Thoughts

Jalan Kaki di Jakarta = Bunuh Diri?

​Sebelum lo melanjutkan baca tulisan gue yg-nggak-seberapa-penting-tapi-mudahmudahan-bermanfaat-dan-bisa-menggerakkan ini, gue mau kasih penegasan di awal.

Pertama, gue bukan warga DKI Jakarta. Secara KTP, gue masih tercatat sebagai penduduk Kota Semarang. Itupun KTP gue masih dalam bentuk Surat Keterangan Pengganti karena…yah kalau lo suka nonton TV atau baca detikcom pasti taulah ya ada apa dengan program KTP-el negara kita.

Kedua, gue cukup sadar diri untuk tidak menuntut macem-macem soal Jakarta karena…yah balik lagi KTP gue bukan DKI. Gue cuma WNI ber-KTP Semarang yg-blangkonya-entah-kapan-tersedia-lagi-dan-bikin-gue-jadi-susah-buat-bikin-rekening-Jenius-karena-yacobaajalodonlotsendiriaplikasinya.

Ketiga, ini nggak ada kaitannya sama sekali dengan pilgub DKI yg baru selesai. Ya gue bukan KTP DKI, milih juga engga, jadi ya nggak ada urusannya. Eh tapi ada ding, sedikit.

Keempat, it’s gonna be a long post so please prepare your eyes. And maybe some snacks or coffee.

Jadi, sebenarnya ini soal apa? Ya balik lagi aja ke judul postingan ini.

Jalanan Jakarta lagi acak-acakan, jelas. Nggak usah jauh-jauh, area domisili dan kantor gue juga lagi berantakan parah. Nggak percaya? Silakan coba untuk lewat Jl. Fatmawati, kemudian belok kanan ke Jl. TB. Simatupang sampai perempatan Lebak Bulus. Nah dari situ, coba liat kanan-kiri-depan-belakang. Atau coba menuju Lebak Bulus lewat Pondok Indah. Dijamin lo harus punya stok sabar mulai dari PIM sampai perempatan Lebak Bulus, apalagi kalau nyetir mobil atau naik TransJakarta. Buat yg naik motor mah mungkin masih bisa agak “lega” karena masih bisa nyelip-nyelip. Lalu, apa kabar pejalan kaki? Gue nggak tau kalau dari arah kantor gue sampai Bunderan Pondok Indah, tapi kalau dari depan kantor gue sampai perempatan Lebak Bulus, silakan liat foto di bawah.


Kantor gue berada persis di seberang Halte TransJakarta Pondok Indah I, dengan kondisi jalanan seperti ini, Halte TJ masih bisa pasang iklan layanan masyarakat mengenai himbauan untuk naik angkutan umum dan MEMBIASAKAN BERJALAN KAKI. What the f…… Astagfirulloh, sabar, Tik. Tapi beneran, rasanya itu TV di dalem halte pengen gue sambit sepatu. Dengan kondisi jalanan kanan-kiri halte ini yg “kayak gini”, kok ya nggak nyambung banget. Traffic pejalan kaki di area ini tuh cukup banyak. Dengan kondisi trotoar yg ditumpuk tanah dan bahkan dihilangkan demi pelebaran jalan buat memfasilitasi kendaraan bermotor, pejalan kaki kehilangan hak sama sekali. Gue sebagai pejalan kaki, berasa nganterin nyawa ke jalanan.

Gue punya banyak thoughts dan argumen soal ini. Tapi intinya mah sama aja, gue sangat nggak suka hak gue diambil dan bahkan dihilangkan seenaknya. Okeeelaaaahhhh ini demi jalanan yg lebih baik, atau “cuma sebentar kok kan selama pembangunan underpass doang”, tapi apakah ada jaminan bahwa ketika pembangunan underpass ini udah selesai di bulan Juli (janjinya mah Juli, teuing nanti kenyataannya gimana) hak kami, hak gue, sebagai pejalan kaki akan dikembalikan? Apakah si trotoar yg udah diilangin demi memfasilitasi motor dan mobil ini akan dibangun kembali? Apakah tanah-tanah merah ini nanti akan dikembalikan ke tempat asalnya dan trotoarnya kembali bersih & nyaman untuk dilewati?

