yaelah

Jatah Mantan

​Yailah udah putus aja pake masih ada jatahnya. Emang selama pacaran masih kurang?

Hal yg sama yg gue pikirkan ketika temen gue melontarkan frase “jatah mantan” ini. Bedanya gue nggak langsung ngomong tapi cuma “hah??” sambil melongo dan mengernyit. Mungkin muka gue jelek banget deh saat itu. Hahaha. But who cares? Gini-gini juga kamu sayang kan. Deuh~

Theoretically speaking, jatah mantan ini sebanyak tiga kali…setelah putus. Jadi kayak lo masih boleh kontak sama mantan lo sebanyak tiga kali. Dan si tiga kali ini bisa lo pake buat apa aja. Buat ketemu, teleponan, chatting, atau mau ena-ena (lagi(?)) sekalipun. Theoretically speaking lagi, setelah jatah mantan ini abis, which is udah tiga kali ngapa-ngapain, lo akan jauh lebih lega dan yaudah. Kelar.

Mungkin si jatah mantan ini hadir sebagai fase transisi yang dilewatin setelah putus. Mungkin juga jatah mantan ini hadir sebagai sebuah closure dan penyelesaian seandainya selama pacaran masih ada yg belom tuntas. Mungkin juga jatah mantan ini sesederhana sebagai pembuktian bahwa keputusan untuk udahan sama mas/mbaknya itu benar, atau malah sebaliknya. Atau mungkin jatah mantan ini hadir sebagai sarana untuk mempersiapkan diri untuk move on.

Gue mikir keras sih waktu ngobrol soal ini. Soalnya gue nggak pernah ngerasain dan ngejalanin. Or maybe I unconsciously did it? Nggak tau juga. Gue sebenernya bukan tipe orang yg percaya sama teori-teori percintaan kecuali gue udah ngalamin sendiri dan ketika dihubungkan, eh kok nyambung. I’m not a fan of @hitmansystem or @lexdepraxis or @KeiSavourie on twitter. Iya ini gue malah promote mereka. Hahaha. But their theories and discussions was sooooo helpful when I went through my worst break up. Some theories were just coincidentally matched my case. Gue udah nggak pernah baca diskusi/tweet/artikel mereka lagi sih. Mungkin nanti kapan-kapan gue akan baca lagi. In case to find my future husband. #eaaa

Nah kalo lo sendiri, udah dipake belum jatah mantannya? Ya bae-bae aja asal terus nggak malah jadi baper dan makin larut sama perasaan dan ketidakrelaan menghadapi kenyataan bahwa hubungannya udah nggak bisa dilanjutin. Anggep aja jatah mantan ini juga sebagai fresh start that you and your ex still can be a friend or even a good friend. Who knows. :]

Warm hug for those hearts that broken,

Annskaa

PS: special credit for Mamang Sony who told me this theory 😀

Advertisements

Mengampuni

Sebenernya gue masih punya utang satu tulisan tentang Awkarin.

Tapi kok kayaknya nyelesein ini duluan lebih seru ya? Hahaha. Yha mungkin karena ini soal perasaan kali yha. Yha. Perasaan aja terus. Hahaha. Ee ucing.

Ehem…mari kembali ke jalan dan pembahasan dan bahasa yg benar.

Well, ini isu lama sih. Tentang gue naksir orang dan blablabla. Entah udah ada berapa orang yg gue taksir selama dua tahun belakangan gue jomblo. Mulai dari pengen mengistirahatkan hati dulu, push away beberapa laki-laki yg udah cukup berani untuk make a move duluan, interes sama sahabat sendiri yg (padahal) pacar orang, naksir duluan selama setaun eh tapi dia malah jadian sama orang lain yg (sialnya) ngga jauh beda sama gue (iya ini déjà vu, sama seperti bagaimana dulu mantan gue pergi ninggalin gue), sama-sama naksir dan cocok tapi ngga bisa jadian karena ngga mau LDR, ketemu pertama kali sama mantan cyber-love 6 taun yg lalu, dan yg terakhir cuma bisa naksir dan sepik-sepikan di group chat karena setiap private chat selalu berakhir dead chat dan sudah berlangsung empat bulan (pathetic, huh?).

And those all happened and happens and happening for two years and (almost) two months. Lama ya? Hahaha. Gue sampe wondering dan sampe pada tahap ragu dan nggak pede sama diri sendiri dan mempertanyakan “Apakah emang gue segitu nggak pantesnya ditaksir orang?”. Dengan segala perendahan diri sendiri, gue takut malah jadi ngancurin self-esteem gue sendiri yg udah susah payah gue bangun lagi setelah apa yg dilakukan mantan gue yg terakhir.

