja bareng SAL. Lha iyak gue bareng mereka kok emang, cuma mereka sampe duluan nanti janjian :)) Tapi akhirnya gue beli tiket kok, sebagai fans dan audiens yg baik. Haha. Pret. Sempet susah tuh nyusulin ke backstage, untung ada Mas Mando-nya Sunday Sad Story lewat, bermodal sok kenal, kayaknya dia lupa sama gue. Pfft. Ya long story short akhirnya gue bisa masuk aja ke backstage.

Terus akhirnya gue kenalan sama manajer barunya. Sebenernya masnya ngga baru sih di lingkungan anak-anak SAL, gue tau namanya Mas Cilmen, tau mukanya tapi belom pernah kenalan secara ofisial. Yailah ofisial udah kek manajemen klub bola 😀 Padahal kemaren ya ngga kenalan ofisial juga, akhirnya ya sama-sama tau aja. #ehem

Ngobrol ngobrol ngobrol, Mas Cilmen nanya pendapat gue si MV baru cacatnya apa. Ya gue jawab aja, kalo menurut gue kurang bercerita. Tapi habis itu dicounter sama Mas Singgih, akhirnya dia ceritalah kenapa si MV itu bisa jadi seperti itu, konsepnya, alasannya dan blablabla. Oke, gue sih menerima. Kalo kata Mbak Tia yg-blognya-bisa-dibaca-di-sini, menurut dia footage landmark Semarangnya kurang lama. Penasaran kan ada footage landmark apa aja? Nonton dong makanya. Haha.

Yaudah sih, gini aja. Gue ngga niat bikin review juga sebenernya. Lebih ke apa ya? Announcement post kali ya? Hahaha. Kalo review, tungguin aja di ROI Radio. #promosi :))

Tonton Blackbolt mereka di sini!

MiFans Bogor 1st Anniversary; (Ceritanya) Kembali ke Alam

​Iya sih kita komunitas hempon. Iya sih kita kalo ketemu ngobrolinnya ngga jauh-jauh dari gadget. Entah hempon, powerbank, earphone, laptop, colokan, dan tetek bengek elektronik lainnya.

Tapi di dunia serba digital nan canggih gini, ngga ada salahnya dong kalo butek sama semua kecanggihan dan kemodernan? Apalagi rata-rata dari kami (kamii~ kek perkenalan boyband) adalah generasi transisi. Ngerasain hampir semua analog dan digital. Ngerasain jaman masih main gimbot sampe sekarang PS4. Ngerasain jaman beli nomor hempon masih 200k sampe sekarang cuma 2k. Ngerasain jaman motret masih pake film dan deg-degan nunggu liat hasilnya sampe sekarang dikit-dikit cekrek-syer (baca: share).

Menjawab kerinduan atas pemandangan hijau dan udara sejuk, akhirnya gue memutuskan untuk dateng ke acara ultah MiFans Bogor di Bukit Air Resto, Bogor, Sabtu (6/8) lalu. Padahal yah, lokasinya teh Bogor teuing di mana. Kata temen yg rumahnya di Ciomas sih deket dari rumah dia. Liat di aplikasi Grab juga ngga begitu mahal “cuma” 14k. 5-6km lah kalo dari Stasiun Bogor. Oke, atas nama silaturahim dan ngga enak udah lama ngga setor muka sama anak-anak MiFans pertama yg gue kenal, GAAASSSS!

Perjalanan menuju ke Bukit Air, gue cengar-cengir ngeliat kanan-kiri. Inget dulu jaman kuliah main ke tambak lele di Cilengkrang atas. Jalannya nanjak halus ngga kerasa, tau-tau dingin aja hawanya. Sampe keketawaan sama abang Grab gegara belom resleting jaket. Cieee…mesra bener sama abang Grab. Haha.

Untungnya, ngga begitu susah nyari lokasi si Bukit Air ini. Pertama, di Google Maps lokasinya tepat. Kedua, sepanjang jalan banyak petunjuknya harus ke mana-ke mana. Ya agak repot sih emang kalo ngga bawa kendaraan sendiri mah. Tapi, sampe sana saya langsung nyengir lebar. Tempatnya mirip-mirip Rumah Stroberi di Bandung. Ya Bandung coret juga sih gue lupa persisnya di mana.

Naik ke saung tempat udah pada ngumpul, OMG meriah ngets ngets! Dekorasinya lucu, banyak balon, ada meja kado, banyak gift, seru! Walaupun banyak muka-muka baru yg gue belom kenal tapi so far seru. Agenda awal ya biasa, perkenalan nama, device, ucapan buat MiFans Bogor. Terus foto-foto. Apalagi ya kan? Ya pokoknya mah foto-foto aja terus sampe akhirnya diajak ke lapangan bawah deket sawah dan kolam buat main lomba-lombaan. Karena bulan Agustus, lombanya khas Agustusan gitu. Tarik tambang sama bakiak. Gue menang lomba bakiak dong! Yeay! #shombong

Habis cape main panas-panasan, tibalah agenda utamanya…makaaaaannnnn! Keliatannya aja gitu ya makanannya dikit, padahal setelah dimakan, astaga sampe begah perut. Kayaknya bobot gue langsung naik 2kg habis itu 😥 Ngga deng, lebay. Haha. Makannya nasi timbel ayam goreng komplit pake lalapan, tahu tempe, sayur asem, sama es jeruk kelapa gitu. Ntap pokoknya ntap!

Perut udah penuh gitu aja, masih ada lomba makan kerupuk lagi! Ini gue ngga ikut padahal hadiahnya Mi Strip. Hvft. Biarkan jadi jatah yg cowo-cowo. Terus pembagian kado sama hadiah buat pemenang lomba. Gue dapet lebah dong, buat tatakan hempon gitu. Tapi terus ilang ngga kebawa pulang :”( And the most epic thing, lomba makan sayur asem (sisaan)! *lol* Maksudnya sisaan teh banyak temen-temen yg ngga dimakan sayur asemnya gitu, akhirnya dilombain dan hadiahnya Mi Strip. Terus masih ada lomba mecahin balon pake perut juga, jadi diapit dua orang gitu balonnya. Untung ini mah cowo-cowo. Hem.

Sorenya pas mau pulang, langitnya lucu deh. Langit senja gitu. Terus kita foto lagi, ngobrol sama yg ngelola (atau yg punya?) Bukit Air Resto, diceritain bisa kemah juga, bisa main becek-becekan di sawah juga, ada playground kecil buat bocah-bocah gitu perosotan sama ayunan. Dan sampe sore gini aja, semuanya masih on fire! Gila gila gila. Keren!

Overall, gue bahagia dan ngga nyesel memutuskan untuk jauh-jauh ke Bogor. Ya ada sih alasan lain juga yg gue ngga bisa cerita di sini. #ehem Semoga berlanjut sampe ke tahun-tahun berikutnya di mana semua anggota MiFans yg sekarang masih muda dan lajang sudah menikah dan punya anak yha! *smooch*