Ini baru secuil DKI Jakarta. Baru Pondok Indah-Lebak Bulus. Apa kabar Fatmawati? Udah pernah coba jalan kaki di Fatmawati? Cobainlah sesekali. Di jalan ini malah nggak ada trotoarnya, terutama yg kena pembangunan MRT. Sepanjang Lebak Bulus apa kabar? Sama, nggak ada trotoarnya sama sekali. Apa kabar Mampang Prapatan? Apa kabar Wolter Monginsidi? Apa kabar Pancoran? Apakah sepanjang jalanan ini membentang motor-motor dan mobil-mobil ngalah kepada kami pejalan kaki? Silakan jawab sendiri.

Gue paling sengak dan nggak mau disalahin kalo gue lagi jalan kaki di Pondok Indah atau nyeberang di perempatan Lebak Bulus dan berdesakan dengan motor dan mobil. Pertama, mereka punya mata dan pasti cukup sadar bahwa gue nggak bisa jalan kaki dengan aman dan nyaman dengan kondisi trotoar kayak gitu dan dengan kondisi perempatan yg nggak ada zebra cross-nya. Kedua, ya coba aja tabrak gue, celakai gue, yg salah akan tetep elo kok, wahai pengendara kendaraan bermotor. Wek.

Oke, gue emang bukan warga ber-KTP DKI, tapi trotoar dan pejalan kaki mah bukan soal KTP, urusannya sama nyawa. Terus kalo ada pejalan kaki yg keserempet atau ketabrak dan ternyata KTP-nya bukan DKI terus mau dibiarin aja nggak ditolongin? Nggak dong? Gue yakinlah warga Jakarta nggak se-dingin hati itu.

Terus kaitannya sama pilgub DKI apa? Gue sebagai warga yg lagi numpang hidup di Jakarta tentu aja berharap untuk nggak kehilangan hidup di Jakarta dong (baca: mati). Apalagi mati konyol karena ditabrak kendaraan bermotor karena trotoar yg nggak memadai. Gue berharap, siapapun yg akhirnya memimpin daerah ini bisa punya sense dan care yg lebih soal fasum. Iya bener, jalanan juga fasum kok, tapi rasanya nggak adil kalau hanya kendaraan bermotor yg difasilitasi. Jakarta bukan cuma milik mereka yg sanggup bayar DP kendaraan bermotor bukan? (gue yakin, dari ribuan motor & mobil di Jakarta, paling nggak setengahnya masih dalam masa cicilan) Jakarta juga milik kami, baik yg ber-KTP DKI maupun engga, yg cuma sanggup bayar ongkos angkutan umum dan harus nyambung jalan kaki ke tujuan setelah turun dari halte atau stasiun terdekat.

Dengan lagi digalakkannya pembangunan transportasi massal di Jakarta, gue yakin seharusnya dibarengi dengan pembangunan trotoar yg lebih layak. Sudah seharusnya. Kenapa? Karena berapa persen sih dari kita yg turun di halte atau stasiun tanpa perlu menyambung sedikit lagi ke tujuan baik dengan berjalan kaki maupun dengan angkutan umum lainnya? Emang kita punya baling-baling bambu kayak Doraemon, kan enggak to.

Semoga Jakarta bisa jadi daerah yg juga nyaman dan ramah buat pejalan kaki. Lebih terutama lagi, aman buat pejalan kaki & pengguna transportasi umum.

PS: Maaf fotonya cuma dua. Jalan kaki tanpa megang ponsel aja udah butuh fokus & awas yg tinggi, apalagi megang ponsel. Kalau nggak percaya sama omongan gue, silakan datang & buktikan sendiri. Oh! Dan ini nggak berlaku utk business district macam SCBD dan Mega Kuningan. Kenapa? Yalopikirajasendiriya.

Sincerely,

Annskaa

Waktu yang Terbang

​Time really flies.

I don’t know if it flies with an ordinary airplane engine or an extraordinary spaceship engine. Nggak kerasa aja hal-hal yg diingetin Facebook, Path, atau bahkan temen kurang kerjaan yg ngereply mention gue di Twitter 5 taun yg lalu, ternyata ya udah berlalu se-lama itu.