Gue ketemu sama satu orang temen yg baiiiiiiikkkkk banget. And I really love to hanging around her. Mungkin karena dia selalu penuh dengan positivity dan ketulusan, yha walaupun anaknya galaknya lebih-lebih dari gue. Hahaha. Karena dia lebih tua dari gue, lebih banyak pengalaman, and somehow she’s much more religious (fyi, she’s a Protestant), curhatlah gue ke dia. Tentang semua kegelisahan gue, kenapa gue ngerasa gini ngerasa gitu, apa yg terjadi dan gue alamin, dan kenapa gue ngerasa gue udah move on tapi masih kerasa ada yg ganjel.

Sampe akhirnya dia bilang, “Mungkin kamu belum mengampuni, Nis”. DHEG!! Well, that’s the answer I’ve been looking for the whole time. Gue belum mengampuni dan memaafkan. Apapun. Ya orangnya, ya apa yang terjadi.  Relationship with my last ex is one of a major cause in my life, yang percaya ngga percaya, gue sampe jadi berubah personality dari Feeling jadi Thinking. I was an ENFP before, then I am now an ENTP. Surprising, huh? How a moment in your life can change your whole life even your personality.

Setelah percakapan itu, gue dengan sepenuh hati dan sepenuh niat pengen banget maafin mantan gue. Karena gue pikir satu-satunya masalah gue adalah mantan gue. Setelah sekarang gue jauh lebih bisa tenang kalo bahas dia (which I think this is one kind of a sign if you forgive someone or not), gue masih ngerasa ada yg ganjel.

And now I’m figuring out that he’s not the only person and thing I should forgive.

Nggak banyak, tapi si laki-laki yg gue taksir sepenuh hati selama setaun tapi malah pacaran sama orang lain adalah salah satunya. I still cant get him out of my mind, and probably my heart. The person, the event, it made scars. Dan dengan sikapnya yg masih ngejadiin gue “cadangan”, kadang gue masih suka mikir dan berharap bahwa gue masih bisa dapetin dia lagi. Walaupun pada akhirnya, mau ngga mau akal sehat tetep harus jalan. Haha.

I wouldn’t tell about every guy I’ve ever met. Gila, itu mah bisa setebel novel Harry Potter. Haha.

Gue juga ngga ngerti sih kenapa pengen nulis dan post ini. Impulsif aja. Besides, gue ngga tau harus bisa cerita ke mana lagi cuma sekedar supaya lega tanpa perlu dapet feedback.

Karena seringkali kita cuma butuh didengerin… dan dibaca.

Hahaha,

Annskaa

Beda tapi Butuh

Segitu susahnya orang sekarang menghadapi dan menyikapi perbedaan. Beda selera musik, ribut. Beda klub bola yg dibela, ribut. Beda sekolah, tawuran. Beda kelamin, putus. Eh…yg terakhir engga ding. Maksudnya beda pendapat, putus.

Why dont we just simplify our thoughts? Ya kalo emang beda yaudah gitu lho. Neither you nor I nor them r wrong. Apalagi kalo yg ngga diatur secara sah baik di UU ataupun agama. Yawis mbok ben. Emang asik kalo dunia sepenuhnya sama? Enggaklah.

Bayangin kalo semua orang sama dan CUMA jago di perbankan. Siapa yg mau ngajuin kredit buat bikin bisnis? Siapa yg mau provide gadget dan mobil kalian? Kalo semua orang sama dan CUMA jago IT. Lha yg mau ngurusin sales dan ngejualin apps & software-nya siapa? Yg mau ngurusin promosi dan pemasarannya siapa? Kalo semua orang kaya, yg jadi buruh buat ngelintingin rokok kalian siapa? Yg mau berlumur oli ngerakit mesin kendaraan kalian siapa?

Yoklah, sama-sama sadar kalo emang ngga bisa hidup dan jalan sendiri. Semua saling butuh, langsung-ngga langsung. Ngga ada yg namanya bidang yg “terbaik”. Semua orang punya keahlian dan ke”terbaik”annya sendiri. And we dont have any rights to judge that as right or wrong. Yg ada hanya it suits you or not. If it doesnt suit you, then it doesnt mean it’s wrong. It could be suit me, her, or him. Itu aja kok.

annskaa