mati aja lu

Jalan Kaki di Jakarta = Bunuh Diri?

​Sebelum lo melanjutkan baca tulisan gue yg-nggak-seberapa-penting-tapi-mudahmudahan-bermanfaat-dan-bisa-menggerakkan ini, gue mau kasih penegasan di awal.

Pertama, gue bukan warga DKI Jakarta. Secara KTP, gue masih tercatat sebagai penduduk Kota Semarang. Itupun KTP gue masih dalam bentuk Surat Keterangan Pengganti karena…yah kalau lo suka nonton TV atau baca detikcom pasti taulah ya ada apa dengan program KTP-el negara kita.

Kedua, gue cukup sadar diri untuk tidak menuntut macem-macem soal Jakarta karena…yah balik lagi KTP gue bukan DKI. Gue cuma WNI ber-KTP Semarang yg-blangkonya-entah-kapan-tersedia-lagi-dan-bikin-gue-jadi-susah-buat-bikin-rekening-Jenius-karena-yacobaajalodonlotsendiriaplikasinya.

Ketiga, ini nggak ada kaitannya sama sekali dengan pilgub DKI yg baru selesai. Ya gue bukan KTP DKI, milih juga engga, jadi ya nggak ada urusannya. Eh tapi ada ding, sedikit.

Keempat, it’s gonna be a long post so please prepare your eyes. And maybe some snacks or coffee.

Jadi, sebenarnya ini soal apa? Ya balik lagi aja ke judul postingan ini.

Jalanan Jakarta lagi acak-acakan, jelas. Nggak usah jauh-jauh, area domisili dan kantor gue juga lagi berantakan parah. Nggak percaya? Silakan coba untuk lewat Jl. Fatmawati, kemudian belok kanan ke Jl. TB. Simatupang sampai perempatan Lebak Bulus. Nah dari situ, coba liat kanan-kiri-depan-belakang. Atau coba menuju Lebak Bulus lewat Pondok Indah. Dijamin lo harus punya stok sabar mulai dari PIM sampai perempatan Lebak Bulus, apalagi kalau nyetir mobil atau naik TransJakarta. Buat yg naik motor mah mungkin masih bisa agak “lega” karena masih bisa nyelip-nyelip. Lalu, apa kabar pejalan kaki? Gue nggak tau kalau dari arah kantor gue sampai Bunderan Pondok Indah, tapi kalau dari depan kantor gue sampai perempatan Lebak Bulus, silakan liat foto di bawah.


Kantor gue berada persis di seberang Halte TransJakarta Pondok Indah I, dengan kondisi jalanan seperti ini, Halte TJ masih bisa pasang iklan layanan masyarakat mengenai himbauan untuk naik angkutan umum dan MEMBIASAKAN BERJALAN KAKI. What the f…… Astagfirulloh, sabar, Tik. Tapi beneran, rasanya itu TV di dalem halte pengen gue sambit sepatu. Dengan kondisi jalanan kanan-kiri halte ini yg “kayak gini”, kok ya nggak nyambung banget. Traffic pejalan kaki di area ini tuh cukup banyak. Dengan kondisi trotoar yg ditumpuk tanah dan bahkan dihilangkan demi pelebaran jalan buat memfasilitasi kendaraan bermotor, pejalan kaki kehilangan hak sama sekali. Gue sebagai pejalan kaki, berasa nganterin nyawa ke jalanan.

Gue punya banyak thoughts dan argumen soal ini. Tapi intinya mah sama aja, gue sangat nggak suka hak gue diambil dan bahkan dihilangkan seenaknya. Okeeelaaaahhhh ini demi jalanan yg lebih baik, atau “cuma sebentar kok kan selama pembangunan underpass doang”, tapi apakah ada jaminan bahwa ketika pembangunan underpass ini udah selesai di bulan Juli (janjinya mah Juli, teuing nanti kenyataannya gimana) hak kami, hak gue, sebagai pejalan kaki akan dikembalikan? Apakah si trotoar yg udah diilangin demi memfasilitasi motor dan mobil ini akan dibangun kembali? Apakah tanah-tanah merah ini nanti akan dikembalikan ke tempat asalnya dan trotoarnya kembali bersih & nyaman untuk dilewati?