Gue nggak mainan Timehop. Toh tanpa Timehop pun Facebook udah cukup rajin buat munculin foto-foto lama yg gue upload atau gue di-tag bertahun-tahun lalu. Sometimes, it makes me smile. But another time, it makes me frown. Kadang kemunculan foto-foto lama ini bikin gue jadi mikir, merenung. Selain mengenai betapa banyak yg udah gue lalui, foto-foto ini juga soal betapa banyak orang-orang yg datang dan pergi di hidup gue, berapa banyak yg masih tinggal dan menjalin hubungan baik dengan gue, berapa banyak yg pergi atau gue tinggalkan atas berbagai alasan yg muncul, siapa saja orang-orang yg gue sayang dan gue rindukan atau sudah tidak lagi gue sayang tapi ternyata deep down inside gue rindukan. It’s possible, right? And it happens all the time, sadar nggak sadar.

Ngeliat hal-hal yg terjadi di masa lalu bikin gue yg overanalytical type mikir dan menebak-nebak apa yg akan terjadi sama gue di masa depan. Berdoa untuk yg baik-baik di masa depan mah pasti, tapi kegiatan ini selalu diikuti dengan refleksi dan pertanyaan ke diri sendiri, “Gue udah ngelakuin apa aja buat bisa ngeraih masa depan yg gue cita-citakan?”

Bahasan tentang cita-cita, impian, dan masa depan selalu jadi topik yg sensitif dan sedikit menyeramkan buat gue sejak Semester 5 bangku kuliah. Wondering if I could get my dream job or not, how to get my dream job which isn’t linear with my educational background, these questions are scaring me. The future is scaring me. Membayangkan dengan siapa laki-laki yg akan jadi teman gue menghabiskan waktu mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi, yg mukanya gue liat dia lagi dia lagi tiap hari, yg punggungnya gue liat pas sholat jamaah, lah kenapa gue jadi mellow romantis gini??! Hahahaha.

Yaaaa pokoknya mah ngga boleh berputus asa aja, Ann. Gue akhir-akhir ini lagi banyak banget diliatin dan diingetin untuk nggak berputus asa dari rahmat Allah. Maybe the universe wants to tell me something, hope it’s something good. Amin!

Jatah Mantan

​Yailah udah putus aja pake masih ada jatahnya. Emang selama pacaran masih kurang?

Hal yg sama yg gue pikirkan ketika temen gue melontarkan frase “jatah mantan” ini. Bedanya gue nggak langsung ngomong tapi cuma “hah??” sambil melongo dan mengernyit. Mungkin muka gue jelek banget deh saat itu. Hahaha. But who cares? Gini-gini juga kamu sayang kan. Deuh~

Theoretically speaking, jatah mantan ini sebanyak tiga kali…setelah putus. Jadi kayak lo masih boleh kontak sama mantan lo sebanyak tiga kali. Dan si tiga kali ini bisa lo pake buat apa aja. Buat ketemu, teleponan, chatting, atau mau ena-ena (lagi(?)) sekalipun. Theoretically speaking lagi, setelah jatah mantan ini abis, which is udah tiga kali ngapa-ngapain, lo akan jauh lebih lega dan yaudah. Kelar.

Mungkin si jatah mantan ini hadir sebagai fase transisi yang dilewatin setelah putus. Mungkin juga jatah mantan ini hadir sebagai sebuah closure dan penyelesaian seandainya selama pacaran masih ada yg belom tuntas. Mungkin juga jatah mantan ini sesederhana sebagai pembuktian bahwa keputusan untuk udahan sama mas/mbaknya itu benar, atau malah sebaliknya. Atau mungkin jatah mantan ini hadir sebagai sarana untuk mempersiapkan diri untuk move on.

Gue mikir keras sih waktu ngobrol soal ini. Soalnya gue nggak pernah ngerasain dan ngejalanin. Or maybe I unconsciously did it? Nggak tau juga. Gue sebenernya bukan tipe orang yg percaya sama teori-teori percintaan kecuali gue udah ngalamin sendiri dan ketika dihubungkan, eh kok nyambung. I’m not a fan of @hitmansystem or @lexdepraxis or @KeiSavourie on twitter. Iya ini gue malah promote mereka. Hahaha. But their theories and discussions was sooooo helpful when I went through my worst break up. Some theories were just coincidentally matched my case. Gue udah nggak pernah baca diskusi/tweet/artikel mereka lagi sih. Mungkin nanti kapan-kapan gue akan baca lagi. In case to find my future husband. #eaaa

Nah kalo lo sendiri, udah dipake belum jatah mantannya? Ya bae-bae aja asal terus nggak malah jadi baper dan makin larut sama perasaan dan ketidakrelaan menghadapi kenyataan bahwa hubungannya udah nggak bisa dilanjutin. Anggep aja jatah mantan ini juga sebagai fresh start that you and your ex still can be a friend or even a good friend. Who knows. :]

Warm hug for those hearts that broken,

Annskaa

PS: special credit for Mamang Sony who told me this theory 😀

​#ReviewAlaAla: La La Land, Some Says It’s a Mature Love

Ada yang belum nonton La La Land? Mumpung masih ada di bioskop, buruan deh sempetin buat nonton. Film ini bukan yang seru buat ditonton di layar kecil TV atau komputermu, Sayang.

Klise sih ceritanya, tentang cinta-cintaan. Ape lageeeeee. Bahasan abadi. Hahaha. Yang keren dari film ini adalah message dan value yang berusaha disampaikan. Tentang perjuangan, kesetiaan, harapan, optimisme, kerja keras, dan kompromi.

Intinya sih cerita antara dua orang, laki-laki dan perempuan, Sebastian dan Mia, yang ceritanya sama-sama seniman amatir. Sebastian sebagai pemain piano yang setia sama idealisme dan kecintaannya pada jazz “murni”, dan Mia sebagai barista coffee shop yang punya cita-cita untuk bisa jadi aktris. They found each other, fall in love, living together, and so on and so on. Dari awal film ini, lo udah dikasih impresi megah. Asli. Lagipula zaman sekarang jarang-jarang loh ada film musikal “yang bagus”. Just please don’t count High School Musical. Hahaha.

Film ini baper alert. Soalnya lo nggak mungkin terus nggak pengen punya pasangan kaya Seb atau Mia yang bisa sepenuh hati itu untuk saling mendukung satu sama lain. Pengorbanan dan kompromi yang diputuskan untuk dijalani, konflik-konfliknya. Ngaduk-ngaduk emosi banget sih. Keren abis kru-kru yg bikin film ini.

I wont tell you the whole story, or even worse, the ending.

Ending yg bikin gue nangis mulai dari rembes sampe tersedu-sedu yang tersengal-sengal karena berusaha untuk nggak ngeluarin suara. Filmnya kelar, lampu bioskop nyala, orang-orang jalan keluar lewat depan gue, gue masih ngontrol nafas dan suara sambil nutup mata pake tisu. Malu sih. Pfft.

Salah sih nonton film ini pas lagi period. Hormonnya lagi roller coasting, moodswing, sensitif, yah sudah, BHAY! Tapi gue menikmati banget sih film ini, walaupun awal-awal gue agak ngantuk karena ya biasalah orang desa kalo kena AC dan kursi empuk. Hahaha. Beberapa temen gue bilang film ini seru ditonton sama mantan sebagai bukti bahwa ya sayang tuh nggak harus bareng (most bullshit thing I’ve ever heard sih, tapi ya faktanya emang gitu, I’ve been through it :”D). Ada juga yang bilang bahwa film ini tuh representasi dari cinta yang dewasa, yg beneran tulus.

Tapi buat gue, film ini tuh ngajarin tentang gimana lo gigih untuk tetap pursue mimpi lo, cita-cita lo, walaupun lo harus berkompromi dengan ngejalanin apa yg ada dulu tanpa harus nyerah.

Nonton deh makanya buruan! Nanti lo akan tau dan punya opini sendiri tentang film ini sebenernya tentang apa 😀

Btw, Ryan Gosling-nya ganteng abis!!