Ini baru secuil DKI Jakarta. Baru Pondok Indah-Lebak Bulus. Apa kabar Fatmawati? Udah pernah coba jalan kaki di Fatmawati? Cobainlah sesekali. Di jalan ini malah nggak ada trotoarnya, terutama yg kena pembangunan MRT. Sepanjang Lebak Bulus apa kabar? Sama, nggak ada trotoarnya sama sekali. Apa kabar Mampang Prapatan? Apa kabar Wolter Monginsidi? Apa kabar Pancoran? Apakah sepanjang jalanan ini membentang motor-motor dan mobil-mobil ngalah kepada kami pejalan kaki? Silakan jawab sendiri.

Gue paling sengak dan nggak mau disalahin kalo gue lagi jalan kaki di Pondok Indah atau nyeberang di perempatan Lebak Bulus dan berdesakan dengan motor dan mobil. Pertama, mereka punya mata dan pasti cukup sadar bahwa gue nggak bisa jalan kaki dengan aman dan nyaman dengan kondisi trotoar kayak gitu dan dengan kondisi perempatan yg nggak ada zebra cross-nya. Kedua, ya coba aja tabrak gue, celakai gue, yg salah akan tetep elo kok, wahai pengendara kendaraan bermotor. Wek.

Oke, gue emang bukan warga ber-KTP DKI, tapi trotoar dan pejalan kaki mah bukan soal KTP, urusannya sama nyawa. Terus kalo ada pejalan kaki yg keserempet atau ketabrak dan ternyata KTP-nya bukan DKI terus mau dibiarin aja nggak ditolongin? Nggak dong? Gue yakinlah warga Jakarta nggak se-dingin hati itu.

Terus kaitannya sama pilgub DKI apa? Gue sebagai warga yg lagi numpang hidup di Jakarta tentu aja berharap untuk nggak kehilangan hidup di Jakarta dong (baca: mati). Apalagi mati konyol karena ditabrak kendaraan bermotor karena trotoar yg nggak memadai. Gue berharap, siapapun yg akhirnya memimpin daerah ini bisa punya sense dan care yg lebih soal fasum. Iya bener, jalanan juga fasum kok, tapi rasanya nggak adil kalau hanya kendaraan bermotor yg difasilitasi. Jakarta bukan cuma milik mereka yg sanggup bayar DP kendaraan bermotor bukan? (gue yakin, dari ribuan motor & mobil di Jakarta, paling nggak setengahnya masih dalam masa cicilan) Jakarta juga milik kami, baik yg ber-KTP DKI maupun engga, yg cuma sanggup bayar ongkos angkutan umum dan harus nyambung jalan kaki ke tujuan setelah turun dari halte atau stasiun terdekat.

Dengan lagi digalakkannya pembangunan transportasi massal di Jakarta, gue yakin seharusnya dibarengi dengan pembangunan trotoar yg lebih layak. Sudah seharusnya. Kenapa? Karena berapa persen sih dari kita yg turun di halte atau stasiun tanpa perlu menyambung sedikit lagi ke tujuan baik dengan berjalan kaki maupun dengan angkutan umum lainnya? Emang kita punya baling-baling bambu kayak Doraemon, kan enggak to.

Semoga Jakarta bisa jadi daerah yg juga nyaman dan ramah buat pejalan kaki. Lebih terutama lagi, aman buat pejalan kaki & pengguna transportasi umum.

PS: Maaf fotonya cuma dua. Jalan kaki tanpa megang ponsel aja udah butuh fokus & awas yg tinggi, apalagi megang ponsel. Kalau nggak percaya sama omongan gue, silakan datang & buktikan sendiri. Oh! Dan ini nggak berlaku utk business district macam SCBD dan Mega Kuningan. Kenapa? Yalopikirajasendiriya.

Sincerely,

Annskaa

Advertisements