Refleksi 2016

Jadi, apa yang udah gue lewatin setaun terakhir?

Ini antara refleksi dan review sih. Haha. Intinya ngeliat aja apa yang udah gue lewatin, dan lewatkan, setaun terakhir.

Di-list? Deskripsi ajalah ya. Hahaha.

I am grateful because I got my three first jobs(?) in this 2016. Walaupun belum bisa dibanggain bangetlah ya, tapi gue pribadi sih seneng kok ngejalaninnya. Mudah-mudahan 2017 jadi tahun yang lebih baik dan ngasih gue lebih banyak kesempatan yang lebih baik. Aamiinn!

2016 jadi taun di mana gue mulai nyobain dan ngerasain hidup di Jakarta. Kesannya? Emm…well it’s gonna be a long story sih ya. Hahaha. Gue bukan orang yg nggak familiar dengan Jakarta, since my aunts live in Bogor and my ex-es (jiga nu loba hih!) was in Jakarta, ya gue sering aja main ke Jakarta. Tapi nggak pernah benar-benar tinggal lebih dari 2 malem. Hahaha. Gue ketemu sama temen-temen lama yang dulu susah banget buat ketemu karena gue di Semarang, Jatinangor, dan antah-berantah lainnya. Seneng banget bisa catch up sama mereka lagi. Terutama temen-temen yang dulu nonton Fall Out Boy bareng di 2013.

Other than that, gue ketemu banyak, BANYAK BANGET, temen-temen baru di komunitas Mifans. They taught me so so so much. Mulai soal gadget, hidup, lovelife (EHEM!), kerjaan, dll dsb. Taun pertama hidup gue di Jakarta bakal kerasa sepi dan kosong banget kalo gue nggak ketemu mereka. Terima kasih kalian! Gue sayang! Selain Mifans, gue ketemu juga sama temen-temen baru di Limitless Campus (cek di sini!). Orang-orang keren yang nggak pelit ngebagi ilmu dan pengetahuan dan pengalaman sesepele dan secuil apapun. Kewl!

2016 juga jadi taun di mana gue menggenapi kejombloan gue yang ke-dua tahun. Yeaayy! Gue strong! Padahal biasanya di tahun genap, gue punya pacar. Hahaha. Bukan berarti tanpa siapa-siapa sih. Justru taun ini gue banyak akrab dan deket sama cowok. Sayang ngga ada yang jadi :”D Nggak apa-apa. Gue juga kemarin masih sangat mempertanyakan kenapa gue enggan banget punya relationship sama cowok, kalo gue naksir duluan nggak pernah kesampean, kenapa gue sesulit itu untuk membiarkan cowok look deep into my-very-self, kenapa gue gini, kenapa gue gitu. Sampai gue dapet jawabannya. Mulai dari ditinggal (mau) nikah, dihadapkan pada cowok yg selalu ngatain gue galak tapi sendirinya nggak pernah cukup gentleman untuk maju duluan, tertarik sama “om-om”, kepikiran buat nyeriusin yang ketemu di Tinder (yes, sodara-sodara, Tinder), sampe ribet sama pacar orang. Rasanya gue udah kenyang ngalamin itu semua. Hahaha. Tapi sampe sekarang gue masih asik-asik aja kok. Ya mudah-mudahan 2017 gue ketemu jodoh. Aamiin!

2016 jadi taun kelima gue merantau jauh dari orang tua setelah 4 taun sebelumnya gue habiskan di Jatinangor. Dan…kayaknya sih gue udah sampe pada tahap jenuh dan lelah. Mulai capek dan males mikirin harus makan apa, berhadapan pada laper tengah malem tapi nggak ada makanan di kosan, pulang kantor masih harus struggling cari makan dan nggak bisa langsung istirahat, baju kotor ditumpuk seminggu, barang-barang makin beranak pinak sedangkan kamar nggak tambah gede, and else, and else, and else. *deep sigh* Rasanya taun depan gue pengen punya suami aja terus di rumah bantuin Ibuk. Hahaha.

Keliatannya menyenangkan ya? Keliatannya hidup gue baik-baik aja. Padahal mah…gue sempet ngalamin banyak titik krisis di hidup gue. Mulai gue lelah dianggep cowok (it’s true! some of my friends have never ever see me as a girl, unless I strip my clothes and bra, maybe), lelah dilihat sebagai orang yang “nggak boleh” manja, galak (i’ve told you), nggak butuh bantuan orang lain…dude! Really?! Gue juga mengambil beberapa keputusan besar taun ini. Semoga baik.

Well, kayanya itu aja sih 2016 gue. Oh! Highlight paling gong 2016 itu Desember ini sih. I re-connect with my ROI Radio crews and they have an office now! Soooo excited and can’t wait to visit and meet them again after about two years! Gyth is married with Pandu! And I fall for someone…who I can’t have…yet. Yaelah cerita lu gitu aja terus, Tik! Hahaha. Tapi gue bahagia kok. Dengan apa yg gue miliki saat ini, hari ini, I wouldn’t ask for an exchange even for a tiny bit.

happily ever after, you two!

happily ever after, you two!

Oh. And I gained 4 more kilos this year. Ntap.

Semoga cita-cita gue tercapai. Semoga 2017 lebih baik!

Happy Mother’s Day, Ibuk!

​Gue nggak pernah se-sentimentil ini soal Hari Ibu di taun-taun sebelumnya. Tapi entah kenapa, taun ini kerasanya beda.

Mungkin karena saat ini gue sudah dewasa, sudah dan sedang mencoba menjadi orang dewasa seutuhnya walaupun masih tetap dengan bantuan dan kasih sayang ibu dan ayah walaupun dari ratusan kilometer. Gue bahkan ngga sadar bahwa hari ini Hari Ibu sampe gue scroll instagram dan ngeliat banyak postingan temen-temen sama ibu masing-masing. Instead of posting a pic with Ibuk, gue malah post foto sama sahabat gue yg soon-to-be mom (padahal baru kawin Sabtu kemaren), Gita, in order to do #appreciationchallenge. Gue emang antimainstream. Hahaha.

Still, I found out that Path provides #kataibu featuring #pathdaily. Akhirnya gue post #kataibu dengan kalimat yg dulu Ibuk pernah bilang waktu gue putus sama Dimas, dan beberapa bulan lalu ketika gue mulai kepikiran soal kejombloan menahun. Hahaha lebay, padahal baru 2 taun lebih dikit. 


Dan gue ngetik sambil mbrebes mili. Pengen pulang. Pengen peluk Ibuk. Pengen cerita kalo gue udah memasuki usia kepikiran soal menikah, soal pasangan, soal hidup, soal gue mau jadi apa, soal gue akan bisa sukses dan cukup membanggakan mereka apa enggak, soal gue lelah tapi nggak berani, soal gue yang masih bingung dan “tersesat”.

Dua libur tambahan di dua pekan ke depan nggak bikin gue lantas bisa pulang ke rumah. Jakarta-Semarang itu transportasinya sesulit nyari ukuran sepatu hak tinggi buat kaki gue. Hahaha. Sebenernya banyak, tapi mahal. Gue udah ngabisin 1,7 juta buat PP di long weekend tgl 10-12 kemarin. Berat atuh kalo harus ngabisin segitu lagi buat 2x pulang lagi :”) (((akhirnya gue beneran curhat)))

Tapi gue percaya, someday, gue akan sampai di masa di mana beli tiket PP sebulan 5 juta pun ngga akan jadi masalah. Aamiinn!

Ibuk, Tika akan selalu butuh doa Ibuk di setiap langkah dan jalan dan pilihan hidup yang Tika ambil. Semoga ibuk-ayah sehat terus, dan bisa selalu nemenin Tika sampai Tika udah bener-bener siap buat dilepas ke orang lain, buat bisa mandiri, dan bisa jadi ibu sekuat dan setangguh Ibuk buat anak-anak Tika nanti. Maafkan kalau Tika sering ngelakuin kesalahan-kesalahan yang sengaja-nggak sengaja, sadar-nggak sadar, ngecewain Ibuk. Tika sayang Ibuk!

New Discovery: Kero Kero Bonito

​There’s funny things about my discovery on this band. I knew them for the first time from Gotix.

Gotix, layanan tiket punya Gojek, bukan Goyang Itix hey, wahai kalian pecinta dangdut. Hahaha. Jadi gue nemu band ini awalnya karena gue gabut, bosen, dan somehow pengen aja scrolling gotix, siapa tau lagi ada event asique yg bisa didatengin. Ketemulah info gigs si Kero Kero Bonito alias KKB ini. Awalnya gue ngga tau sama sekali itu band apaan, gue tertarik karena venue-nya deket kosan. Yes, di Rossi Musik Fatmawati. Selemparan kolor lah dari kosan mah. Hahaha.

Karena jadwalnya juga malem minggu (19/11) dan free entry (saat itu), yaudah gue book RSVP-nya. Habis booking, gue baru browsing si KKB teh apa gimana. Haha. Da gue mah terbuka sama apapun yg baru sih. Eh mereka ngga baru banget sih, gue yg baru tau. Oh! Satu lagi yg bikin gue tertarik karena si KKB ini datang ke Jakarta dalam rangka UK/ID Festival. Karena gue pecinta Inggris, yasudah makin kuatlah alasan yg-ngga-masuk-akal gue. Pfft.

Buka youtube, search KKB…ohmygod. Lucu banget! Parah sih si vokalis cewenya imut banget astagaaaaa! Hampir selalu pake ornamen glitter di area mata yg diaplikasikan dengan rapi jadi ngga keliatan kaya Kaecilius keracunan Dormammu di Dr. Strange. Dan yg paling eye-catching…rambutnyaaaaaaa!! OMG she has a blue hair! Cita-cita gue dari jaman jebot buat bisa ngecat rambut warna biru dari belum tren, jadi tren, sampe udah ngga tren lagi aja belom kesampean. Haha.

Tapi asli, lo harus liat si Sarah Midori Perry ini lucu banget. Besides, her “bodyguards” look so handsome, too! Jamie sama Gus namanya. Musiknya juga catchy. Kalo gue ngerasanya kaya J-Pop tapi masih ada british-nya gitu. Tapi coba denger sendiri aja deh. Gue ngga mau sok-sokan ngerti genre-genrean. Gue cuma pendengar dan penikmat. Hehe.

Long story short, things happened and my gotix RSVP had gone. Ilang sendiri aja gitu. Ternyata gigs Rossi Musik jadi berbayar dan harus RSVP ulang, sayangnya waktunya jadi bentrok sama gue mau ke Bandung jadi gue galau 😦 Untungnya masih ada 1 gig lagi Jumat-nya (18/11) di Goods Diner SCBD. Yg ini free entry, tapi sold out. Yaelah. Untungnya ada temen gue yg kerja di British Council dan kayanya sih jadi LO KKB selama di Jakarta. Nanya-nanya, ternyata yg di SCBD mah tinggal dateng aja kok, soalnya tiketnya pake first drink charge. Oke. (Padahal gue ngga ngerti ini sistem apa dan gue ngga pernah dateng ke tempat begituan)

Untungnya ada temen gue yg mau diculik buat ikut nonton. (Iya, gue lagi banyak beruntung) Pas masuk Goods Diner, gue jalan di depan temen gue dan si mbak-mbak GD-nya langsung nyamperin nanya buat berapa orang, mau open table atau blablabla bahasa khas bar atau tempat minum gitu kali ya. Gue ngga ngerti. Iya gue cupu 😐 Langsung gue panggil aja temen gue biar dia yg ngomong, temen gue yg ngerti begini-beginian mah. Wkwk. Untung gue sama dia, kalo sendiri mati berdiri gue keder.

Another long story short, kita masuk dan KKB naik panggung. Ya ngga panggung juga sih paling cuma 30-50 cm dari lantai. Sedih jadi susah keliatan. Mana audiens-nya pada tinggi-tinggi. Tapi asli, gue ngga expect gigs itu bakal se-crowded itu. Sayang mereka cuma manggung sejam. Kurang 😦

The only photo of them that I could take 😦

Tapi gue bahagia! Semoga mereka ngga kapok dan ke sini lagi suatu hari. Amin!